Lewati ke konten
blabak.

Pasar Pasang Taruhan The Fed Naik Lagi 28 Oktober, BI Malah Harus Putuskan Duluan

Yield obligasi AS tembus 5,29%, rupiah lewat Rp18.000. Tapi yang bikin runyam: BI harus putuskan BI-Rate sebelum tahu langkah The Fed 28 Oktober.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pasar global sedang menimbang kemungkinan The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps, satuan 0,01 persen) lagi pada 28 Oktober 2026 — ini beda dari kenaikan ke 3,75–4% yang sudah terjadi pertengahan September.

  • Yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,29% per 1 Oktober — tertinggi dalam hampir dua dekade — mendorong dana global balik ke aset dolar dan menjauh dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

  • Rupiah sudah tembus Rp18.024/US$ akhir September, jauh di atas kisaran normalnya 2024–2025 di sekitar Rp15.800–16.200; IHSG ikut terkoreksi dan dana asing kabur Rp105 triliun sepanjang tahun berjalan.

  • Yang jarang disorot: Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini jatuh pada 20–21 Oktober — seminggu sebelum The Fed mengumumkan keputusannya. BI harus bertaruh duluan, tanpa tahu langkah The Fed.

  • Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75%, tapi mulai mengurangi porsi intervensi pasar spot (cara paling boros devisa) ke tinggal 30% dari total — sinyal bahwa amunisi mulai dijaga ketat.

Dari 93,6% ke Nyaris Lempar Koin: Apa Kata Pasar Sebenarnya

Begini kronologinya. Pertengahan September, tepat sebelum The Fed resmi menaikkan suku bunga ke 3,75–4%, CME FedWatch (alat yang menghitung probabilitas keputusan The Fed berdasarkan harga kontrak berjangka di pasar) sempat menunjukkan peluang kenaikan lanjutan di 28 Oktober mencapai 93,6% — melonjak dari 84% sehari sebelumnya. Pemicunya ganda: inflasi AS yang masih membandel di 3,4% dibanding periode sama tahun lalu, jauh di atas target The Fed sebesar 2%, ditambah harga minyak Brent yang menembus US$109,80 per barel akibat konflik di Selat Hormuz yang belum juga reda sejak akhir Februari.

Tapi angka itu tidak statis. Sepekan kemudian, 24 September, peluangnya turun ke 71%. Lalu per 30 September, pejabat Bank Indonesia sendiri mengutip angka 65% saat ditanya wartawan. Di platform prediksi lain seperti Kalshi, taruhannya malah nyaris 50-50 — sekitar 44% untuk kenaikan versus 54-56% untuk suku bunga ditahan. Bukan berarti ada yang salah hitung; CME FedWatch dan Kalshi memakai instrumen dan basis peserta yang berbeda, tapi keduanya sepakat pada satu hal: ekspektasi pasar berubah-ubah drastis hanya dalam dua minggu, jauh dari kesan "sudah pasti naik" yang sering muncul di headline.

Yang lebih stabil justru pasar obligasi. Yield Treasury 10 tahun terus merangkak naik — dari sekitar 5,00% pertengahan September ke 5,29% awal Oktober — dan yield tenor 30 tahun malah menyentuh 5,48%, tertinggi sejak 2004. Pasar obligasi biasanya lebih "jujur" soal ekspektasi jangka menengah dibanding taruhan mingguan di FedWatch, dan sinyalnya konsisten: uang global memang bersiap untuk suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama, baik The Fed jadi menaikkan di 28 Oktober atau tidak.

Rupiah Tembus Rp18.000, BI Pelit Bakar Devisa

Efeknya ke rupiah sudah terasa sebelum The Fed memutuskan apa pun. Rupiah menyentuh Rp18.024/US$ pada 29 September — level yang kalau dibandingkan dengan kisaran normalnya di Rp15.800–16.200 sepanjang 2024–2025, berarti pelemahan yang cukup dalam, bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Bank Indonesia bilang ini bukan cuma soal The Fed, tapi juga harga minyak dunia yang mendekati US$108 per barel akibat Selat Hormuz, sehingga tekanannya datang dari dua arah sekaligus.

Yang menarik, cara BI merespons mulai berubah. Biasanya saat rupiah tertekan, bank sentral masuk ke pasar spot (membeli rupiah langsung dengan dolar cadangan) untuk menahan laju pelemahan. Tapi intervensi spot ini mahal — langsung menggerus cadangan devisa (simpanan dolar milik negara). Deputi Gubernur BI Erwin Gunawan Hutapea secara terbuka menyebut porsi intervensi spot kini sengaja ditekan jadi tinggal 30% dari total, sisanya dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih "hemat" devisa: transaksi DNDF (forward tanpa serah fisik di pasar domestik), NDF di pasar luar negeri, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Cadangan devisa Indonesia sendiri turun ke US$145,3 miliar per akhir Juli sebelum sedikit naik ke US$146,5 miliar di Agustus — tapi secara year-to-date tetap susut 7,16% atau sekitar US$11,2 miliar dari posisi akhir 2025. Secara teknis masih aman, setara 5,4 bulan impor, jauh di atas ambang batas internasional 3 bulan. Tapi arah trennya yang menurun, ditambah keputusan menahan diri dari intervensi spot, membuat Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira skeptis: menurutnya intervensi lewat pasar offshore atau NDF "tidak akan efektif untuk menstabilkan nilai tukar rupiah secara berkelanjutan" — karena yang digarap hanya ekspektasi pasar, bukan ketimpangan pasokan-permintaan dolar yang sesungguhnya. Dengan kata lain, BI sedang menghemat peluru sambil berharap pasar percaya pada bluff-nya.

Jebakan Waktu: RDG BI Duluan, FOMC Belakangan

Ini bagian yang jarang dibahas tapi penting: jadwal RDG BI bulan ini digelar 20–21 Oktober 2026, sementara FOMC baru mengumumkan keputusannya pada 28 Oktober waktu AS — atau sekitar dini hari 29 Oktober WIB. Artinya, BI harus menentukan sikap lebih dulu, tanpa tahu persis apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga atau menahan di 3,75–4%.

Situasi ini membuat ruang gerak BI makin sempit dari biasanya. Kalau BI menahan BI-Rate di 5,75% pada 20–21 Oktober dan ternyata The Fed menaikkan suku bunga seminggu kemudian, selisih bunga (yang menentukan seberapa menarik rupiah bagi investor asing dibanding dolar) akan makin menipis tepat di saat BI sudah "menembak duluan" dan kehabisan amunisi kebijakan untuk merespons cepat. Sebaliknya, kalau BI menaikkan BI-Rate lebih dulu sebagai langkah antisipasi dan The Fed ternyata menahan, BI berisiko mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik untuk ancaman yang tidak terjadi.

Tak heran para ekonom mulai menaikkan proyeksi. Josua Pardede, ekonom Bank Permata, merevisi perkiraannya dengan memasukkan tambahan kenaikan 25 bps sehingga BI-Rate diproyeksikan mencapai 6,00% pada akhir 2026. Ekonom Bank Danamon bahkan lebih agresif, memproyeksikan 6,25%. Sementara M. Rizal Taufikurahman dari INDEF menyebut peluang kenaikan BI-Rate pada Oktober-November akan makin besar "apabila depresiasi berlangsung cepat, arus modal keluar membesar, dan ekspektasi inflasi terganggu" — tiga syarat yang, sejujurnya, sudah mulai terpenuhi satu per satu.

Di sisi lain, BI sendiri tetap berhati-hati berkomentar. Erwin Gunawan Hutapea menegaskan kebijakan suku bunga itu "data dependent" dan "enggak ada yang bisa bilang sekarang apa yang akan dilakukan oleh BI". Sikap menahan diri ini make sense secara institusional, tapi juga menyiratkan bahwa internal BI sendiri belum punya pegangan pasti — padahal keputusan harus diambil dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Tekanan ini bertemu dengan data domestik yang juga kurang bersahabat. Hari ini, 1 Oktober, BPS merilis data inflasi September dengan konsensus pasar memperkirakan 3,30% dibanding periode sama tahun lalu — naik dari 3,19% di Agustus. Pendorongnya bukan cuma rupiah yang lemah (yang membuat barang impor seperti elektronik, mobil, dan motor ikut naik harga), tapi juga harga cabai rawit yang melonjak lebih dari 30% dan kenaikan harga BBM non-subsidi 7–20% sejak awal September. Kombinasi inflasi domestik yang menanjak dengan rupiah yang tertekan adalah skenario yang paling tidak disukai bank sentral mana pun, karena memaksa pilihan antara menjaga stabilitas harga atau menjaga pertumbuhan.

Minyak, Utang, dan APBN yang Ikut Terseret

Ada satu lapisan tekanan lagi yang sering luput: ongkos utang negara. Yield SBN (Surat Berharga Negara, obligasi pemerintah Indonesia) tenor 10 tahun sempat menyentuh 7,008% akhir September — jauh di atas level normal yang biasanya di kisaran 6,5-6,8% dalam dua tahun terakhir. Setiap kenaikan yield berarti pemerintah harus membayar bunga lebih mahal setiap kali menerbitkan surat utang baru, dan itu terjadi persis saat defisit APBN 2027 sudah diproyeksikan Rp671,16 triliun atau 2,4% dari PDB.

Harga minyak jadi beban ganda. Dengan Brent masih bertahan di atas US$108 per barel akibat Selat Hormuz yang belum juga terbuka normal, pemerintah menghadapi matematika yang menyakitkan: setiap kenaikan US$1 pada harga minyak mentah Indonesia (ICP) hanya menambah pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun, tapi menambah belanja (terutama subsidi energi) sekitar Rp10,3 triliun — jadi defisit melebar sekitar Rp6,8 triliun untuk tiap dolar kenaikan harga minyak. Subsidi energi tahun ini sudah diperkirakan membengkak hingga Rp210 triliun. Inilah kenapa Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Gubernur BI Destry Damayanti sampai menyepakati lima pilar koordinasi fiskal-moneter — mulai dari menjaga likuiditas pasar uang sampai mendalamkan pasar keuangan — karena kalau dibiarkan jalan sendiri-sendiri, tekanan dari suku bunga AS dan harga minyak bisa saling memperkuat satu sama lain.

Di pasar saham, dampaknya sudah kelihatan. IHSG sempat anjlok ke 6.298,61, turun 76,31 poin dalam satu sesi, dengan dana asing kabur Rp105,09 triliun sepanjang tahun berjalan di pasar reguler — termasuk Rp6,66 triliun hanya dalam sebulan terakhir. Logikanya sederhana: makin tinggi yield obligasi AS, makin kecil alasan bagi investor global untuk menanggung risiko di pasar negara berkembang seperti Indonesia demi selisih imbal hasil yang kian menipis.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu bergantung pada bahan baku atau komponen impor, ini bukan waktu untuk asal hitung modal berdasarkan kurs hari ini. Kalau kamu berencana ambil pinjaman modal usaha dalam beberapa bulan ke depan, pertimbangkan bahwa biaya pinjaman bank kemungkinan belum akan turun — malah berpotensi naik lagi kalau BI-Rate benar-benar terkerek ke 6,00-6,25% sesuai proyeksi beberapa ekonom. Kalau bisa, hitung proyeksi cashflow (arus kas) dengan skenario rupiah di Rp18.500-19.000, bukan cuma kurs saat ini, supaya tidak kaget kalau benar terjadi.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau kamu eksportir, rupiah lemah ini sebenarnya angin baik untuk marginmu — tapi jangan buru-buru senang, karena pelemahan ini dipicu tekanan eksternal yang bisa berbalik arah cepat begitu ada kepastian dari The Fed atau negosiasi Selat Hormuz. Kalau kamu importir bahan baku atau komponen, ini saatnya serius mempertimbangkan hedging (mengunci nilai tukar di awal lewat kontrak forward atau DNDF, supaya tidak rugi kalau rupiah makin melemah) untuk pembelian 3-6 bulan ke depan — BI sendiri sedang memberi insentif biaya hedging, meski sifatnya sementara. Kalau punya utang dalam dolar, cek ulang jadwal jatuh temponya; merefinansi sebelum 28 Oktober mungkin lebih murah daripada menunggu kepastian The Fed.

Kalau kamu masyarakat umum

Efek paling langsung yang akan kamu rasakan bukan dari suku bunga, tapi dari harga barang sehari-hari. Rupiah lemah membuat barang impor — elektronik, mobil, motor, bahkan sebagian bahan baku makanan olahan — ikut naik harga, dan ini bertemu dengan kenaikan harga cabai serta BBM non-subsidi yang sudah terjadi duluan. Kalau upahmu tidak naik secepat inflasi, daya belimu riil (setelah dikurangi efek kenaikan harga) sebenarnya sedang tergerus, meski angka gajimu di slip tetap sama.

Yang Perlu Dipantau

  • 1 Oktober 2026 — data inflasi September dari BPS, konsensus 3,30% dibanding tahun lalu; kalau meleset lebih tinggi, ruang BI makin sempit.

  • 20-21 Oktober 2026 — RDG BI, keputusan BI-Rate yang harus diambil sebelum tahu langkah The Fed.

  • 27-28 Oktober 2026 — pertemuan FOMC, pengumuman sekitar dini hari 29 Oktober WIB; perhatikan bukan cuma keputusan rate tapi juga dot plot dan nada konferensi pers.

  • Perkembangan negosiasi Selat Hormuz — kalau harga minyak turun dari US$108, sebagian tekanan ke rupiah dan APBN otomatis mengendur.

  • Rilis cadangan devisa BI awal November — untuk melihat apakah strategi "hemat devisa" BI berhasil menahan laju penurunan atau justru makin tergerus.

Penutup

Headline tentang The Fed selalu terasa jauh — urusan Washington, bukan urusan dapur rumah tangga di Indonesia. Tapi urutan kalender bulan ini membongkar itu: BI harus memutuskan nasib bunga kredit, cicilan, dan nilai tabunganmu lebih dulu, sebelum tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan bank sentral paling berpengaruh di dunia. Itulah posisi nyata ekonomi berkembang — bukan ikut menentukan arah angin, tapi harus sudah pasang layar sebelum angin itu benar-benar bertiup.

Sumber

  • CNBC Indonesia — "Makin Mengerikan! Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Tembus 93,6%"

  • CNBC Indonesia — "The Fed Galak, Bunga Utang Mencekik: BI-Pemerintah Siapkan Jurus Baru"

  • CNBC Indonesia — "Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?"

  • CNBC Indonesia — "Sisa 3 Bulan, BI Rate Naik Ikuti The Fed? Ini Bocoran dari Thamrin"

  • CNBC Indonesia — "Siap-Siap! Besok Ada Pengumuman Penting, Bisa Jadi Bukan Kabar Baik"

  • CNBC — "10-year Treasury yield hits 5% before reversing as traders await Fed meeting" dan "The 10-year Treasury yield is at its highest in nearly two decades"

  • Bloomberg Technoz — "Rupiah Sentuh Rp18 Ribu/US$, BI Sebut Tekanan Global Jadi Pemicu"

  • Detik Finance — "BI Kurangi 'Bakar' Devisa untuk Jaga Rupiah, Intervensi Spot Tinggal 30%"

  • Kompas — "Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Ini Biang Keroknya"

  • Fed Rate Calc — jadwal keputusan FOMC 28 Oktober 2026

  • Federal Reserve — risalah FOMC Juli 2026