Cabai Tembus Rp82.700/Kg, Naik 11,76% Sepekan — Rentetan Kenaikan Harga Pangan Belum Berhenti
Cabai rawit merah naik 11,76% ke Rp82.700/kg, kelanjutan tren sebulan penuh. El Nino tekan panen, kini beras & minyak goreng ikut naik bareng.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Cabai rawit merah tembus Rp82.700/kg per 3 September 2026, naik 11,76% (Rp8.700) hanya dalam sepekan — dan sehari berikutnya sudah merangkak lagi ke Rp83.050.
Ini bukan lonjakan tiba-tiba. Sejak 8 Agustus, harganya sudah naik nyaris tanpa jeda dari Rp59.650 ke level sekarang — total kenaikan hampir 40% dalam waktu kurang dari sebulan.
Cabai merah besar justru naik lebih ganas: 87,75% jadi Rp95.000/kg, jauh melampaui sorotan media yang selama ini fokus ke cabai rawit.
Bukan cabai sendirian: beras berbagai kualitas naik dua digit persen, dan di hulu, harga minyak sawit dunia (CPO) ikut terkerek — bukan cuma karena El Nino, tapi juga rebutan pasokan dengan program biodiesel B50.
Inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food — kelompok harga pangan yang gampang naik-turun tajam karena bergantung musim panen) melonjak dari 2,52% jadi 4,06% dibanding tahun lalu, hanya dalam sebulan.
Rp82.700 Bukan Kejutan — Ini Kelanjutan Tren Sebulan Penuh
Kalau kamu baru dengar angka Rp82.700/kg minggu ini, kamu ketinggalan separuh cerita. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia, cabai rawit merah nasional sudah naik nyaris setiap hari sejak awal Agustus: Rp59.650 (8 Agustus), Rp61.700 (13 Agustus), Rp70.450 (22 Agustus), lalu ke kisaran Rp74.000–75.100 di akhir bulan, terus ke Rp77.000 (1 September), Rp78.100 (2 September), sampai akhirnya Rp82.700 pada 3 September — dan Rp83.050 sehari sesudahnya.
Ada satu titik data yang perlu diberi catatan kaki: pada 11 Agustus, beberapa laporan mencatat harga cabai rawit merah sempat menembus Rp120.000/kg, lonjakan lebih dari 100% dalam sehari. Angka ini tidak mencerminkan tren yang berlanjut — dua hari kemudian harga sudah terkoreksi turun ke Rp61.700. Kemungkinan besar itu potret sesaat dari satu-dua kota dengan gangguan pasokan lokal yang tertangkap rata-rata nasional PIHPS hari itu, bukan pergeseran harga yang permanen. Tren yang benar-benar bertahan adalah kenaikan bertahap dan konsisten sejak pertengahan Agustus.
Angka Rp82.700 sendiri sudah dikonfirmasi lintas sumber: kenaikan 11,76% atau Rp8.700 dalam sepekan, dengan cabai rawit hijau ikut naik 5,52% ke Rp62.100/kg. Tapi yang jarang jadi headline adalah cabai merah besar, yang pada hari yang sama meroket 87,75% menjadi Rp95.000/kg — kenaikan persentase tertinggi di antara semua jenis cabai, meski kalah tenar dari rawit merah karena rawit lebih sering dipakai jadi patokan berita harga pangan.
Kenapa El Nino Terus Disorot tapi Cabai Tetap Saja Naik
El Nino sudah berkali-kali jadi kambing hitam setiap kali harga cabai naik tahun ini, dan itu bukan tanpa alasan. BMKG memproyeksikan El Nino bertahan setidaknya sampai awal 2027, dengan peluang mencapai intensitas "sangat kuat" hingga 75%. Musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal di 437 zona musim (sekitar 48,77% luas daratan Indonesia), dan hujan dengan intensitas tinggi baru diperkirakan datang bertahap mulai Oktober-November. Memperparah keadaan, ada potensi Indian Ocean Dipole (IOD) Positif — pola suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang bikin uap air justru "ditarik" menjauh dari Indonesia — aktif September-Desember 2026, yang bisa menambah kekeringan di atas efek El Nino sendiri.
Cabai lebih rentan dibanding komoditas lain karena dua alasan sederhana: siklus tanamnya pendek (60-75 hari) sehingga sangat bergantung pasokan air yang konsisten, dan hasil panennya tidak bisa disimpan lama seperti beras. Begitu satu sentra produksi kena kekeringan, dampaknya langsung terasa di pasar dalam hitungan minggu, bukan bulan. Data BPS untuk inflasi Agustus 2026 mengonfirmasi ini: penurunan produksi terjadi di sentra-sentra seperti Kabupaten Sampang, Lamongan, dan Temanggung — daerah yang justru bukan sentra utama, menandakan tekanan sudah menyebar ke wilayah kedua, bukan cuma sentra besar seperti Kediri atau Blitar.
Perbandingan dengan siklus El Nino 2023 memberi konteks yang bikin was-was. Saat itu, dari harga normal sekitar Rp33.000-40.000/kg, cabai rawit merah butuh sekitar lima bulan (Agustus-Desember 2023) untuk merangkak dari Rp49.000 ke puncaknya Rp89.604 pada Desember — kenaikan sekitar 83%. Tahun ini, hanya dalam waktu kurang dari sebulan (8 Agustus-4 September), harga sudah naik hampir 40%, dan El Nino yang sedang berjalan diproyeksikan lebih kuat dari 2023. Ini bukan ramalan pasti — pola tahun lalu tidak otomatis terulang — tapi kecepatan kenaikan tahun ini jelas lebih tajam di fase awal dibanding siklus sebelumnya.
Yang Beda Kali Ini: Beras dan Minyak Goreng Ikut Bergerak Bareng
Kalau siklus-siklus El Nino sebelumnya biasanya bikin satu-dua komoditas horti melonjak sendirian (cabai tahun ini, bawang tahun lalu), yang membuat awal September 2026 berbeda adalah bergeraknya beras dan minyak goreng secara hampir bersamaan — dua bahan pokok yang selama ini jadi jangkar stabilitas harga makan sehari-hari.
Pada 3 September, beras kualitas bawah I naik 17,85% menjadi Rp17.500/kg, medium I naik 12,12% menjadi Rp18.500/kg, dan medium II naik 10,43% menjadi Rp18.000/kg — semuanya kenaikan dua digit dalam satu hari data, bukan kumulatif sebulan. Ini yang membuat Badan Pangan Nasional (Bapanas) membentuk Satuan Tugas Pengawasan Harga dan Mutu Beras 2026, khusus memantau kombinasi kenaikan harga dan dugaan penurunan kualitas beras di pasaran.
Minyak goreng ceritanya lebih rumit dan justru lebih mengkhawatirkan kalau ditelusuri ke hulu. Di level eceran pada 3 September, datanya sebenarnya campur: minyak goreng curah malah turun tipis 0,24% ke Rp20.450/liter, kemasan bermerek 1 naik tipis 0,21% ke Rp24.350, dan kemasan bermerek 2 turun 0,43% ke Rp23.400. Belum ada lonjakan dramatis di rak minimarket. Tapi harga minyak sawit mentah (CPO) dunia — bahan baku utama minyak goreng — sudah tembus RM4.977 per ton akhir Agustus, dan analis memproyeksikan tren naik berlanjut sepanjang sisa 2026. Penyebabnya bukan cuma El Nino yang diperkirakan mulai menekan produktivitas kebun sawit mulai kuartal IV 2026; ada faktor kedua yang jarang disebut media: mandat biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026 membutuhkan sekitar 14 juta ton CPO per tahun, bikin pasokan untuk minyak goreng konsumsi berebut dengan kebutuhan bahan bakar. Artinya, harga eceran minyak goreng yang hari ini masih landai kemungkinan besar cuma soal waktu sebelum ikut naik menyusul harga CPO di hulu.
Stok Disebut Aman, tapi Ekonom Tetap Skeptis
Pemerintah, lewat Bapanas, sudah lebih dari sekali menegaskan stok beras nasional ada di angka 5,4 juta ton — jumlah yang di atas kertas terdengar cukup untuk meredam gejolak harga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga terbuka menyebut El Nino sebagai salah satu risiko terbesar yang membayangi ekonomi domestik semester II 2026, di samping ketegangan geopolitik, dan pemerintah tengah menyiapkan stimulus untuk mengantisipasi dampaknya ke sektor pangan dan energi.
Tapi ekonom INDEF, Abra Talattov, punya catatan yang lebih tajam: menambah stok cadangan pemerintah tidak otomatis menurunkan harga di pasar. Menurutnya, persoalan pangan saat ini bukan cuma soal ketersediaan stok, tapi kondisi fundamental produksi yang rapuh — dan kalau kontraksi produksi pangan tidak segera diatasi, itu bisa jadi sumber tekanan baru, bukan cuma efek samping El Nino sesaat. Stabilisasi harga lewat cadangan pemerintah, katanya, berisiko cuma jadi solusi jangka pendek kalau tidak dibarengi penguatan produksi di hulu.
BPS sendiri, dalam analisis inflasi Agustus, menyinggung pentingnya menjaga kelancaran distribusi supaya penurunan produksi di satu daerah tidak langsung menular jadi kenaikan harga nasional — sebuah pengakuan halus bahwa sebagian masalah ada di rantai pasok dan logistik, bukan melulu cuaca. Inflasi tahunan Agustus 2026 tercatat 3,19%, mendekati batas atas target Bank Indonesia (2,5% plus-minus 1%, alias batas atas 3,5%), dengan kelompok pangan bergejolak melompat dari 4,06% dari sebelumnya cuma 2,52% di Juli — lompatan yang lebih tajam dari yang biasanya terjadi dalam satu bulan. Menariknya, penyumbang terbesar inflasi pangan Agustus justru bukan cabai, melainkan daging ayam (kontribusi 0,17 poin), sementara cabai segar, ikan segar, dan beras masing-masing "cuma" menyumbang 0,02 poin — cabai terasa lebih dramatis di dompet karena persentase kenaikannya ekstrem, meski secara statistik makro bobotnya lebih kecil dari daging ayam. Bank Mandiri bahkan memproyeksikan inflasi bisa menyentuh 3,5% di akhir 2026 kalau tekanan El Nino berlanjut sesuai perkiraan BMKG.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kalau kamu sedang mempertimbangkan buka usaha kuliner — warteg, katering, gorengan, seblak, apa pun yang bergantung besar pada cabai dan minyak goreng — jangan hitung margin berdasarkan harga hari ini. Asumsikan harga cabai masih bisa naik 20-30% lagi dalam dua-tiga bulan ke depan mengacu pola siklus 2023, dan bangun struktur harga jual yang punya ruang penyesuaian sejak awal, bukan harga mati yang baru direvisi setelah rugi jalan sebulan. Kalau modal terbatas, ini bukan waktu ideal untuk ekspansi skala besar — tunggu sampai ada kejelasan soal kedatangan musim hujan Oktober-November. Kalau tetap mau jalan, cari skema kontrak pasokan mingguan (bukan bulanan) dengan pemasok, dan kalau memungkinkan, jalin relasi langsung ke petani atau pengepul di sentra yang belum terlalu terdampak kekeringan.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Untuk pelaku UMKM kuliner yang sudah berjalan, langkah paling realistis adalah negosiasi ulang kontrak harga bahan baku ke siklus lebih pendek — mingguan atau dua mingguan — supaya tidak terkunci di harga lama saat pasar sudah bergerak jauh. Pertimbangkan substitusi sebagian cabai segar dengan cabai kering atau bubuk cabai untuk menjaga rasa sambil menurunkan biaya, strategi yang banyak dipakai pedagang saat krisis 2023. Naikkan harga jual secara bertahap kecil (5-10%) ketimbang menunda lalu terpaksa naik drastis sekaligus yang bikin pelanggan kaget dan pergi — dan komunikasikan alasan kenaikan secara transparan. Kalau bisnismu memakai minyak goreng dalam volume besar, jadikan pergerakan harga CPO dunia sebagai indikator dini: kenaikan di sana biasanya menjalar ke harga eceran dalam satu-dua bulan, meski hari ini harga di rak masih terlihat tenang.
Kalau kamu cuma mau atur belanja rumah tangga
Untuk pekerja bergaji tetap, terutama kelompok menengah-bawah yang porsi belanja makanannya lebih besar dari total pengeluaran bulanan, ini saat yang tepat untuk merevisi anggaran dapur, bukan menunggu sampai tabungan tergerus. Pantau Panel Harga Pangan Bapanas atau situs PIHPS Bank Indonesia (bi.go.id/hargapangan) untuk membandingkan harga antar pasar — karena data yang dilaporkan media adalah rata-rata nasional yang bisa jauh berbeda dari harga di pasar dekat rumahmu. Mengurangi ketergantungan pada cabai segar dan beralih ke cabai kering atau bubuk untuk kebutuhan masak sehari-hari juga bisa jadi penyesuaian kecil yang cukup terasa di anggaran bulanan.
Yang Perlu Dipantau
Rilis inflasi September 2026 dari BPS, biasanya awal Oktober — jadi indikator apakah tekanan pangan Agustus berlanjut atau mulai mereda.
Kedatangan musim hujan Oktober-November 2026 sesuai perkiraan BMKG — kalau molor, tekanan produksi hortikultura akan makin panjang.
Perkembangan IOD Positif September-Desember 2026, yang bisa memperparah kekeringan di atas efek El Nino.
Update harian Panel Harga Pangan / PIHPS Bank Indonesia untuk memantau apakah tren kenaikan cabai berlanjut atau mulai terkoreksi setelah menyentuh Rp83.050.
Pergerakan harga CPO dunia sebagai indikator dini harga minyak goreng eceran 1-2 bulan ke depan, terutama sejauh mana permintaan biodiesel B50 menekan pasokan untuk konsumsi.
Penutup
Cabai memang selalu jadi komoditas paling berisik setiap kali cuaca berulah — harganya gampang meroket, gampang juga jadi bahan berita. Yang membuat awal September 2026 layak diwaspadai lebih serius bukan cabainya, tapi fakta bahwa beras dan minyak goreng, dua bahan pokok yang selama ini jadi jangkar stabilitas harga makan orang Indonesia, mulai bergerak ke arah yang sama. Kalau jangkar itu ikut lepas, yang perlu kamu hitung bukan lagi berapa harga sambal minggu ini, tapi berapa lama dompetmu bisa bertahan sebelum panen berikutnya benar-benar datang.
Sumber
ANTARA News — PIHPS catat harga cabai rawit Rp82.700/kg, telur ayam Rp29.650/kg
ANTARA News — PIHPS catat harga cabai rawit Rp83.050/kg, telur ayam Rp29.650/kg
IDX Channel — Harga Pangan Kembali Melonjak, Cabai Tembus Rp95.000 dan Daging Ayam Rp50.000 per Kg
Okezone Economy — Harga Pangan Hari Ini: Bawang, Beras, Cabai hingga Minyak Goreng Naik
Insider Indonesia — Update Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Meroket Menjadi Rp82.700 per Kg
Bisnis.com — Harga Cabai Meroket 103%, Efek El Niño Mulai Terasa
Liputan6 — Harga Pangan 8 & 22 Agustus 2026: Cabai Rawit Merah
Kompas TV — El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Imbau Waspada Kekeringan
BMKG — Musim Kemarau di Bawah Normal dan El Nino Kuat
Media Indonesia — BPS Inflasi Tahunan Agustus 2026 Capai 3,19 Persen, Pemicunya
The Iconomics — Inflasi Agustus 2026 Capai 0,21%, Harga Daging Ayam dan Cabai Jadi Pendorong Utama
NU Online — INDEF Sebut Krisis Pangan Mengintai Indonesia, Ini Tiga Faktor Pemicunya
Kompas.com (Money) — Stok Beras 5,4 Juta Ton, Tapi El Nino Menguji Ketahanan Pangan
Tirto.id — Purbaya Waspada Dampak El Nino Ganggu Sektor Pangan & Energi
CNBC Indonesia — Siap-Siap Harga CPO Bisa Merangkak, Ini Penyebabnya
InfoSAWIT — B50 dan Ancaman El Nino Jadi Penopang Harga CPO
Antara News — BI dan Pemerintah Perkuat Strategi Pengendalian Inflasi Pangan
Databoks — Harga Cabai Melonjak Jelang Akhir 2023, Rawit Merah Paling Mahal
Media Indonesia — Bank Mandiri: El Nino Berpeluang Bikin Inflasi Sentuh 3,5 Persen di Akhir 2026