Anthropic Tembus Valuasi US$965 Miliar, Melesat ke Nasdaq Duluan sebelum OpenAI
Valuasi Anthropic melonjak 2,5x jadi US$965 M dalam 105 hari, bersiap IPO Oktober 2026 — lebih cepat dari OpenAI. Apa artinya buat startup Indonesia?
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude, kini jadi startup AI paling bernilai di dunia dengan valuasi US$965 miliar (sekitar Rp15.700 triliun) usai putaran pendanaan Seri H senilai US$65 miliar akhir Mei 2026 — melonjak 2,5 kali lipat hanya 105 hari setelah putaran sebelumnya senilai US$380 miliar di Februari 2026.
Anthropic menargetkan melantai di bursa Nasdaq sekitar Oktober 2026 dengan kode saham yang diperkirakan ANTH (belum dikonfirmasi resmi oleh manajemen), mendahului OpenAI yang menunda rencana IPO-nya ke 2027 usai penampilan saham SpaceX yang jeblok pasca-listing jadi pelajaran mahal buat calon investor.
Bedanya bukan cuma soal siapa lebih besar, tapi siapa lebih sehat keuangannya: Anthropic diklaim sudah membukukan laba operasional sekitar US$559 juta pada kuartal II 2026, sementara OpenAI diperkirakan merugi hingga US$14 miliar sepanjang 2026 menurut estimasi bank HSBC.
Sejumlah analis pasar global — termasuk Bernstein dan Man Group — memperingatkan lonjakan valuasi seperti ini rawan gelembung, dipicu skema pendanaan berputar (circular financing, ketika perusahaan AI saling mendanai dan membeli produk satu sama lain sehingga pendapatan terlihat lebih besar dari kenyataan) antar-perusahaan AI raksasa.
Di Indonesia, rekor ini terjadi justru saat pendanaan startup nasional anjlok ke hanya US$340 juta sepanjang 2025 (6,3% dari total Asia Tenggara) dan antrean calon emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia menyusut jadi cuma satu perusahaan.
Melompat 2,5 Kali dalam 105 Hari
Coba bayangkan sebuah perusahaan yang nilainya naik dari Rp6.100 triliun jadi Rp15.700 triliun dalam waktu kurang dari empat bulan, tanpa akuisisi besar, tanpa produk baru yang revolusioner — cuma karena investor makin yakin dengan angka pertumbuhannya. Itu yang terjadi pada Anthropic. Pada 12 Februari 2026, perusahaan ini menutup Seri G senilai US$30 miliar dengan valuasi US$380 miliar, dipimpin GIC dan Coatue. Seratus lima hari kemudian, 28 Mei 2026, mereka menutup Seri H senilai US$65 miliar dengan valuasi US$965 miliar — dipimpin Altimeter Capital, Dragoneer, Greenoaks, dan Sequoia, dengan Capital Group, Coatue, D1 Capital, GIC, ICONIQ, dan XN ikut menyuntik dana.
Yang membuat lonjakan ini masuk akal buat investor, bukan sekadar euforia, adalah angka pendapatannya. Run-rate revenue Anthropic — proyeksi pendapatan setahun berdasarkan kecepatan penjualan bulan berjalan — menembus US$47 miliar pertengahan Mei 2026, meroket dari cuma US$1 miliar di Januari 2025. Pada kuartal II 2026, pendapatan aktualnya tercatat US$11,5 miliar dan untuk pertama kalinya laba operasional yang disesuaikan berbalik positif, sekitar US$559 juta. CFO Anthropic, Krishna Rao, menyebut Claude "semakin tak tergantikan bagi komunitas pelanggan global kami yang terus berkembang" — kalimat standar rilis pers, tapi didukung angka yang memang menunjukkan permintaan nyata dari sektor enterprise, bukan cuma pengguna gratisan.
Sebagian besar dana segar itu dikunci untuk kebutuhan komputasi, bukan disimpan di rekening bank. Anthropic meneken kesepakatan kapasitas hingga 5 gigawatt dengan Amazon, 5 gigawatt lagi chip TPU generasi baru dengan Google dan Broadcom, plus akses GPU di fasilitas Colossus milik SpaceX. Skala energi sebesar itu — setara kebutuhan listrik beberapa juta rumah tangga — jadi indikator seberapa besar taruhan yang sedang dipasang perusahaan ini untuk mempertahankan posisinya di puncak.
Kenapa Anthropic Lebih Dulu ke Nasdaq Ketimbang OpenAI
Di atas kertas, OpenAI masih terdengar lebih besar — nama ChatGPT lebih dikenal publik awam ketimbang Claude. Tapi soal siapa yang lebih dulu sanggup meyakinkan Wall Street untuk go public, Anthropic kini unggul jauh. Valuasi Seri H Anthropic (US$965 miliar) sudah melampaui valuasi privat terakhir OpenAI sebesar US$852 miliar dari putaran US$122 miliar Maret 2026 — bahkan di pasar sekunder (Forge Global, platform jual-beli saham perusahaan swasta sebelum IPO), saham Anthropic sempat diperdagangkan setara valuasi US$1 triliun, melampaui OpenAI yang saat itu di kisaran US$880 miliar.
Akar bedanya ada di model bisnis. Anthropic membangun basisnya dari kontrak enterprise dan API developer (Claude Code jadi salah satu andalan), segmen yang marginnya lebih terkontrol. OpenAI mengandalkan ChatGPT yang berbasis konsumen massal — trafik besar, tapi biaya komputasi per pengguna sulit ditutup dari langganan. Hasilnya kontras tajam: HSBC memperkirakan OpenAI merugi US$14 miliar sepanjang 2026, dengan akumulasi kerugian US$44 miliar dari 2023 sampai proyeksi 2028, meski pendapatannya lebih besar dari Anthropic di sepanjang 2025 (US$13 miliar versus di bawah itu).
OpenAI sebenarnya mengajukan pendaftaran IPO rahasia (confidential S-1) ke regulator pasar modal AS pada 8 Juni 2026 — hanya sepekan setelah Anthropic mengajukan hal serupa. Tapi rencana yang tadinya menyasar kuartal III atau IV 2026 mulai goyah ketika CEO Sam Altman dikabarkan ingin mematok harga di kisaran US$1 triliun, jauh di atas valuasi privat terakhirnya. Penasihat keuangan OpenAI dilaporkan gentar melihat nasib SpaceX, yang IPO-nya sukses menghimpun lebih dari US$85 miliar dengan valuasi US$1,77 triliun tapi harga sahamnya anjlok tak lama setelah listing. Pelajarannya: pasar publik tidak selalu mau membayar harga yang disepakati investor privat di ruang tertutup. OpenAI memilih mundur ke 2027 ketimbang mengulang cerita itu.
Anthropic sendiri belum resmi mengumumkan target harga IPO. Tapi menurut laporan Financial Times yang mengutip enam investor mereka, sejumlah kalangan memperkirakan valuasi bisa menembus US$2 triliun saat listing di Nasdaq Oktober nanti — lebih dari dua kali lipat valuasi Seri H, hanya dalam waktu sekitar lima bulan. Perlu digarisbawahi: itu ekspektasi investor, bukan target resmi dari manajemen Anthropic, dan bank penjamin emisi (Goldman Sachs, JPMorgan, Morgan Stanley) belum mematok harga final.
Retak di Balik Rekor
Di tengah euforia angka-angka ini, ada barisan analis yang justru makin waswas. Bernstein menyebut skenario gelembung sebagai "outcome yang paling mungkin" (likely outcome) dari lonjakan valuasi sektor AI saat ini. Man Group, dalam laporan kredit H2 2026, menulis bahwa arsitektur pendanaan industri AI "terlalu besar, terlalu bertumpu utang, dan terlalu bergantung pada segelintir pemain yang saling terkait" — mengacu pada pola di mana produsen chip mendanai startup AI, yang kemudian membelanjakan dana itu kembali untuk membeli chip dari produsen yang sama. Bank for International Settlements bahkan menempatkan potensi kolapsnya skema pendanaan berputar ini sebagai salah satu dari tiga risiko utama stabilitas keuangan global di laporan tahunan 2026 mereka, sejajar dengan risiko utang negara.
Kekhawatiran ini bukan cuma soal struktur pendanaan, tapi juga soal hasil nyata di lapangan. Berbagai survei perusahaan sepanjang 2025-2026 menemukan sekitar 95% proyek percontohan AI di level korporasi belum menghasilkan keuntungan finansial yang terukur. Ditambah lagi, biaya melatih model AI generasi berikutnya naik jauh lebih cepat dari peningkatan kualitasnya — sejumlah analis pasar menyebutnya perlu "5 kali lipat energi dan uang untuk membuat model 2 kali lebih baik". Anthropic memang tampil lebih efisien dibanding OpenAI saat ini, tapi ia tetap bagian dari ekosistem yang sama-sama bergantung pada belanja modal jor-joran para raksasa teknologi — dan ekosistem itulah yang dikhawatirkan para skeptis, bukan cuma satu perusahaan.
Dari Nasdaq ke Senayan: Efek Domino ke Startup Indonesia
Rekor Anthropic ini penting buat Indonesia bukan karena hubungan bisnis langsung, tapi karena efeknya ke cara investor menilai startup AI di mana pun — termasuk yang berkantor di Jakarta atau Bandung. Masalahnya, momentum ini datang di saat ekosistem startup domestik sedang dalam kondisi paling lemah dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang 2025, startup Indonesia hanya menyerap pendanaan US$340 miliar juta — koreksi, US$340 juta, sekitar Rp5,7 triliun — atau cuma 6,3% dari total pendanaan startup se-Asia Tenggara. Bandingkan dengan Singapura yang menyerap US$4,2 miliar (78,1% dari total kawasan) lewat 283 transaksi, sementara Indonesia hanya mencatat 66 transaksi. Padahal pada 2020, Indonesia pernah menguasai 70% dari seluruh modal ventura yang masuk ke Asia Tenggara. Tak ada satu pun startup Indonesia yang naik status jadi unicorn (valuasi di atas US$1 miliar) sejak 2024, sementara Singapura mencetak empat unicorn baru sepanjang 2025 saja.
Untuk startup AI secara spesifik, gambarannya juga timpang: dari lebih dari 680 startup AI aktif di Asia Tenggara sejak 2020, Indonesia baru punya 45, jauh di bawah Singapura yang sudah 495. Total pendanaan AI regional pada 2025 sekitar US$2,3 miliar — dan sebagian besar mengalir ke Singapura, bukan Indonesia.
Di sisi lain, jendela IPO teknologi di dalam negeri juga menyempit. Per 6 September 2026, OJK mencatat hanya tujuh perusahaan dalam pipeline IPO nasional dengan target dana Rp4,02 triliun — dan dari tujuh itu, cuma satu yang berasal dari sektor teknologi. Bandingkan dengan target dana IPO Anthropic yang saja diperkirakan di atas US$60 miliar (sekitar Rp976 triliun), lebih dari 240 kali lipat total target seluruh pipeline IPO Indonesia gabungan. Skala keduanya memang tidak sebanding — pasar modal AS jauh lebih dalam — tapi kesenjangan ini menjelaskan kenapa investor global lebih tertarik menaruh uang di raksasa AI ketimbang startup lokal yang belum terbukti profitabilitasnya.
Bukan berarti tak ada kabar baik. GoTo, satu-satunya raksasa teknologi Indonesia yang sudah melantai, justru menunjukkan pemulihan nyata: pada kuartal II 2026, GTV inti (nilai transaksi bruto di platform) tumbuh 83% dibanding periode sama tahun lalu jadi Rp164 triliun, pendapatan bersih naik 31% jadi Rp5,7 triliun, dan perusahaan mencetak laba bersih Rp170,7 miliar — kontras dengan Bukalapak (BUKA) dan Blibli (BELI) yang masih merugi karena beban operasional tinggi dan persaingan ketat. Ekonom Celios, Bhima Yudhistira, menilai ketidakpastian ekonomi membuat pemain startup makin sulit mencari pendanaan baru — sementara koleganya di Celios, Nailul Huda, tetap melihat peluang: adopsi AI yang merata berpotensi mendukung ratusan ribu lapangan kerja baru di Indonesia jika dikelola dengan benar, bukan sekadar jadi ajang pamer valuasi.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan tergoda memakai valuasi Anthropic sebagai patokan realistis untuk startup kamu sendiri — skalanya beda semesta, dan investor global kini jauh lebih ketat menyeleksi. Data dari AS menunjukkan startup yang terakhir dapat pendanaan di 2021 sudah kehilangan rata-rata 68% nilainya, yang di 2022 turun 52%; ratusan kehilangan status unicorn karena tak bisa membuktikan model bisnisnya menghasilkan uang. Kalau kamu mau membangun sesuatu berbasis AI, fokus ke masalah spesifik yang bisa menghasilkan pendapatan nyata dalam hitungan bulan, bukan janji pertumbuhan eksponensial yang baru terbukti bertahun-tahun kemudian. Due diligence investor sekarang, menurut para pelaku ekosistem lokal, sudah "sepuluh kali lebih ketat" dibanding beberapa tahun lalu — transparansi keuangan dan tata kelola bukan lagi opsional.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu memakai tools berbasis Claude atau kompetitornya, siapkan mental untuk kemungkinan penyesuaian harga pasca-IPO — perusahaan publik biasanya lebih tertekan menunjukkan margin sehat ke pemegang saham baru, dan itu bisa berarti kenaikan harga API atau paket enterprise. Saat ini paket Claude Pro di Indonesia masih sekitar Rp324.000 per bulan dan Team mulai US$30 per pengguna per bulan (minimum 5 pengguna) — harga yang relatif terjangkau untuk skala UMKM naik kelas, tapi tidak ada jaminan struktur ini bertahan setelah perusahaan menghadapi tekanan kuartalan dari analis pasar modal. Kalau kamu bergantung pada satu vendor AI untuk operasional inti, ada baiknya mulai eksplorasi opsi cadangan dari penyedia lain agar tidak terkunci saat harga berubah.
Untuk masyarakat luas
Gelombang investasi raksasa ke perusahaan seperti Anthropic mempercepat pengembangan otomatisasi yang ujungnya sampai juga ke perusahaan-perusahaan di Indonesia — mulai dari layanan pelanggan, penulisan konten, sampai analisis data dasar. Ini bukan alasan untuk panik, tapi alasan untuk aktif belajar memakai alat-alat ini sebagai penambah produktivitas, bukan menunggu sampai perusahaan tempat kamu bekerja memutuskan sendiri siapa yang tergantikan.
Yang Perlu Dipantau
Konfirmasi resmi IPO Anthropic: pengajuan S-1 publik, kode saham final, dan rentang harga penawaran — biasanya diumumkan 2-3 minggu sebelum listing, jadi kemungkinan besar akan terungkap pertengahan sampai akhir September 2026.
Reaksi harga saham Anthropic di hari-hari pertama listing — apakah mengikuti pola SpaceX yang anjlok pasca-euforia awal, atau bertahan di level tinggi. Ini akan jadi sinyal penting soal selera pasar publik terhadap valuasi AI jumbo.
Kelanjutan rencana IPO OpenAI ke 2027 — apakah mundur lagi atau justru dipercepat kembali kalau performa Anthropic di bursa positif.
Rilis data pipeline IPO OJK berikutnya (biasanya bulanan) — apakah jumlah calon emiten teknologi bertambah, terutama menjelang akhir tahun.
Laporan kinerja kuartal III 2026 GoTo dan startup publik lain di BEI — jadi tolok ukur apakah pemulihan sektor teknologi domestik berlanjut atau cuma sementara.
Penutup
Angka US$965 miliar itu mengesankan, tapi yang sebenarnya membedakan Anthropic dari gelembung dot-com generasi lalu adalah satu hal sederhana: mereka mulai menunjukkan bisa menghasilkan laba, bukan cuma janji pertumbuhan. Itu pelajaran yang jauh lebih berharga buat siapa pun yang membangun bisnis di Indonesia hari ini ketimbang sekadar mengagumi angka triliunan rupiah dari negeri jauh — karena pada akhirnya, investor di mana pun, cepat atau lambat, akan bertanya hal yang sama: bisnismu benar-benar menghasilkan uang, atau cuma pandai bercerita tentang masa depan?
Sumber
Anthropic — "Anthropic raises $65B Series H at $965B post-money valuation"
Anthropic — "Anthropic raises $30B Series G at $380B post-money valuation"
TechCrunch — "Following Anthropic, OpenAI files confidentially for IPO"
TechCrunch — "Anthropic raises $65 billion, nears $1T valuation ahead of IPO"
CNBC — "Anthropic tops OpenAI as most valuable AI startup, nears $1 trillion valuation"
Forbes — "OpenAI Considers Delaying IPO To 2027 After SpaceX's Rocky Debut"
SemiAnalysis — "Anthropic 3Q26 Profit Over $1B: The Anthropic IPO Financials Sneak Peek"
Forbes — "Anthropic And OpenAI Are Taking Opposite Paths To AI Profitability"
Man Group — "H2 2026 Credit Outlook: The AI Buildout – Boom or Bubble?"
Bernstein — "What Top PMs Think About an AI Bubble"
Katadata — "Nasib Startup RI: Investasi Tertinggal Jauh dari Singapura, Tanpa Unicorn Baru"
Business Lounge Journal — "Jebakan Valuasi Unicorn di Era AI"
Kontan Insight — "Jumlah IPO di Pipeline OJK Masih Ada Tujuh Perusahaan"
Kontan — "Saham Teknologi Masih Downtrend, Ini Rekomendasi untuk GOTO, BELI, dan BUKA"
Kompas Tekno — "Daftar Harga Paket AI Claude Anthropic di Indonesia per Juli 2026"