Lewati ke konten
blabak.

Cabai Rawit Tembus Rp75.100/Kg, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik Sepanjang Agustus

Cabai rawit melonjak dari Rp55.800 ke Rp75.100/kg dalam sebulan, sempat Rp82.750. Ini pola langka di baliknya dan kenapa beras-minyak goreng ikut naik.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Cabai rawit merah naik dari Rp55.800/kg (1 Agustus) ke kisaran Rp73.000–Rp75.100/kg pada 26 Agustus, lalu tembus Rp82.750/kg menjelang akhir bulan β€” lonjakan lebih dari 30% hanya dalam waktu kurang dari empat minggu, jauh di atas harga acuan pemerintah (HAP) untuk cabai rawit merah yang dipatok Rp40.000–57.000/kg.

  • Pemicu utamanya bukan lonjakan permintaan musiman seperti jelang Ramadan, melainkan kemarau panjang akibat El Nino kuat yang menurut BMKG berpotensi bertahan hingga Mei 2027 dan menekan sentra produksi cabai di Jawa Timur.

  • Beras dan minyak goreng ikut naik tapi jauh lebih tenang: harga beras nasional rata-rata Rp15.545/kg (BPS, naik tipis 0,16% dari Juli), sementara minyak goreng terseret harga CPO β€” bahan baku minyak sawit β€” global yang melonjak 13,1% dibanding tahun lalu.

  • Pertengahan Agustus, lembaga resmi sempat memproyeksikan tekanan inflasi pangan akan mereda; kenyataannya cabai rawit terus mencetak rekor baru sampai akhir bulan, memperlihatkan jarak antara proyeksi di atas kertas dan yang terjadi di pasar becek.

  • Di balik keluhan pembeli, ada petani yang justru meraup untung berlipat dari harga tinggi ini β€” potret timpang siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertekan oleh angka yang sama persis.

Rekor yang Terus Memecah Diri Sendiri

Kalau kamu belanja ke pasar sebulan terakhir dan merasa harga cabai rawit tidak pernah "istirahat" naiknya, perasaan itu benar. Pada 1 Agustus, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat cabai rawit merah nasional di Rp55.800/kg. Baru dua hari kemudian, angka itu sudah menyentuh Rp60.000/kg.

Pola berikutnya yang membuat episode ini beda: alih-alih naik lalu turun seperti biasanya, harga terus merangkak sepanjang bulan dengan sesekali koreksi kecil yang tidak pernah membawanya kembali ke titik awal. Pertengahan Agustus, harga berkutat di Rp62.000-an. Menjelang akhir bulan, lompatannya makin curam: 22 Agustus di Rp70.450/kg, lalu pada 26 Agustus berbagai pemantauan mencatat angka berbeda-beda β€” dari Rp64.100/kg versi PIHPS pagi hari, Rp73.000/kg pada rilis siang, hingga Rp75.100/kg yang paling banyak dikutip media sore itu (naik sekitar 9% dari hari sebelumnya). Perbedaan ini wajar karena PIHPS memperbarui datanya beberapa kali sehari dari sampel pasar yang berbeda-beda β€” tapi arah trennya konsisten: naik terus. Dua hari berikutnya, 28 Agustus, angka itu sudah terlewati lagi jadi Rp82.750/kg.

Ada satu anomali yang layak dicatat: pada 11 Agustus, PIHPS sempat mencatat lonjakan ekstrem satu hari ke Rp120.000/kg (+103,74% dibanding hari sebelumnya), sebelum harga terkoreksi turun lagi keesokan harinya ke kisaran Rp61.000-an. Lonjakan sesaat semacam ini biasa terjadi di pasar cabai karena sampel datanya tipis β€” beberapa pasar dengan pasokan sangat terbatas bisa menyeret rata-rata nasional secara drastis dalam semalam. Tapi justru itulah yang membuat tren keseluruhan Agustus mengkhawatirkan: bukan cuma satu lonjakan aneh, tapi kenaikan yang bertahan dan terus mencetak rekor baru selama hampir sebulan penuh.

Bukan Karena Lebaran, Tapi Karena Langit yang Enggan Hujan

Wajar kalau kamu langsung menduga ini gara-gara hari besar keagamaan β€” biasanya begitu polanya. Tapi Agustus bukan musim Ramadan, Lebaran, atau Natal. Tidak ada lonjakan permintaan musiman yang bisa dijadikan kambing hitam kali ini.

Penyebabnya ada di sisi pasokan. BMKG menyatakan El Nino 2026 sudah masuk kategori kuat dengan indeks ENSO +1,59, bahkan berpeluang 75% menguat ke kategori sangat kuat, dan diperkirakan bertahan 9–12 bulan sejak aktif Juni 2026 β€” artinya baru akan mereda sekitar Mei 2027. Curah hujan periode Juli–Oktober 2026 diprediksi di bawah normal di banyak wilayah, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra selatan, Kalimantan selatan, Sulawesi, dan Papua selatan. Bahkan untuk September saja, BMKG memproyeksikan 77,46% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah.

Cabai dan tomat termasuk tanaman hortikultura yang paling sensitif terhadap kekeringan β€” kekurangan air bisa langsung memangkas hasil panen sekaligus membuat tanaman lebih rentan hama. Di Blitar Selatan, Jawa Timur, salah satu sentra cabai rawit nasional, petani bahkan menunda musim tanam baru karena air belum cukup tersedia, artinya pasokan yang seharusnya masuk pasar beberapa bulan ke depan pun ikut mundur.

Menariknya, pada 26 Agustus β€” hari yang sama ketika cabai rawit merah melonjak β€” cabai rawit hijau justru anjlok 17,89% jadi Rp46.600/kg. Ini bukan kontradiksi aneh: cabai rawit hijau dipanen lebih muda dengan siklus tanam lebih pendek, sementara cabai rawit merah butuh waktu tambahan matang di pohon β€” jendela waktu itulah yang lebih rentan diterjang cuaca kering dan hama. Dua varietas yang ditanam berdampingan pun bisa bergerak berlawanan arah, tergantung sentra produksi mana yang sedang panen dan mana yang sedang paceklik. Ini juga menggambarkan betapa tipisnya pasar cabai β€” perubahan pasokan kecil saja bisa membuat harga jumpalitan dalam hitungan hari.

Petani Untung Berlipat, Warung Nasi Megap-Megap

Setiap kali harga cabai meroket, selalu ada dua sisi cerita. Di Blok Sangiang Tanjung, Kabupaten Lebak, Banten, seorang petani cabai dengan modal sekitar Rp20 juta di lahan 2.500 meter persegi berhasil meraup untung sampai Rp60 juta β€” tiga kali lipat modalnya β€” berkat harga jual yang tinggi di tengah kemarau panjang ini. Ketika publik ramai mengeluhkan harga cabai, Menteri Pertanian pun sempat merespons dengan mengingatkan bahwa petani juga berhak menikmati untung saat harga sedang baik.

Tapi di ujung rantai yang lain, pedagang gorengan, warung makan padang, penjual sambal, sampai katering rumahan menanggung beban yang berbeda. Cabai rawit adalah bahan baku yang sulit dihilangkan dari resep β€” bukan seperti bawang putih yang stoknya bisa "diselamatkan" impor besar-besaran. Ketika biayanya naik 30–40% dalam sebulan sementara harga jual porsi nasi sambal tidak bisa naik secepat itu tanpa kehilangan pelanggan, yang tergerus adalah margin, bukan omzet.

Beras dan Minyak Goreng: Naik Lebih Tenang, Tapi Sebabnya Beda Sama Sekali

Beras dan minyak goreng memang ikut disebut naik sepanjang Agustus, tapi penyebabnya jauh dari drama kemarau cabai. Data BPS awal bulan mencatat harga beras rata-rata nasional Rp15.545/kg, naik tipis 0,16% dibanding Juli, dengan 106 kabupaten/kota mengalami kenaikan. Harga tertingginya justru tercatat di daerah terpencil seperti Pegunungan Bintang dan Intan Jaya, Papua β€” sampai Rp50.000/kg β€” bukan karena kelangkaan pangan, melainkan ongkos logistik ke wilayah pegunungan yang memang selalu lebih mahal. Bapanas sendiri sudah menambah Cadangan Beras Pemerintah hingga 5,2 juta ton per 12 Agustus sebagai bantalan menghadapi risiko El Nino terhadap produksi padi.

Minyak goreng rata-rata nasional Rp20.229/liter, malah turun tipis 0,04% secara nasional meski 82 kabupaten/kota mencatat kenaikan. Pendorongnya ada di pasar global: harga CPO (crude palm oil, minyak sawit mentah β€” bahan baku utama minyak goreng) naik 13,1% dibanding tahun lalu, ikut terseret harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai USD85/barel pertengahan Agustus akibat melemahnya prospek kesepakatan AS-Iran.

Bandingkan dengan bawang putih yang justru turun 4,95% dari Juli jadi rata-rata Rp39.924/kg β€” meski masih di atas HAP Rp38.000/kg. Alasannya sederhana: impor bawang putih semester I-2026 mencapai 229.000 ton, dengan 98% berasal dari China, sehingga pasokannya relatif terjaga dari gejolak cuaca domestik. Ini justru menjelaskan kenapa cabai rawit paling babak belur di antara semuanya: hampir seluruh pasokannya masih mengandalkan panen lokal, sehingga begitu kemarau memukul satu-dua sentra produksi seperti Kediri dan Blitar, dampaknya langsung terasa di meja makan, tanpa ada "bantalan impor" seperti bawang putih.

Proyeksi yang Terlalu Optimis, Kenyataan yang Terus Meleset

Ada satu kejanggalan yang jarang disorot media: pada minggu kedua Agustus, laporan resmi Dewan Ekonomi Nasional mencatat kenaikan cabai rawit "hanya" 16% dibanding periode sama tahun lalu, dan bahkan memproyeksikan inflasi volatile food (kelompok harga pangan yang gampang bergejolak, seperti cabai dan bawang) Agustus akan menurun sekitar 0,5 poin. Ini sejalan dengan tren Juli, ketika inflasi IHK (indeks harga konsumen, ukuran inflasi umum) turun ke 2,88% dibanding tahun lalu dan volatile food melandai ke 2,52%.

Tapi dua minggu setelah proyeksi itu terbit, cabai rawit di lapangan justru terus mencetak rekor baru β€” dari Rp62.650/kg menjadi Rp82.750/kg. Gap antara angka tahunan yang terlihat "terkendali" dengan lonjakan bulanan yang brutal ini bukan salah data, tapi ciri khas inflasi pangan: agregat tahunan gampang menutupi lonjakan tajam yang sedang dirasakan konsumen hari ini di warung.

Pemerintah lewat Bapanas sebenarnya tidak diam. Gerakan Pangan Murah β€” program jualan bahan pokok murah langsung ke masyarakat β€” sudah digelar 7.741 kali sepanjang tahun berjalan, dengan distribusi beras 652.600 ton (78,83% dari target 828.000 ton) dan bantuan pangan menjangkau lebih dari 33 juta keluarga penerima. Angkanya besar, tapi sebagian besar intervensi ini terkonsentrasi ke beras, bukan cabai. Sejumlah analis kebijakan pangan menilai pendekatan stabilisasi harga selama ini cenderung reaktif dan sementara β€” turun tangan setelah harga sudah telanjur meroket, bukan mencegah lewat penguatan stok penyangga dan distribusi cabai segar sejak awal musim kering. Selama pendekatannya begitu, jangan heran kalau rekor harga terus terulang setiap kali kemarau datang.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau Kamu Masih Karyawan dan Ingin Mulai Usaha

Kalau rencana usahamu berbahan baku cabai β€” katering pedas, sambal kemasan, warung makan β€” ini bukan waktu ideal untuk membangun model bisnis yang asumsinya "harga bahan baku stabil". Hitung dulu skenario terburuk: kalau biaya cabai naik 50% dari sekarang, apakah margin usahamu masih hidup? Kalau tidak, tunda dulu sampai kamu punya rencana mitigasi yang jelas β€” misalnya kontrak pasokan langsung dengan kelompok tani (memotong tengkulak) atau resep yang bisa fleksibel mengganti porsi cabai segar dengan cabai kering/bubuk saat harga segar meledak. Jangan mulai usaha berbasis asumsi harga hari ini kalau kamu belum tahu cara bertahan saat harga itu naik dua kali lipat.

Kalau Kamu Sudah Punya Bisnis

Hitung ulang cost per porsi sekarang juga β€” bukan pas akhir bulan. Dengan cabai rawit sudah 30–45% di atas harga acuan pemerintah, menu yang mengandalkan sambal segar dalam jumlah besar sedang menggerus marginmu setiap hari tanpa kamu sadari kalau belum dihitung ulang. Opsi realistis: sesuaikan porsi sambal (bukan rasa), pertimbangkan campuran cabai rawit dengan cabai keriting yang kenaikannya lebih moderat, atau jajaki pembelian borongan langsung ke kelompok tani/pasar induk untuk memotong margin pedagang perantara. Pantau juga jadwal Gerakan Pangan Murah di daerahmu lewat Bapanas atau dinas perdagangan setempat β€” programnya memang lebih sering fokus ke beras, tapi sesekali menyertakan cabai dan bisa jadi sumber bahan baku darurat saat harga pasar sedang gila-gilaan.

Dampak yang Lebih Luas ke Masyarakat

Buat rumah tangga dengan penghasilan tetap β€” terutama yang bergaji UMR β€” kenaikan harga pangan seperti ini langsung menggerus daya beli riil, karena porsi belanja bulanan untuk kebutuhan pokok jauh lebih besar dibanding kelompok berpenghasilan tinggi. Kenaikan gaji tahunan pun jadi terasa "nol" secara riil kalau inflasi pangan bergerak lebih cepat. Langkah paling realistis jangka pendek: alihkan sementara ke cabai keriting atau cabai bubuk kering yang kenaikannya lebih terkendali, dan kalau punya sedikit lahan atau pot di rumah, menanam cabai rawit sendiri β€” praktik yang makin umum di rumah tangga Indonesia setiap kali harga melonjak β€” bisa jadi bantalan kecil, meski tidak akan menutup seluruh kebutuhan dapur.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis inflasi Agustus 2026 dari BPS, yang biasanya keluar awal September β€” akan mengonfirmasi apakah proyeksi easing volatile food dari Dewan Ekonomi Nasional benar terjadi atau kembali meleset seperti proyeksi pertengahan bulan.

  • Update bulanan status El Nino dari BMKG β€” apakah bertahan di kategori kuat atau naik ke sangat kuat sesuai peluang 75% yang sudah diperingatkan.

  • Prakiraan curah hujan Oktober–November 2026, penentu kapan musim tanam baru di sentra cabai seperti Kediri dan Blitar bisa dimulai kembali dan pasokan mulai pulih.

  • Data harian Panel Harga Pangan Bapanas dan PIHPS Bank Indonesia untuk cabai rawit merah β€” apakah tren akhir Agustus di atas Rp80.000/kg berlanjut ke September atau mulai terkoreksi.

  • Realisasi Gerakan Pangan Murah dan Cadangan Pangan Pemerintah pada September β€” apakah cakupannya diperluas secara spesifik ke cabai, bukan didominasi beras seperti selama ini.

Penutup

Angka Rp75.100 di papan harga pasar itu sebenarnya pesan dari langit yang enggan menurunkan hujan di Kediri dan Blitar, diteruskan lewat rantai pasok sampai ke dapur rumahmu. Ini bukan lonjakan musiman yang bisa ditunggu reda setelah hari raya lewat β€” El Nino diperkirakan bertahan sampai pertengahan tahun depan, dan sejauh ini kebijakan stabilisasi pangan masih lebih banyak bereaksi setelah harga meledak ketimbang mencegahnya sejak awal. Jadi kalau kamu penjual sambal, pembeli di pasar, atau sekadar penikmat nasi padang, jangan kaget kalau rekor Rp75.100 ini bukan yang terakhir kamu baca sebelum tahun ini berakhir β€” dan mulai sekarang lebih baik anggap harga cabai sebagai variabel yang bisa berubah kapan saja, bukan angka tetap yang bisa dihafal.

Sumber

  • Suara.com β€” Harga Pangan Hari Ini: Tiga Jenis Cabai Merah Naik Serentak (26 Agustus 2026)

  • CNBC Indonesia β€” BPS Kasih Penjelasan Harga Terkini Beras, Minyak Goreng, Bawang Putih

  • Liputan6 β€” Seri Harga Pangan Agustus 2026 (edisi 1, 3, 8, 10, 16, 20, 22, 24, 26, 27 Agustus)

  • Bisnis.com β€” Harga Cabai Meroket 103%, Efek El NiΓ±o Mulai Terasa

  • Koran Jakarta β€” Harga Cabai Rawit Rp64.100 per Kg, Telur Ayam Rp28.800 per Kg

  • BMKG β€” BMKG Perkuat Antisipasi Dampak El Nino 2026

  • Dewan Ekonomi Nasional β€” Perkembangan Harga Pangan Minggu II Agustus 2026 & Laporan Inflasi Bulan Agustus 2026

  • Kompas.tv β€” BI Waspadai El Nino hingga Oktober, Harga Beras, Cabai, dan Bawang Jadi Perhatian

  • Koran Jakarta β€” Petani Cabai di Lebak, Modal 20 Juta, Untung 60 Juta

  • Antara News β€” Bapanas Ungkap Strategi 2026 untuk Menjaga Stabilitas Harga Pangan