BI Tahan Suku Bunga 5,75% di RDG Perdana Destry Damayanti, Rupiah Masih Tertekan ke Rp17.900
BI tahan BI Rate 5,75% pada 23 September, sesuai prediksi mayoritas ekonom. Rupiah tetap tertekan Fed dan harga minyak — ini dampaknya ke KPR-mu.
Daftar isi11 bagian
Ringkasan Cepat
Bank Indonesia resmi menahan BI Rate di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan Rabu, 23 September 2026 — sesuai prediksi 12 dari 14 ekonom, bukan kejutan pasar.
Ini RDG pertama yang dipimpin Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif (dilantik 2 September 2026, perempuan pertama yang memimpin bank sentral RI), dan dia memilih jalan paling aman: tidak mengubah apa pun.
Rupiah tetap bertengger di kisaran Rp17.880–17.930 per dolar AS — sudah melemah 6,8% sepanjang tahun berjalan dan jauh di luar target pemerintah Rp16.800–17.500.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus: The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75–4% (pertama sejak 2023) karena inflasi AS dipicu harga minyak, sementara konflik di Timur Tengah terus mengganggu Selat Hormuz — jalur lewatnya seperlima pasokan minyak dunia.
Buat kamu yang punya cicilan KPR floating: kabar baiknya, bunga tidak naik dulu. Tapi jangan buru-buru lega — beberapa ekonom, termasuk riset LPEM UI, bilang kenaikan masih jadi opsi terbuka di kuartal terakhir tahun ini.
Keputusan yang Sengaja Tidak Mengejutkan
Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility (bunga simpanan bank di BI) tetap 4,75% dan Lending Facility (bunga pinjaman darurat BI ke bank) di 6,50%. Ini keputusan keempat berturut-turut untuk menahan level yang sama, setelah BI menaikkan bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin (1 persen) dari 4,75% ke 5,75% dalam siklus pengetatan Mei–Juni 2026. Sejak itu, BI konsisten menahan di Juli, Agustus, dan sekarang September.
Yang membuat keputusan ini terasa "aman" adalah betapa solidnya konsensus di baliknya. Survei BIG Consensus Insights terhadap 14 ekonom dan analis menunjukkan 12 di antaranya (85,7%) memprediksi bunga akan ditahan — hasilnya persis seperti itu. Polling terpisah dari CNBC Indonesia terhadap 11 institusi juga menunjukkan mayoritas serupa: delapan memperkirakan tahan, tiga memperkirakan naik 25 basis poin ke 6%. Ketika hasil akhir sepenuhnya sesuai ekspektasi pasar seluas ini, biasanya artinya pasar keuangan — rupiah, saham, obligasi — tidak akan bergerak liar karena kejutan sudah "dihabiskan" duluan lewat ekspektasi.
RDG Pertama Sang Gubernur Definitif
Ada satu lapisan konteks yang mudah terlewat di balik angka 5,75% ini: RDG kali ini adalah yang pertama dipimpin Destry Damayanti sebagai Gubernur BI penuh, bukan lagi pejabat sementara. Destry sempat menjabat Pjs (Pejabat Sementara) Gubernur sejak Perry Warjiyo mengundurkan diri Juli 2026, sebelum akhirnya ditetapkan DPR sebagai Gubernur definitif periode 2026–2031 dan resmi dilantik 2 September 2026 — menjadikannya perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sepanjang sejarah lembaga itu.
Buat pemimpin baru yang baru tiga pekan menjabat penuh, di tengah rupiah yang goyah dan tekanan dari segala arah, godaan untuk "unjuk gigi" dengan langkah berani — entah menaikkan bunga demi meyakinkan pasar atau menahannya demi mendukung pertumbuhan — sebenarnya besar. Destry memilih opsi paling konservatif: ikuti konsensus, jangan bikin gerakan tiba-tiba. Ini bukan berarti tidak ada keberanian di baliknya — justru menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap tekanan jangka pendek adalah pilihan kebijakan yang punya risikonya sendiri, terutama kalau rupiah terus melemah dalam beberapa pekan ke depan dan publik mulai bertanya kenapa BI diam saja.
Rupiah Kena Jepit dari Dua Arah Sekaligus
Di sinilah bagian yang bikin RDG kali ini beda dari RDG-RDG "aman" sebelumnya: rupiah sedang dihajar dari dua sumber tekanan yang sebenarnya saling berkaitan, bukan dua masalah terpisah.
Sumber pertama datang dari Washington. Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4% — kenaikan pertama sejak Juli 2023, setelah beberapa tahun terakhir justru berada dalam tren pemangkasan bunga. Keputusan ini dipicu inflasi AS yang mencapai 3,4% year-on-year (dibanding periode sama tahun lalu), sebagian besar didorong oleh melonjaknya harga minyak dan lonjakan investasi besar-besaran di sektor AI yang memanaskan permintaan energi dan barang modal. The Fed bahkan memberi sinyal masih ada satu kali kenaikan lagi tahun ini, kemungkinan di pertemuan 27–28 Oktober 2026.
Sumber kedua, dan ini yang menariknya terhubung langsung ke sumber pertama: konflik geopolitik di Timur Tengah. Pada 1 September 2026, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru di sekitar Selat Hormuz setelah Iran dinilai gagal memenuhi kesepakatan interim yang sebelumnya disepakati kedua pihak, ditambah eskalasi serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi. Selat Hormuz bukan jalur laut biasa — sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia, atau satu dari lima barel yang diperdagangkan secara global, melewati titik tersempit selebar 33 kilometer ini. Harga minyak Brent bertahan di kisaran US$90 per barel, dan diperkirakan tetap di atas US$80 sepanjang 2026 selama gangguan pasokan berlanjut.
Inilah koneksi yang sering terlewat: harga minyak yang tinggi karena Timur Tengah bukan cuma bikin ongkos impor energi Indonesia membengkak — ia juga yang mendorong inflasi AS naik, yang kemudian memaksa The Fed menaikkan bunga, yang kemudian menguatkan dolar AS dan membuat rupiah makin tertekan. Satu sumber gejolak, dua jalur tekanan yang bertemu di titik yang sama: nilai tukar rupiah.
Dampaknya sudah terasa. Rupiah melemah sekitar 1,5–1,6% hanya dalam dua pekan menjelang RDG, dan terdepresiasi 6,8% sepanjang tahun berjalan 2026. Untuk konteks, sepanjang 2026 rupiah sudah bergerak liar dari titik terkuat Rp16.675 sampai titik terlemah Rp18.175 per dolar AS — jauh melebihi kisaran Rp16.800–17.500 yang jadi target awal pemerintah. Arus modal asing juga kabur: tercatat sekitar US$750 juta keluar dari pasar surat berharga negara (SBN) belakangan ini. Untungnya, cadangan devisa (simpanan dolar milik negara yang jadi amunisi BI untuk menstabilkan rupiah) masih relatif kuat di US$146,5 miliar per Agustus 2026, naik tipis dari US$145,3 miliar bulan sebelumnya — jadi BI belum kehabisan peluru, meski arus keluarnya tetap harus diwaspadai.
Kenapa BI Tidak Ikut Menaikkan Bunga?
Dengan tekanan sebesar itu, kenapa BI tidak ikut menaikkan bunga untuk melindungi rupiah? Jawabannya ada di sisi domestik. Inflasi Indonesia Agustus 2026 tercatat 3,19% year-on-year, naik dari 2,88% di Juli, tapi masih berada dalam sasaran BI 1,5%–3,5% (atau 2,5% plus-minus 1 poin persentase). Inflasi inti — yang mengeluarkan komponen harga bergejolak seperti pangan dan energi — bahkan relatif terkendali di 2,92%.
Masalahnya justru ada di komponen inflasi bergejolak (volatile food), yang melonjak dari 2,52% ke 4,06% dalam sebulan, didorong kenaikan harga daging, cabai, dan beras. Riset LPEM UI menekankan poin penting di sini: tekanan harga pangan seperti ini datang dari sisi pasokan (gagal panen, distribusi, cuaca), bukan dari kelebihan permintaan yang bisa "didinginkan" dengan menaikkan bunga. Menaikkan BI Rate untuk meredam inflasi pangan sama seperti mengobati sakit gigi dengan obat maag — targetnya salah.
Josua Pardede, ekonom kepala Bank Permata, menambahkan pertimbangan lain: manfaat kenaikan bunga lanjutan perlu ditimbang dengan biayanya terhadap kredit, konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kenaikan The Fed sebenarnya sudah diantisipasi lewat pengetatan BI sendiri di Mei–Juni lalu, jadi tidak perlu direspons lagi secara otomatis. Juniman dari Bank Maybank Indonesia sependapat: prioritas BI tetap stabilitas nilai tukar, tapi dukungan ke pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan lewat kebijakan makroprudensial (aturan main perbankan yang lebih longgar, bukan lewat suku bunga acuan) tanpa harus menaikkan BI Rate. Pertumbuhan kredit perbankan tumbuh solid 13,58% year-on-year di Juli, dan ekonomi tumbuh 5,29% di kuartal II 2026 — dua alasan tambahan kenapa BI enggan menginjak rem terlalu keras.
Efek ke Kantong: KPR, Kredit, dan Tabungan
Buat pembaca yang sedang mencicil rumah, kabar dari keputusan tahan ini relatif tenang — tapi tidak sepenuhnya bebas efek. Sebagian besar bank mengenakan bunga KPR floating pada kisaran 11%–14% setelah masa bunga tetap (fixed) berakhir, dan bunga ini bergerak mengikuti tren BI Rate meski dengan jeda waktu, biasanya sekitar satu kuartal sebelum efeknya benar-benar terasa di penyaluran kredit baru. Karena BI Rate tidak berubah, tidak ada alasan bagi bank untuk menaikkan bunga KPR floating dalam waktu dekat — status quo dipertahankan.
Tapi ada satu hal yang layak diingat: Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa transmisi kenaikan suku bunga ke suku bunga kredit berlangsung jauh lebih cepat dibanding transmisi penurunan, yang biasanya butuh waktu 3–6 bulan untuk benar-benar dirasakan masyarakat. Artinya, kalaupun nanti BI terpaksa menaikkan bunga di kuartal IV karena tekanan rupiah tak kunjung reda, dampaknya ke cicilan KPR dan kredit konsumtif akan terasa jauh lebih cepat dibanding kalau skenario yang terjadi adalah penurunan bunga. Ini bukan alasan untuk panik hari ini, tapi alasan bagus untuk tidak menganggap keputusan tahan ini sebagai jaminan permanen.
Untuk deposito dan tabungan, keputusan tahan berarti imbal hasil deposito juga relatif stabil — tidak ada bonus kenaikan bunga simpanan, tapi juga tidak ada penurunan. Bagi yang menyimpan dana darurat di deposito, ini kabar netral, bukan buruk maupun baik.
Suara Kritis: Bunga Saja Tidak Cukup
Di tengah nada optimis konsensus pasar, ada suara yang lebih skeptis dari INDEF. Ekonom senior INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa dijaga hanya dengan instrumen moneter seperti suku bunga acuan. Tanpa konsolidasi fiskal yang kredibel — pengelolaan anggaran negara yang disiplin dan bisa dipercaya pasar — tekanan terhadap nilai tukar berpotensi berubah dari sekadar gejolak sementara menjadi masalah struktural yang lebih sulit diatasi.
Ini poin penting yang sering hilang dari liputan "BI tahan/naikkan bunga": BI Rate hanyalah satu instrumen dari banyak faktor yang menentukan nasib rupiah, dan kalau tekanan fiskal atau ketidakpastian kebijakan di luar BI terus berlanjut, menahan atau menaikkan bunga cuma akan jadi tambal sulam. LPEM UI sendiri, meski memproyeksikan bunga tahan hari ini, secara eksplisit menyebut kenaikan lanjutan "tetap jadi opsi" di akhir tahun — sinyal bahwa keputusan hari ini bukan titik akhir dari cerita ini, melainkan jeda sementara.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Bunga acuan yang ditahan itu kabar baik untuk timing — biaya modal usaha belum naik lagi, jadi kalau kamu sudah menyiapkan rencana bisnis, ini bukan saat yang lebih buruk dari bulan lalu untuk mulai. Tapi jangan pakai proyeksi bunga rendah sebagai asumsi jangka panjang: dengan kenaikan masih terbuka di kuartal IV, hitung rencana cashflow-mu dengan skenario bunga pinjaman naik 25–50 basis poin dalam 3–6 bulan ke depan, bukan cuma skenario terbaik. Kalau usahamu bergantung pada bahan baku impor, volatilitas rupiah di kisaran Rp17.800–18.000 sekarang berarti kamu perlu mengunci harga atau nilai tukar di awal (hedging) daripada menunggu harga makin tidak pasti — jangan menunda keputusan pembelian besar sambil berharap rupiah menguat, karena tren tahun ini menunjukkan itu bukan taruhan yang aman.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Pertumbuhan kredit perbankan yang masih di atas 13% year-on-year artinya bank masih mau menyalurkan pinjaman — window untuk ekspansi lewat kredit investasi belum tertutup. Tapi dengan data PHK yang masih tinggi (Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 23.470 PHK Januari–Mei 2026, sementara Apindo mencatat angka jauh lebih tinggi, 126.000 pekerja terkena PHK di periode yang sama — perbedaan besar ini terjadi karena Apindo menghitung dari laporan internal anggota perusahaan sementara data pemerintah bergantung pada pelaporan resmi yang sering terlambat atau tidak lengkap), daya beli konsumen sedang tertekan dari sisi lain. Kalau bisnismu menyasar konsumen kelas menengah, pertimbangkan margin yang lebih ketat dan siklus penjualan yang lebih lambat dalam beberapa bulan ke depan, terlepas dari keputusan bunga BI hari ini.
Kalau kamu sedang atau berencana ambil KPR
Untuk KPR baru, ini momen yang relatif netral untuk mengambil keputusan — bunga tidak sedang dalam tren naik mendadak. Tapi kalau kamu mengandalkan periode bunga fixed yang akan segera berakhir, cek ulang proyeksi cicilan floating-mu dengan asumsi bunga bisa naik ke kisaran atas (14%), bukan asumsi optimis. Menunggu rupiah stabil sebelum mengambil KPR bukan strategi yang realistis tahun ini — volatilitas rupiah lebih terkait faktor global (Fed, geopolitik) yang di luar kendali siapa pun, termasuk BI.
Yang Perlu Dipantau
RDG BI berikutnya: 20–21 Oktober 2026. Ini akan jadi ujian sesungguhnya — apakah tekanan rupiah mereda atau justru memaksa BI menaikkan bunga untuk pertama kalinya sejak Juni.
FOMC The Fed: 27–28 Oktober 2026. The Fed sudah memberi sinyal ada satu kenaikan lagi tahun ini — kalau ini terjadi sebelum RDG BI Oktober, tekanan ke rupiah akan bertambah tepat sebelum BI mengambil keputusan.
Rilis inflasi September 2026 dari BPS, biasanya awal Oktober — perhatikan apakah komponen volatile food (pangan) masih naik atau mulai mereda.
Perkembangan geopolitik Timur Tengah, termasuk hasil pertemuan Trump-Xi di Washington 23–25 September 2026 yang membawa draf komitmen damai untuk Iran — kalau berhasil meredakan ketegangan, harga minyak dan tekanan ke rupiah bisa mereda lebih cepat dari perkiraan.
Data cadangan devisa akhir September, untuk melihat apakah BI masih punya cukup amunisi menahan rupiah tanpa harus menaikkan bunga.
Penutup
Keputusan hari ini bukan tentang BI yang berani atau penakut — ini tentang BI yang memilih menunggu sambil menyimpan opsi kenaikan di saku, persis seperti yang dikatakan hampir semua ekonom yang disurvei sebelumnya. Yang perlu kamu pegang bukan angka 5,75% itu sendiri, tapi kenyataan bahwa rupiah sedang dijepit oleh dua kekuatan yang berasal dari sumber yang sama — minyak dan geopolitik — dan BI cuma satu dari sedikit pemain yang punya alat untuk meredamnya. Kalau bulan depan kamu dengar BI akhirnya menaikkan bunga, jangan kaget: hari ini bukan akhir cerita, cuma jeda sebelum babak berikutnya.
Sumber
Bisnis Indonesia — BIG Consensus Insights: 12 dari 14 Ekonom Ramal RDG Bank Indonesia Tahan BI-Rate September
Bisnis Indonesia — LPEM UI Proyeksi BI Tahan Bunga 5,75%, Kenaikan Tetap Terbuka
Bisnis Indonesia — Rupiah Tertekan Konflik Geopolitik, BI Intervensi dan Kawal Pasar Valas
Bisnis Indonesia — Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 23 September 2026
CNBC Indonesia — BI Rate Ditahan atau Naik? Rupiah dan The Fed Jadi Penentu
Katadata — BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Ekonom Sebut Belum Saatnya Pangkas Rate
Kementerian PANRB (menpan.go.id) — BI Rate Dipertahankan pada Level 5,75 Persen
InfoPublik — BI Rate Dipertahankan pada Level 5,75 Persen
IKPI — Bank Indonesia Kembali Tahan BI-Rate di Level 5,75%
Rikopedia Research — BI Rate September 2026: Tahan di 5,75%?
Bank Indonesia (bi.go.id) — Siaran Pers RDG dan Laporan Kebijakan Moneter 2026
NPR / CNBC (AS) — The Fed Raises Interest Rates for the First Time in Over Three Years
Kompaspedia — Konstelasi Minyak dalam Konflik Timur Tengah
Detik Finance — Serapan Tenaga Kerja Tembus 1,45 Juta Orang di Tengah Badai PHK
Suara.com — 126.000 Orang Kena PHK Massal, Pemerintah Diminta Tangani Serius