Lewati ke konten
blabak.

Hormuz Efektif Tertutup: IRGC Pungut 'Tol' $2 Juta per Tanker di Tengah Rudal ke Kuwait, UEA, dan Yordania

Iran serang tiga pangkalan Teluk & resmikan tol $2 juta per tanker di Hormuz. Ini hitungan dampaknya ke harga BBM dan subsidi APBN Indonesia.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Dalam 48 jam (1-3 September 2026), Iran menembakkan rudal balistik dan drone ke pangkalan AS dan sekutunya di Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania โ€” plus Bahrain dan Irak โ€” sebagai balasan atas serangan udara AS yang menewaskan warga sipil di sebuah pesta pernikahan di Iran selatan.

  • Di tengah baku hantam itu, sistem "tol" resmi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz โ€” jalur laut yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia โ€” dikonfirmasi berjalan penuh: kapal tanker membayar hingga USD2 juta (sekitar Rp32,6 miliar) sekali lintas.

  • Lalu lintas kapal di selat itu nyaris lumpuh, dan harga minyak dunia (Brent dan WTI) melonjak ke kisaran USD90โ€“96 per barel โ€” jauh di atas asumsi USD70 per barel yang dipatok pemerintah Indonesia dalam APBN 2026.

  • Rupiah melemah ke sekitar Rp17.744 per dolar AS, jauh di atas kisaran normalnya Rp15.800โ€“16.200 pada 2024โ€“2025, memperberat ongkos impor energi yang dibayar pakai dolar.

  • Ironisnya, sejumlah ekonom energi memperingatkan tol IRGC sendiri bukan penyebab utama harga minyak melonjak โ€” kerusakan infrastruktur Teluk dan premi risiko pasarlah yang lebih menentukan arah harga ke depan.

Tiga Pangkalan dalam 48 Jam

Gencatan senjata yang diteken Iran dan AS pada 19 Juni 2026 sebenarnya sempat meredakan perang yang pecah sejak akhir Februari. Tapi ia rapuh โ€” Iran kembali menutup Hormuz hanya beberapa hari kemudian, dan sejak itu bentrokan sporadis terus muncul. Yang terjadi awal September adalah eskalasi paling tajam sejak gencatan senjata itu runtuh.

Pemicunya adalah serangan AS pada 1 September ke kawasan Kuhestak, dekat Bandar Sirik di Iran selatan, yang menyasar posisi IRGC. Serangan itu meleset dan mengenai sebuah rumah tempat pesta pernikahan berlangsung โ€” menewaskan 4-5 orang, termasuk anak berusia empat tahun, dan melukai lebih dari 60 orang. Komando Pusat AS (CENTCOM) tengah menyelidiki insiden ini, sementara pejabat AS termasuk Wakil Presiden JD Vance menyatakan skeptis terhadap klaim Iran soal jumlah korban.

Hitungan menit setelah serangan itu, IRGC membalas dengan rudal dan drone ke pangkalan AS di Yordania dan Kuwait. Sehari kemudian, giliran laut yang jadi ajang: Iran mengklaim dua kapal tanker menghantam ranjau laut di Hormuz (klaim yang dibantah AS), sementara militer AS untuk pertama kalinya menyasar langsung dua kapal tanker milik pemerintah Iran yang berlabuh di lepas pantai โ€” bagian dari paket serangan yang disebut menghantam sekitar 100 target terkait IRGC.

Puncaknya pada 3 September: Iran meluncurkan rudal balistik dan drone secara nyaris bersamaan ke pangkalan di Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, dan Irak. Di Yordania, militer berhasil mencegat 10 dari 13 rudal yang menyasar pangkalan udara Prince Hassan โ€” tempat hanggar drone jarak jauh RQ-4 dan MQ-9 โ€” sementara tiga sisanya jatuh di area terpencil. Di Bahrain, sasarannya fasilitas radar di pangkalan udara Sheikh Isa. Juru bicara militer Iran menegaskan pihaknya "tidak akan lagi menahan diri."

Ini bukan lagi baku tembak dua negara. Dalam waktu kurang dari tiga hari, Iran menunjukkan kemampuan menyerang lima negara Teluk sekaligus โ€” dan yang lebih penting untuk kamu sebagai pembaca ekonomi: menunjukkan siapa yang sekarang benar-benar mengendalikan jalur pelayaran paling vital di dunia.

Pos Tol di Tengah Laut

Inilah bagian yang jarang disorot di balik gemuruh rudal: Iran tidak perlu menutup Hormuz secara fisik untuk menguasainya. Sejak Maret 2026, IRGC mulai memungut biaya transit dari kapal yang melintas โ€” dan pada awal September, sistem itu dikonfirmasi beroperasi penuh sebagai kebijakan resmi, bukan lagi praktik informal di lapangan.

Mekanismenya: kapal yang ingin lewat dengan "aman" membayar hingga USD2 juta per kali lintas kepada otoritas Iran. Pembayaran bisa dalam yuan China lewat Kunlun Bank menggunakan jalur kliring CIPS โ€” sengaja di luar sistem SWIFT milik Barat agar sulit dilacak dan disanksi โ€” atau lewat mata uang kripto seperti Bitcoin. Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyebutnya terang-terangan di televisi pemerintah: "Mengumpulkan biaya transit USD2 juta dari sejumlah kapal yang melintasi selat mencerminkan kekuatan Iran."

Kalau dihitung kasar, potensi pendapatan dari sistem ini bisa mencapai USD20 juta per hari dari tanker minyak saja, dan USD600-800 juta per bulan jika kapal LNG (gas alam cair) ikut dihitung. Sebagai perbandingan skala: itu setara devisa ekspor sejumlah komoditas menengah suatu negara kecil โ€” dipungut bukan oleh negara yang diakui dunia menguasai jalur itu, tapi oleh milisi bersenjata yang sedang berperang dengan Washington.

Dampaknya ke lalu lintas kapal terlihat jelas. Menurut pemantau maritim Windward AI, arus kapal di Hormuz nyaris kolaps โ€” hanya belasan pelintasan tercatat dalam sepekan, jauh dari kondisi normal sebelum krisis di mana selat itu biasa dilewati puluhan kapal tanker per hari. China, India, Pakistan, Malaysia, dan Irak dilaporkan mulai bernegosiasi langsung dengan Teheran soal jalur transit โ€” sebuah pengakuan diam-diam bahwa untuk sementara, Iran-lah yang memegang kendali pintu gerbang itu, bukan hukum laut internasional.

Kenapa Harga Minyak Naik Bukan Cuma karena Tol

Di sinilah perlu kejujuran: tol USD2 juta itu sendiri, kalau dipecah per barel muatan sebuah tanker besar, hanya menambah sekitar USD1 per barel โ€” angka yang kecil dibanding lonjakan harga minyak dunia yang sudah mendekati USD90-96 per barel. Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics, mengingatkan bahwa biaya produksi minyak di banyak negara Teluk hanya sekitar USD20 per barel โ€” jadi tol itu bukan penjelasan utama kenapa harga melambung setinggi ini.

Yang sebenarnya lebih menentukan, menurut Shearing, adalah "premi risiko permanen" yang kini melekat di pasar minyak โ€” ekspektasi bahwa harga akan tetap tinggi berbulan-bulan selama Iran memegang kendali de facto atas selat itu, terlepas dari ada-tidaknya tol. Sassan Ghahramani dari SGH Macro Advisors menegaskan hal serupa dari sudut lain: "Masalah lebih besar bagi harga minyak adalah kerusakan infrastruktur, bukan tolnya" โ€” mengacu pada risiko fasilitas minyak dan gas Teluk ikut jadi sasaran serangan.

Analis Rystad Energy, Artem Abramov, menambahkan satu lapisan biaya lagi yang sering luput dari berita utama: tarif pengapalan dan premi asuransi risiko perang. Premi ini sempat naik dari sekitar 0,25% menjadi 1-1,5% dari nilai kapal per pelayaran pada eskalasi awal, dan menurut laporan industri sempat menyentuh sekitar 5% dari nilai kapal untuk rute Hormuz โ€” naik dari sekitar 2% setelah kesepakatan Juni sempat meredakan situasi. Beberapa klub asuransi maritim besar seperti Gard, Skuld, dan NorthStandard bahkan sempat menghentikan perlindungan risiko perang untuk rute Teluk; Lloyd's of London menyatakan perlindungan masih tersedia, tapi dengan harga jauh lebih mahal. Biaya-biaya inilah yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen โ€” bukan cuma tol IRGC.

Kenapa APBN Ikut Kena Getahnya

Buat Indonesia, rantai dampaknya lugas tapi berat. Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, dan sekitar 19-20% dari impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah yang melintasi Hormuz. Ketika harga minyak dunia melompat ke USD90-96 per barel โ€” jauh di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD70 per barel yang jadi dasar perhitungan APBN 2026 โ€” beban itu langsung menabrak dua sisi anggaran negara sekaligus.

Menurut Nota Keuangan RAPBN 2026, setiap kenaikan ICP USD1 per barel menambah pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun (dari royalti dan pajak migas), tapi menambah belanja negara โ€” terutama subsidi dan kompensasi energi โ€” sekitar Rp10,3 triliun. Selisihnya, sekitar Rp6,8 triliun tambahan defisit untuk tiap kenaikan USD1. Kalau harga bertahan di kisaran USD90-100 per barel โ€” 20-30 dolar di atas asumsi โ€” potensi tambahan defisit bisa mencapai lebih dari Rp150-200 triliun, di luar beban subsidi energi yang dalam APBN 2026 sudah dipatok Rp210 triliun.

Rupiah yang melemah memperparah hitungan ini dari sisi lain. Data awal September menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.744 per dolar AS โ€” jauh di atas rentang "normal" Rp15.800-16.200 yang berlaku sepanjang 2024-2025, meski penting dicatat pelemahan ini bukan cuma reaksi sepekan terakhir, melainkan akumulasi enam bulan lebih perang yang membuat rupiah sempat menyentuh Rp17.000 sejak Maret. Tiap pelemahan Rp100 terhadap dolar menambah sekitar Rp0,8 triliun defisit, karena minyak dan produk turunannya dibeli pakai dolar sementara sebagian besar penerimaan negara dalam rupiah.

Dalam skenario dasar, Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 melebar dari 2,68% menjadi 2,85% dari PDB. Tapi kalau harga minyak menyentuh USD100 per barel dengan rupiah di Rp17.000, defisit berpotensi melampaui batas hukum 3% PDB. Skenario terburuk yang disebut sejumlah lembaga riset seperti Celios โ€” harga minyak USD100-120 per barel โ€” bisa membawa defisit ke 5-6% PDB dengan tambahan beban subsidi energi hingga Rp544 triliun. Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menyebut situasi ini sebagai bukti bahwa geoekonomi kini jadi alat kekuasaan strategis: ketegangan yang jauh dari Jakarta bisa memicu guncangan fiskal yang sangat nyata di dalam negeri.

Sembilan Hari Tanpa Pasokan

Ada satu angka yang jarang dibahas tapi krusial untuk ketahanan energi Indonesia: kapasitas stok bahan bakar nasional cuma cukup untuk 14-20 hari konsumsi. Karena waktu pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Indonesia sekitar 11 hari, buffer efektif yang tersisa kalau pasokan dari sana benar-benar terhenti hanya sekitar 9 hari. Sebagai pembanding, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) diwajibkan menyimpan cadangan setara minimal 90 hari impor neto โ€” Indonesia jauh di bawah standar itu, meski bukan anggota IEA.

Untungnya, Indonesia tidak 100% bergantung pada Hormuz. Pemasok minyak mentah lain seperti Nigeria (26-28% dari total impor), Angola (21%), dan Arab Saudi (18-20%) turut menopang, sementara untuk produk olahan seperti Pertalite dan Pertamax, Singapura mendominasi 38-43% pasokan. Pertamina sejak awal krisis pada Maret sudah mulai mencari sumber alternatif dan sempat punya kapal yang terjebak di Hormuz. Tapi diversifikasi ini punya batas: kalau harga minyak dunia naik karena Hormuz terganggu, harga dari Nigeria atau Angola pun ikut naik โ€” karena ini pasar global yang saling terhubung, bukan pasar terpisah yang kebal dari gejolak Teluk.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk masuk ke bisnis yang berat di ongkos energi atau impor tanpa rencana mitigasi โ€” logistik lintas negara, trading bahan baku petrokimia, atau usaha yang bergantung pada barang impor dari jalur yang lewat Timur Tengah. Kalau tetap ingin jalan, siapkan margin harga yang lebih longgar dari biasanya, dan pahami dulu istilah hedging โ€” mengunci nilai tukar atau harga bahan baku di awal supaya tidak kaget kalau rupiah makin melemah atau harga minyak melonjak lagi. Usaha yang justru punya peluang: apa pun yang menghemat energi atau menggantikan barang impor, karena tren ini kemungkinan bertahan lebih dari sebulan-dua bulan.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu bergantung pada bahan baku berbasis minyak โ€” plastik, pupuk, kimia, atau sekadar ongkos kirim โ€” saatnya membuka ulang kontrak dengan pemasok dan cek apakah ada klausul penyesuaian harga BBM (fuel surcharge). Pertimbangkan front-loading โ€” beli lebih banyak stok bahan baku sekarang selagi harga belum makin naik โ€” kalau arus kas memungkinkan, dan diskusikan dengan bank soal instrumen lindung nilai untuk kontrak impor dalam dolar. Kalau kamu di sektor pelayaran atau ekspor-impor, pantau langsung kenaikan premi asuransi kapal karena itu bisa membengkak berkali lipat dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Untuk masyarakat luas

Kalau harga minyak dunia bertahan tinggi lebih dari sebulan, tekanan ke harga BBM bersubsidi dan barang kebutuhan sehari-hari (yang ongkos distribusinya naik) kemungkinan besar terasa di dompet, meski pemerintah biasanya menahan penyesuaian harga Pertalite/Pertamax untuk meredam gejolak sosial. Yang perlu diwaspadai justru barang-barang yang diam-diam naik lebih dulu โ€” plastik kemasan, pupuk, tarif ojek online dan logistik โ€” karena produsen biasanya menyesuaikan harga lebih cepat daripada pemerintah menyesuaikan subsidi.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis harga ICP resmi dari Kementerian ESDM akhir September 2026 โ€” akan jadi indikator seberapa jauh realisasi harga minyak Indonesia melenceng dari asumsi APBN USD70/barel.

  • Data inflasi BPS awal Oktober 2026, untuk melihat apakah tekanan harga energi sudah merembes ke harga barang konsumsi.

  • Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berikutnya soal suku bunga dan intervensi rupiah, terutama jika pelemahan menembus Rp17.800-18.000.

  • Data lalu lintas tanker Hormuz dari pemantau seperti Windward AI dan Lloyd's List โ€” apakah makin banyak kapal memilih memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang berarti ongkos dan waktu kirim makin panjang.

  • Sinyal dari Kementerian Keuangan soal kemungkinan revisi asumsi makro atau penyesuaian anggaran subsidi energi jika harga minyak bertahan di atas USD90/barel lebih dari satu kuartal.

Penutup

Selama enam bulan terakhir, cerita soal Hormuz selalu dibingkai sebagai "jalur yang terancam ditutup." Fakta 1-3 September ini mengubah bingkainya: jalur itu tidak perlu ditutup kalau ada yang sudah memungut biaya untuk membukanya. Iran tidak butuh menang perang untuk mendapat keuntungan dari perang ini โ€” cukup membuat dunia percaya bahwa lewat Hormuz sekarang butuh izin dan bayaran darinya. Buat Indonesia, itu berarti tagihannya datang lewat dua pintu sekaligus โ€” harga minyak yang lebih mahal dan rupiah yang lebih lemah โ€” dan keduanya sudah terlihat di angka minggu ini, jauh sebelum keputusan politik apa pun diambil di Jakarta.

Sumber

  • Al Jazeera โ€” liputan langsung perang Iran 1-2 September 2026 dan investigasi serangan pesta pernikahan di Sirik

  • Critical Threats Project (ISW) โ€” Iran Update 3 September 2026

  • GlobalSecurity.org โ€” laporan harian Iran War Operational Update dan RFE/RL soal serangan ke Kuwait dan UEA

  • CNBC โ€” laporan klaim ranjau laut Iran dan serangan balasan AS ke tanker Iran

  • The Jerusalem Post โ€” rincian serangan rudal dan drone ke Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Irak

  • Fox News โ€” investigasi mekanisme tol USD2 juta IRGC di Selat Hormuz

  • Kurdistan24 โ€” konfirmasi operasional penuh sistem tol Hormuz

  • CBS News โ€” analisis skeptis ekonom soal dampak riil tol Hormuz terhadap harga minyak

  • Wikipedia โ€” kronologi 2026 Strait of Hormuz crisis dan Timeline of the 2026 Iran war

  • Kemenkeu (DJPB) โ€” analisis sensitivitas APBN 2026 terhadap harga minyak dan kurs

  • Reforminer Institute โ€” efek domino Selat Hormuz terhadap APBN dan ketahanan energi Indonesia

  • Bisnis.com โ€” proyeksi defisit APBN 2026 dan pandangan CORE, INDEF, Celios

  • Koran Jakarta โ€” data pergerakan rupiah awal September 2026

  • CNBC Indonesia & Katadata โ€” data porsi impor minyak Indonesia lewat Selat Hormuz