Lewati ke konten
blabak.

AS Gempur Pulau Larak, Minyak Meledak ke $95 — RAPBN 2027 Kalah Start Sebelum Diketok

Serangan AS ke Pulau Larak bikin Brent tembus $95, rupiah ambruk ke Rp17.744, dan tiga asumsi RAPBN 2027 sudah keok sebelum disahkan. Ini hitungannya.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • AS menyerang situs Garda Revolusi Iran (IRGC) termasuk Pulau Larak di Selat Hormuz pada 30–31 Agustus 2026, dibalas Iran dengan rudal dan drone ke dua pangkalan udara AS di Yordania — memecah jeda enam bulan sejak gencatan senjata Juni.

  • Brent melompat ke kisaran $95–96 per barel dan WTI ke sekitar $90, kenaikan harian terbesar sejak Juli — jauh di atas rata-rata 2024 yang cuma $80,52 per barel.

  • Rupiah ambruk ke Rp17.744 per dolar AS pada 1 September, sudah melampaui asumsi kurs RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 — padahal anggaran itu belum lagi diketok DPR.

  • Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% (dibanding periode sama tahun lalu), sudah di atas target inflasi RAPBN 2027 yang 2,5%, dan harga Pertamax Turbo serta Dexlite naik hingga 20% sejak 1 September.

  • RAPBN 2027 mematok asumsi harga minyak $75 per barel, tapi harga pasar sudah $95 sebelum tahun anggaran itu bahkan mulai — tiga asumsi utama (minyak, kurs, inflasi) sudah kalah start sekaligus.

Dari Pulau Kecil ke Pangkalan di Yordania

Selama hampir enam bulan, dunia sempat menghela napas. Sejak Operasi Epic Fury — serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 — memicu Iran memblokade Selat Hormuz dengan ancaman ranjau laut dan drone, ketegangan mereda lewat perjanjian damai sementara pada 17 Juni 2026. Kapal-kapal kembali berlayar, harga minyak turun, dan pejabat di Jakarta mulai bicara soal anggaran yang "aman".

Napas itu berhenti akhir Agustus. Pada Minggu, 30 Agustus 2026, militer AS menyerang peluncur roket IRGC di Pulau Larak — pulau kecil di mulut Selat Hormuz yang jadi titik pijak Iran untuk menyiapkan ranjau laut yang akan disebar ke jalur pelayaran. Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, melaporkan setidaknya dua orang tewas dan dua luka-luka. AS menyebut serangan itu perlu karena IRGC "menyiapkan peluncuran roket pembawa ranjau laut" ke Hormuz — jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Iran tidak diam. Dalam hitungan jam, rudal balistik dan drone Iran menghantam dua pangkalan udara AS di Yordania. Lalu pada 1 September, AS melancarkan gelombang serangan baru di sekitar Hormuz setelah menilai Iran gagal memenuhi ketentuan kesepakatan sementara untuk membuka penuh jalur pelayaran internasional. Presiden Trump mengancam akan melanjutkan operasi militer selama Iran tidak menyerah pada tuntutan itu. Ini bukan lagi soal blokade simbolis atau kapal yang dialihkan rute — ini serangan militer langsung, dibalas serangan militer langsung, di dua negara berbeda, dalam rentang kurang dari 48 jam.

Efeknya ke lalu lintas kapal terasa nyata: menurut data yang dikutip OilPrice, lalu lintas kapal komersial di Hormuz anjlok jadi sekitar lima kapal per hari saja. AS sendiri telah mengalihkan rute 83 kapal, melumpuhkan tiga, dan menaiki dua kapal lain per 30 Agustus — belum termasuk laporan satu tanker yang dihantam proyektil tak dikenal.

Kenapa Minyak Melompat Begitu Cepat — dan Seberapa "Tidak Normal" Ini

Pasar bereaksi cepat dan keras. Brent naik 3,2% ke $90,91 pada Minggu, lalu melompat lagi lebih dari $4 pada Selasa — kenaikan harian terbesar sejak Juli — menembus $94, dan pada Rabu sempat menyentuh $95–96 per barel, level tertinggi dalam hampir enam minggu. WTI mengikuti, naik 4,5% mendekati $90 sebelum dibuka di $90,72 pada 2 September.

Untuk mengerti seberapa ekstrem ini, kamu butuh baseline. Sepanjang 2024, rata-rata harga Brent cuma $80,52 per barel dan WTI $76,63. Proyeksi berbagai lembaga untuk 2025 malah lebih rendah lagi — EIA memperkirakan Brent di kisaran $66-74, JP Morgan sekitar $75 menurun ke $60-an di akhir tahun. Artinya, harga $95-96 sekarang bukan sekadar "naik" — ini 15-20% di atas rata-rata dua tahun terakhir, dan jauh melampaui semua skenario yang dipakai lembaga-lembaga itu untuk merencanakan 2025-2026.

Dampaknya sudah terasa sampai ke pompa bensin Amerika: sepanjang Agustus 2026, harga bensin rata-rata nasional AS berada di atas $4 per galon setiap hari — pertama kalinya dalam sejarah, menjadikannya Agustus termahal yang pernah tercatat. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut naik 5,8 basis poin ke 4,77%, dan ekspektasi inflasi bulanan AS naik ke 0,39% — kombinasi yang mempersulit Federal Reserve mengambil keputusan suku bunga, sekaligus mendorong uang investor global mencari tempat aman dan menjauh dari negara berkembang seperti Indonesia.

Rupiah, Pertamax, dan Inflasi: Getahnya Sudah Sampai Duluan

Sebagai importir minyak neto — status yang berbalik total dari era Indonesia jadi anggota OPEC dan eksportir minyak — Indonesia merasakan efek ini nyaris seketika, bukan menunggu berbulan-bulan.

Rupiah melemah 22 poin ke Rp17.744 per dolar AS pada 1 September, didorong langsung oleh lonjakan harga minyak dan eskalasi konflik. Harga BBM non-subsidi ikut menyesuaikan hari itu juga: Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 ke Rp19.600 per liter (+7,1%), dan Dexlite melompat dari Rp19.700 ke Rp23.700 per liter (+20,3%). BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar untuk sementara masih ditahan, sesuai janji Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik sampai akhir 2026 — tapi menahan harga di pompa bensin bukan berarti menahan bebannya; beban itu cuma dipindah ke APBN.

Inflasi tahunan Agustus 2026 sudah tercatat 3,19% — naik dari 2,88% di Juli — dengan kelompok transportasi menyumbang inflasi tahunan 4,79% dan kelompok makanan-minuman jadi penyumbang utama inflasi bulanan. Angka Agustus ini belum sepenuhnya menangkap efek serangan Larak yang baru terjadi di ujung bulan; artinya, kalau harga minyak bertahan tinggi, angka September berpotensi lebih buruk lagi.

Di neraca luar negeri, kerusakannya sudah kelihatan sejak kuartal II 2026: defisit transaksi berjalan (selisih antara uang yang masuk dan keluar dari transaksi Indonesia dengan luar negeri) melebar ke US$12,5 miliar atau 3,3% dari PDB — defisit terbesar yang pernah tercatat. Penyebab utamanya bukan misteri: impor minyak dan gas melonjak 82,52% dibanding periode sama tahun lalu pada April 2026 saja, mencapai sekitar US$4,6 miliar, sampai-sampai defisit migas Januari-April 2026 senilai US$8,5 miliar nyaris menghabiskan seluruh surplus dagang non-migas Indonesia. Cadangan devisa (simpanan dolar milik negara yang jadi bantalan kalau rupiah diserang) pun turun jadi US$145,3 miliar per Juli 2026, sebagian karena Bank Indonesia turun tangan menahan pelemahan rupiah.

RAPBN 2027 Kalah Start Tiga Kali Sekaligus

Di sinilah gambar besarnya jadi mengkhawatirkan, bukan cuma untuk 2026 yang sedang berjalan, tapi untuk anggaran tahun depan yang bahkan belum disahkan.

Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak Indonesia (ICP — harga rata-rata minyak mentah Indonesia yang jadi basis perhitungan subsidi) dipatok $70 per barel. Simulasi Celios menunjukkan setiap kenaikan $1 di atas asumsi itu menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Simulasi pemerintah sendiri lebih konkret lagi: kalau rata-rata harga minyak sepanjang tahun mencapai $90, defisit APBN melebar sekitar Rp136 triliun; kalau sampai $100, melebar Rp204 triliun. Bulan lalu saja harga sudah menyentuh $95-96 — di antara dua skenario terburuk itu, dan tahun anggarannya masih tersisa empat bulan lagi.

Sekarang lihat RAPBN 2027 — draf anggaran tahun depan yang baru disampaikan pemerintah ke DPR pada 14 Agustus 2026 dan belum diketok jadi undang-undang. Pemerintah menaikkan asumsi ICP jadi $75 per barel (dari $70 tahun ini), dengan sensitivitas yang sempat diusulkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bisa sampai $95. Masalahnya, harga pasar dunia sudah menyentuh ujung atas skenario sensitivitas itu — sebelum RUU-nya bahkan diketok, apalagi berlaku efektif Januari 2027.

Dan minyak bukan satu-satunya asumsi yang sudah kebobolan. RAPBN 2027 mematok kurs rupiah di Rp17.500 per dolar AS — tapi rupiah sudah melemah ke Rp17.744 pada 1 September, sekitar dua pekan setelah asumsi itu disepakati. Target inflasi RAPBN 2027 juga dipatok rendah, 2,5%, padahal inflasi aktual Agustus 2026 saja sudah 3,19%. Tiga pilar utama asumsi makro — harga minyak, kurs, dan inflasi — sudah kalah start bersamaan, dan ini terjadi sebelum tahun anggarannya bahkan mulai berjalan.

Ada satu detail yang terlihat kontradiktif kalau dibaca sepotong: kuota BBM bersubsidi 2027 justru dipangkas drastis, dari 48,43 juta kiloliter tahun ini jadi cuma 20,09 juta kiloliter — turun 58,5%. Tapi anggaran subsidi energi malah naik jadi Rp272,9 triliun, sekitar 20% lebih tinggi dari tahun ini. Bukan kontradiksi — dua hal ini justru saling menjelaskan. Pemerintah memangkas jumlah liter yang ditanggung negara (lewat skema subsidi "tepat sasaran" dan dorongan ke kendaraan listrik), tapi setiap liter yang tersisa dalam kuota itu jadi jauh lebih mahal untuk disubsidi kalau harga minyak dunia tetap di kisaran $90 ke atas. Kuotanya menyusut, tapi tagihan per liternya membengkak — dan hasil bersihnya tetap anggaran yang lebih besar.

Bukan Berarti Panik: Kenapa Sebagian Ekonom Tetap Skeptis

Sebelum kamu membayangkan minyak $100 sebagai kepastian, ada alasan untuk menahan diri. Analis mencatat bahwa selloff harga minyak belakangan ini mungkin sudah "melampaui realita" kondisi pasar fisik — sebutan untuk situasi di mana harga naik lebih cepat dari kerusakan pasokan yang benar-benar terjadi. Lima kapal per hari yang masih melintasi Hormuz memang jauh di bawah kondisi normal, tapi itu tetap bukan nol — jalur itu belum benar-benar tertutup.

Preseden Juni 2026 jadi pengingat penting soal betapa rapuhnya harga setinggi ini. Ketika Trump menyetujui proposal gencatan senjata dua pekan dari Iran waktu itu, Brent langsung anjlok 13,3% dan WTI 15,2% dalam satu hari perdagangan. Artinya, sebagian besar dari angka $95 sekarang adalah premi risiko (risk premium — harga tambahan yang dibayar pasar karena takut sesuatu buruk terjadi, bukan karena pasokan benar-benar sudah hilang), bukan harga yang mencerminkan kelangkaan pasokan riil. Analis Saul Kavonic dari MST Marquee tetap memperingatkan risiko ke Hormuz akan bertahan tinggi ke depan — tapi "tinggi" dan "pasti terus naik" adalah dua hal berbeda.

Ironisnya, Menteri Keuangan Purbaya sendiri sempat memprediksi awal tahun ini bahwa ketegangan AS-Iran akan mereda sekitar September 2026, dengan alasan waktunya berdekatan dengan pemilu AS November 2026. Prediksi itu jadi bukti betapa sulitnya menebak arah konflik ini — dan betapa berbahayanya menyusun asumsi APBN berdasarkan harapan de-eskalasi yang belum tentu terjadi.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan menunda rencana usaha hanya karena headline perang, tapi hitung ulang asumsi biaya kalau bisnismu bergantung pada BBM, listrik, atau bahan baku impor — logistik, F&B dengan bahan impor, atau jasa transportasi termasuk yang paling rentan. Kalau modal awalmu mepet, prioritaskan model bisnis yang biaya energinya kecil dulu (jasa, digital, retail lokal) sebelum masuk ke sektor padat energi saat harga masih bergejolak seperti ini. Ini bukan alasan untuk berhenti, tapi alasan untuk lebih realistis soal margin di enam bulan pertama.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau kamu di manufaktur, transportasi, atau agro, saatnya re-hedging biaya bahan bakar (mengunci harga di kontrak jangka pendek supaya tidak kaget kalau harga naik lagi) daripada menunggu harga "kembali normal" — preseden Juni menunjukkan harga bisa jatuh cepat, tapi juga bisa naik lagi secepat itu kalau eskalasi berlanjut. Cek juga kontrak dengan pemasok yang harganya terikat dolar; pelemahan rupiah ke Rp17.700-an membuat komponen impor makin mahal meski harga dolarnya sendiri tidak berubah. Kalau kamu menjual barang dengan margin tipis, ini saatnya menghitung ulang apakah kenaikan harga jual perlu dilakukan bertahap sekarang daripada terpaksa naik drastis nanti.

Dampak yang lebih luas ke masyarakat

Buat semua orang yang bukan pemilik usaha maupun sedang tidak berencana usaha, efeknya tetap sampai lewat harga di rak: BBM non-subsidi sudah naik, dan kalau inflasi terus merangkak seperti pola Agustus, daya beli riil (nilai uangmu setelah dikurangi efek kenaikan harga) akan tergerus meski gaji nominal tidak berubah. Sektor yang bergantung pada energi impor — termasuk banyak perusahaan manufaktur — juga cenderung menahan kenaikan gaji tahun ini sambil menunggu kepastian arah biaya produksi.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis inflasi September 2026 dari BPS (biasanya awal Oktober) — indikator apakah efek serangan Larak sudah masuk penuh ke harga konsumen.

  • Pengesahan UU APBN 2027 oleh DPR, yang biasanya terjadi akhir September atau awal Oktober — perhatikan apakah asumsi ICP, kurs, dan inflasi direvisi menjelang pengesahan.

  • Data cadangan devisa Bank Indonesia yang dirilis awal tiap bulan — penurunan lanjutan berarti BI semakin agresif menahan rupiah.

  • Sinyal negosiasi ulang AS-Iran — sejarah Juni 2026 menunjukkan tanda gencatan senjata bisa menjatuhkan harga minyak dua digit persen dalam satu hari.

  • Realisasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz — angka lima kapal per hari saat ini jadi patokan; kenaikan berarti tekanan mereda, penurunan lebih jauh berarti sebaliknya.

Penutup

Yang membuat babak eskalasi ini beda dari yang sebelum-sebelumnya bukan cuma karena serangannya lebih langsung dan lebih cepat dibalas — tapi karena Indonesia menghadapinya dengan anggaran yang belum sempat dikunci pun sudah ketinggalan zaman. RAPBN 2027 disusun dengan asumsi bahwa dunia akan sedikit lebih tenang dari kenyataannya sekarang, dan kenyataan sudah membuktikan sebaliknya sebelum tinta persetujuannya kering. Sikap yang paling masuk akal bukan panik menimbun BBM atau dolar, tapi berhenti menganggap angka-angka di RAPBN sebagai kepastian — dan mulai menyusun rencana keuanganmu sendiri dengan skenario yang lebih kasar daripada yang dipakai pemerintah.

Sumber

  • Fortune — "Gas prices, oil surge as US-Iran strikes hit Strait of Hormuz"

  • CNBC — "US-Iran war escalation, Fed rate, G20, Bessent"

  • OilPrice.com — "Oil Prices Surge as U.S. and Iran Exchange Strikes"

  • OilPrice.com — "Brent Oil Price Tops $93 as U.S.-Iran Impasse Persists"

  • Yahoo Finance — "US strikes on Iran push Brent oil toward $95 per barrel"

  • Kompas — "AS Serang Pulau Larak, Klaim Cegah Iran Tebar Ranjau Laut"

  • Antara News — "Iran: sejumlah orang tewas, terluka dalam serangan AS di Pulau Larak"

  • CNN Indonesia — "Apa Itu Pulau Larak Iran dan Kenapa Jadi Target Serangan AS?"

  • Media Indonesia — "Rupiah Hari Ini 1 September 2026 Melemah ke Rp17.744 imbas Konflik AS-Iran"

  • Bisnis Indonesia — "Celios Ungkap Dampak Perang AS-Israel vs Iran ke Ekonomi RI"

  • Indonesia Investments — "Indonesia's Current Account Deficit Widens to $12.5 Billion in Q2 2026"

  • Badan Pusat Statistik (BPS) — "Inflasi Year-on-Year Agustus 2026 Sebesar 3,19 Persen"

  • CNBC Indonesia — "Lengkap! Asumsi Makro RAPBN 2027: Ekonomi 6%, Kurs Rp17.500/US$"

  • Sindonews — "RAPBN 2027: Subsidi Energi Naik Jadi Rp272,9 Triliun, ICP Diasumsikan USD75 per Barel"

  • Kompas — "Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Naik Mulai 1 September 2026"

  • CNBC Indonesia — "Purbaya Jamin Subsidi BBM Tak Jebol di 2026 Meski Ada Perang Iran"