Lewati ke konten
blabak.

Minyak Tembus $100, IEA Sebut Ini Gangguan Pasokan Terbesar Sepanjang Sejarah — Begini Getahnya ke APBN dan Rupiah RI

Gencatan senjata Iran-AS kolaps, Selat Hormuz nyaris lumpuh, minyak tembus $100. IEA sebut ini terparah sepanjang sejarah — subsidi BBM RI bisa bengkak Rp130 T.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Gencatan senjata Iran-AS yang diteken 17 Juni di Islamabad resmi kolaps 1 September 2026: CENTCOM (Komando Pusat militer AS untuk Timur Tengah) menghantam sekitar 100 target di Iran, Iran membalas ke pangkalan AS di lima negara sekaligus.

  • Brent kembali menembus $100/barel pada 9 September dan sempat memuncak $108 pada 11 September setelah pipa minyak utama Arab Saudi ditutup akibat serangan — meski masih di bawah rekor $126 pada April lalu.

  • IEA (badan energi negara-negara maju) menyebut ini "gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global" — bukan karena harganya tertinggi, tapi karena ekspor solar dari Teluk masih tersumbat di seperempat level normal, lima bulan beruntun.

  • Celios memproyeksikan subsidi BBM Indonesia bisa bengkak Rp120-130 triliun jika harga minyak bertahan di $90-100/barel — dan ICP (Indonesian Crude Price, harga acuan minyak mentah RI) bulan Agustus saja sudah $89,43, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar $70.

  • Rupiah tertekan ke kisaran Rp17.700-an, melemah sekitar 12% dari rata-rata normalnya Rp15.800-an di 2024 — dan baru saja mendapat tekanan tambahan dari The Fed yang menaikkan suku bunga ke 3,75%-4,00% dini hari tadi (17/9), kenaikan pertama sejak 2023.

Ceasefire yang Cuma Bertahan 76 Hari

Perang ini sebenarnya sudah berjalan sejak 28 Februari 2026, saat serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Dalam hitungan minggu, Iran menutup Selat Hormuz — jalur sempit yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia — dan Brent yang tadinya di kisaran $65/barel melonjak tembus $100 pada 8 Maret, lalu memuncak $126/barel awal April. Kondisinya sempat begitu parah sehingga IEA melepas 400 juta barel cadangan minyak daruratnya pada 11 Maret, penarikan terbesar dalam sejarah 52 tahun lembaga itu.

Pada 17 Juni, di Islamabad, AS dan Iran akhirnya sepakat gencatan senjata 60 hari. Selat Hormuz dibuka lagi tanpa pungutan, Iran setuju membersihkan ranjau yang mereka pasang. Harga minyak melandai, Pertamax turun, dan untuk sesaat semua orang bernapas lega.

Kelegaan itu ternyata cuma sementara. Sejak Juli, kesepakatan mulai rapuh karena perselisihan soal siapa yang berhak mengatur lalu lintas kapal di selat itu. ICP naik pelan dari $81,68 (Juli) ke $89,43 (Agustus). Lalu pada 1 September, semuanya pecah lagi — kali ini dengan skala yang jauh lebih besar dari eskalasi-eskalasi sebelumnya. CENTCOM menghantam sekitar 100 target di pesisir selatan Iran: radar, sistem pertahanan udara, fasilitas angkatan laut, kemampuan penanaman ranjau, hingga dua kapal tanker milik negara Iran sebagai bagian dari kebijakan "tanker-untuk-tanker" yang disetujui langsung oleh Presiden AS. Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS dan sekutunya di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan UEA dalam satu hari yang sama.

Sepuluh hari kemudian, 11 September, pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi — jalur alternatif yang selama ini jadi penyelamat saat Hormuz tersumbat — ikut ditutup setelah serangan drone Houthi ke pangkalan militer Saudi. Rupiah, yang sempat pulih ke bawah Rp17.000 selama masa gencatan, langsung anjlok ke Rp17.744 pada hari pertama serangan.

Kenapa IEA Bilang Ini yang Terparah — Padahal Harganya Belum Sekencang April

Di sinilah bagian yang gampang disalahpahami. Puncak harga minyak bulan ini — $108 pada 11 September, dengan laporan intraday sempat menyentuh $116 — sebenarnya masih di bawah rekor $126 pada April. Tapi IEA tetap menyebut situasi September ini sebagai bagian dari "gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah pasar global." Kok bisa harga lebih rendah tapi disebut lebih parah?

Jawabannya: yang diukur bukan cuma harga sesaat, tapi kerusakan pasokan yang menumpuk selama berbulan-bulan. Ekspor solar dan gasoil dari negara-negara Teluk pada Agustus rata-rata cuma 390.000 barel per hari — sedikit di atas seperempat dari level sebelum perang. Lima bulan berturut-turut Teluk gagal pulih ke kapasitas normal, bahkan sebelum eskalasi 1 September terjadi. Laporan IEA edisi September memangkas lagi proyeksi permintaan minyak dunia tahun ini sebesar 940.000 barel per hari, sehingga total konsumsi global diperkirakan turun 2,5 juta barel per hari sepanjang 2026 — penurunan tahunan terburuk kedua dalam 60 tahun, kalah cuma dari anjloknya permintaan saat pandemi Covid-19. Sisi pasokan diproyeksikan menciut 5,7 juta barel per hari, sekitar 6% lebih rendah dari 2025.

Angka ini baru masuk akal kalau dibandingkan dengan krisis-krisis minyak besar sebelumnya. Embargo minyak Arab 1973 dan Perang Teluk 1990 sama-sama menghilangkan sekitar 4-6 juta barel per hari pasokan dunia di puncaknya. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 — yang bikin harga energi Eropa meroket — "cuma" memangkas sekitar 1 juta barel per hari. Perang Iran tahun ini, di titik terparahnya Maret lalu, memangkas rata-rata 10 juta barel per hari dari pasokan global. Bank Sentral Eropa bahkan sudah mengonfirmasi bahwa efek jangka pendek perang ini terhadap pasokan minyak dunia lebih besar dari gabungan tiga krisis energi sebelumnya (1973, 1979, dan 2022). Ini bukan sekadar lonjakan harga musiman — ini keretakan struktural di jalur energi yang selama 50 tahun dianggap paling aman di dunia.

Dari Selat Hormuz ke Dompet Negara

Indonesia bukan pemain kecil dalam matematika ini, meski jauh dari medan perang. Produksi minyak dalam negeri cuma sekitar 600.000 barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari — artinya sekitar 1 juta barel per hari harus diimpor, dan itu dibeli pakai dolar yang mahal.

Kementerian Keuangan sendiri sudah punya rumus baku untuk menghitung dampaknya: setiap kenaikan $1 pada ICP menambah belanja negara Rp10,3 triliun, sementara penerimaan negara cuma naik Rp3,5 triliun — sehingga defisit APBN melebar Rp6,8 triliun untuk tiap dolar kenaikan. APBN 2026 dirancang dengan asumsi ICP $70/barel; kenyataannya, ICP Agustus sudah $89,43, dan kalau rata-rata tahun ini bertahan di $90-100, Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan subsidi BBM bisa membengkak Rp120-130 triliun dari rencana awal. Angka itu sejalan dengan sinyal dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebut pemerintah tengah menyiapkan realokasi anggaran hingga Rp130 triliun demi memperkuat bantalan fiskal menghadapi dampak perang ini.

Yang membuat situasi ini lebih pelik: di saat yang sama, DPR dan Kementerian Keuangan justru sepakat memangkas usulan awal subsidi energi RAPBN 2027 dari Rp272,95 triliun menjadi Rp261,5 triliun — sebuah keputusan yang diambil dengan asumsi harga minyak yang lebih tenang dari kenyataan hari ini. Kalau eskalasi ini berlanjut sampai penyusunan final APBN 2027 rampung, pemerintah kemungkinan besar harus merevisi lagi angka itu ke atas — atau menanggung defisit yang lebih dalam dari rencana. Sri Mulyani sendiri merancang defisit APBN 2026 di kisaran 2,48-2,53% terhadap PDB, tapi proyeksi terbaru sudah bergeser ke 2,85%, dengan risiko tembus 3% tanpa penyesuaian kebijakan lebih lanjut.

Rupiah Terjepit dari Dua Arah

Rupiah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp17.700-an per dolar AS — jauh di atas rata-rata normalnya sepanjang 2024 yang cuma Rp15.800-an, atau pelemahan sekitar 12%. Tekanannya datang dari dua arah sekaligus. Pertama, kebutuhan devisa (simpanan dolar milik negara dan swasta untuk transaksi internasional) untuk mengimpor minyak yang makin mahal, ditambah investor asing yang menarik dana dari pasar obligasi Indonesia (capital outflow) senilai ratusan juta dolar sejak awal konflik. Kedua — dan ini yang baru muncul minggu ini — The Fed dini hari tadi (17/9 WIB) menaikkan suku bunga acuannya ke 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023. Alasannya eksplisit: inflasi AS yang bertahan di 3,4% (dibanding periode sama tahun lalu) sebagian besar didorong oleh guncangan energi dari perang Iran itu sendiri. Enam belas dari delapan belas pejabat The Fed bahkan mengisyaratkan masih ada kemungkinan kenaikan lagi tahun ini.

Kenaikan suku bunga AS biasanya menarik dana investor kembali ke aset dolar yang kini menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah makin sulit menguat. Kabar baiknya, cadangan devisa Indonesia per Agustus tercatat US$146,5 miliar — setara pembiayaan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional 3 bulan — jadi Bank Indonesia masih punya amunisi untuk meredam gejolak, bukan dalam posisi genting seperti krisis 1998 atau 2013.

Siapa yang Kena Getahnya Duluan

Efeknya sudah terasa di pompa bensin. Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter sejak 1 September, Pertamax Green 95 melompat dari Rp16.600 ke Rp19.150. CNBC Indonesia bahkan memperingatkan Pertamax bisa tembus Rp20.000 kalau harga minyak dunia terus naik. BBM subsidi (Pertalite dan Solar) memang belum berubah — pemerintah menahannya secara politis — tapi menahan harga di pompa bensin bukan berarti biayanya hilang, cuma dipindahkan ke pos subsidi APBN.

Di sektor riil, PMI Manufaktur Indonesia (indeks yang mengukur aktivitas pabrik, di bawah 50 berarti kontraksi) jatuh ke 49,8 pada Agustus, dari ekspansi tipis di Juli. Pabrik-pabrik mengurangi tenaga kerja lewat pengunduran diri maupun PHK, membalikkan perbaikan yang sempat tercatat bulan sebelumnya — dipicu kombinasi permintaan lemah, biaya bahan baku tinggi, dan biaya energi-logistik yang terus menanjak.

Ada juga kritik yang perlu didengar sebelum buru-buru setuju subsidi harus dinaikkan lagi. Riset INDEF menemukan 63,1% konsumsi Pertalite bersubsidi justru dinikmati kelompok menengah-atas (desil 5-10), bukan yang benar-benar membutuhkan. Dengan subsidi Rp1.794 per liter, sekitar Rp39,46 triliun dana subsidi mengalir ke kelompok mampu — jauh melebihi Rp18,95 triliun yang sampai ke kelompok bawah. LPEM UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia) mengusulkan alternatif yang lebih efisien: bantuan tunai langsung (BLT) sekitar Rp500.000 per bulan selama 8 bulan untuk kelompok berpenghasilan rendah, dibanding menambal subsidi BBM secara pukul rata yang justru banyak "bocor" ke orang yang tidak membutuhkannya.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk memulai bisnis yang biayanya sangat bergantung pada BBM nonsubsidi atau logistik jarak jauh — katering delivery jarak jauh, jasa antar barang berat, atau ritel yang mengandalkan armada sendiri akan langsung kena tekanan margin di tahun pertama, saat cash flow-mu masih rapuh. Kalau tetap ingin jalan, cari model dengan biaya energi rendah relatif terhadap pendapatan — jasa digital, produk bernilai tambah tinggi per kilogram kirim, atau bisnis lokal yang tidak butuh rantai pasok panjang. Jangan juga tergoda all-in ke instrumen safe-haven seperti emas cuma karena harganya naik 48% dalam enam bulan terakhir — itu sinyal ketakutan pasar, bukan rekomendasi investasi buatmu yang baru mulai menabung modal usaha.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau usahamu bersentuhan dengan transportasi, manufaktur, atau distribusi, sekarang saatnya menghitung ulang struktur biaya dengan asumsi ICP $90-100 bertahan sampai akhir tahun, bukan berharap turun ke $70 seperti asumsi APBN. Pertimbangkan hedging biaya energi — mengunci harga BBM nonsubsidi atau kontrak sewa armada di muka supaya tidak kaget kalau harga melompat lagi — dan masukkan klausul penyesuaian harga BBM ke kontrak dengan pelanggan besar. Tapi hati-hati menaikkan harga jual terlalu agresif: PMI manufaktur yang kontraksi ke 49,8 menunjukkan permintaan sedang lemah, jadi menaikkan harga tanpa perhitungan bisa membuatmu kehilangan volume penjualan, bukan cuma menjaga margin.

Untuk masyarakat luas

Efek domino kenaikan harga BBM nonsubsidi dan biaya logistik biasanya merembet ke harga pangan dalam 1-2 bulan — Celios sudah mewanti-wanti potensi kenaikan harga ayam, telur, beras, dan sayuran. Kalau kamu memenuhi kriteria penerima bantuan sosial, pantau program bantuan tunai yang mungkin diperluas pemerintah sebagai kompensasi, karena arah kebijakan tampaknya bergeser dari subsidi harga pukul rata ke bantuan langsung yang lebih tepat sasaran. Dan kalau kamu pegawai dengan gaji tetap, ini saatnya realistis: kenaikan harga akan lebih cepat dari kenaikan gajimu tahun ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Laporan Oil Market Report IEA edisi Oktober 2026 — akan menunjukkan apakah ekspor Teluk mulai pulih dari 390.000 barel per hari, atau makin terpuruk.

  • Pengesahan UU APBN 2027 oleh DPR, dijadwalkan akhir September-awal Oktober 2026 — perhatikan apakah pos subsidi energi Rp261,5 triliun direvisi naik mengikuti realita harga minyak saat ini.

  • Pengumuman ICP resmi Kementerian ESDM setiap awal bulan — untuk melihat seberapa jauh rata-rata September-Oktober menyimpang dari asumsi $70/barel APBN 2026.

  • Kelanjutan pembicaraan Iran dengan negara-negara Teluk soal aturan lalu lintas Selat Hormuz, yang sempat tertunda pada 11 September — kegagalan dialog ini berisiko memicu eskalasi baru.

  • Rapat FOMC The Fed berikutnya, sekitar akhir Oktober 2026 — mengingat 16 dari 18 pejabat masih membuka opsi kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.

Penutup

Perang ini terjadi lebih dari 7.000 kilometer dari Jakarta, di selat yang mungkin tidak pernah kamu lewati dan tidak akan pernah kamu lihat langsung. Tapi jaraknya berhenti relevan begitu subsidi BBM yang membengkak Rp130 triliun harus dibayar dari pajak yang sama yang memotong gajimu, dan begitu rupiah yang melemah 12% membuat barang impor — dari gawai sampai bahan baku pabrik tempatmu bekerja — ikut naik harga. Yang membedakan krisis kali ini dengan yang Maret lalu bukan cuma skalanya yang menurut IEA sudah jadi rekor sejarah, tapi juga fakta bahwa kali ini tidak ada lagi kejutan: kita sudah pernah melihat pola ini sekali, dan sekarang tinggal menghitung berapa lama APBN sanggup jadi bantalan sebelum harus memilih antara menaikkan harga di pompa bensin atau membiarkan defisit melebar lebih jauh dari yang direncanakan.

Sumber

  • Wikipedia — 2026 Strait of Hormuz Crisis

  • OilPrice.com — Oil Prices Surge as Middle East Attacks Continue and Diplomacy Stumbles

  • LPEM FEB UI — Dampak Perang Iran-AS terhadap Perekonomian Indonesia

  • Antara — Harga Minyak Dunia Melonjak, Dampak Perang Iran ke Harga BBM Subsidi

  • IEA — Oil Market Report September 2026

  • Gulf News — 'Largest Oil Supply Disruption' in History Due to Mideast War, IEA

  • CNBC — Iran War Oil Diesel IEA Hormuz (11 September 2026)

  • CNBC Indonesia — Rancangan Awal RAPBN 2027: Arah Kebijakan Subsidi BBM-Listrik

  • CNBC Indonesia — Kabar Buruk Awal September: PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik

  • Bisnis.com — AS-Iran Kembali Memanas, Defisit APBN 2026 Diproyeksi Semakin Melebar

  • Periskop.id — Perang Iran vs AS Bikin Subsidi BBM Bengkak, Tapi 63% Pertalite Dinikmati Orang Mampu (data INDEF)

  • CNBC — Fed Rate Decision September 2026

  • TradingPedia — Rupiah Firms as Dollar Pauses Rally Before Fed Rate Decision

  • IDX Channel — Cadangan Devisa Indonesia Capai USD146,5 Miliar per Agustus 2026

  • Critical Threats / CENTCOM Public Releases — CENTCOM Completes Strikes on IRGC Targets in Iran