Lewati ke konten
blabak.

Smelter Freeport Manyar Akhirnya Produksi Tembaga—Setelah Kebakaran, Longsor, dan Dua Tahun Molor

Smelter Freeport Manyar produksi lagi September 2026 usai kebakaran & longsor Grasberg, dikontraskan dengan lonjakan investasi bauksit 193% dan krisis nikel.

Yusuf FS8 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Smelter tembaga Freeport di kawasan JIIPE, Manyar, Gresik, mulai memproduksi katoda tembaga lagi pada September 2026 — dua tahun setelah diresmikan, sempat terbakar, lalu terhenti lagi gara-gara longsor tambang di Papua.

  • Produksi awal cuma di bawah 30 persen kapasitas; butuh sampai akhir 2027 untuk jalan penuh di 1,7 juta ton konsentrat per tahun. Ini bukan comeback instan.

  • Nilai investasinya sekitar US$3,7 miliar (sekitar Rp58 triliun), tapi saat beroperasi penuh smelter ini "cuma" menyerap sekitar 2.000 pekerja tetap dan kontraktor — jauh di bawah 40.000 pekerja yang terlibat saat konstruksi.

  • Di saat bersamaan, investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen jadi Rp40,1 triliun di kuartal II 2026, menggeser nikel untuk pertama kalinya sebagai komoditas hilirisasi terbesar.

  • Tapi ada jebakan di baliknya: kapasitas smelter aluminium nasional diproyeksikan tembus 1,975 juta ton pada 2026, hampir empat kali kebutuhan domestik yang cuma 520.000 ton — pola yang persis memicu krisis kelebihan pasokan di industri nikel sekarang.

Dua Tahun, Dua Bencana

Smelter Manyar sebenarnya sudah pernah "jalan" sebelum ini. Presiden Joko Widodo meresmikan fasilitas pengolahan katoda tembaga ini pada 27 Juni 2024, dan produksi komersial dimulai 23 September 2024. Tapi kemenangan itu berumur pendek: hanya tiga minggu kemudian, pada 14 Oktober 2024, unit asam sulfat di fasilitas Common Gas Cleaning Plant terbakar. Penyebabnya aliran oksigen berlebih yang masuk ke panel listrik yang bocor, memicu panas lalu ledakan. Kerusakan cukup parah sampai PT Freeport Indonesia (PTFI) harus menunda seluruh rencana penjualan tembaga hingga 2025.

Perbaikan awalnya ditarget rampung pertengahan 2025, lalu mundur ke September 2025. Tapi persis di titik itu, bencana kedua datang — bukan dari smelter, melainkan dari tambangnya. Pada 8 September 2025, sekitar 800.000 metrik ton material basah longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Papua. Tujuh pekerja terjebak, dua di antaranya ditemukan meninggal. Operasi tambang bawah tanah — sumber utama konsentrat tembaga buat smelter Manyar — praktis lumpuh.

Dampaknya berantai: produksi emas PTFI sepanjang 2025 anjlok 49,7 persen dibanding 2024, dan produksi tembaga 2026 diperkirakan sempat turun sekitar 35 persen dari proyeksi sebelum insiden. Pemulihan GBC baru dimulai kuartal II 2026, dengan target kapasitas tambang mencapai sekitar 65 persen di akhir tahun ini dan 100 persen pada 2027. Barulah dengan pasokan konsentrat yang mulai mengalir lagi itu, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas bisa memastikan smelter Manyar kembali produksi pada September 2026 — "tepat waktu sesuai jadwal," katanya, meski jadwal itu sendiri sudah dua kali direvisi.

Kenapa Kali Ini Beda: Dunia Sedang Rebutan Tembaga

Ada satu hal yang membedakan momentum tembaga ini dari janji-janji hilirisasi yang sebelumnya sering mangkrak: pasarnya sedang benar-benar kering. Harga tembaga dunia menembus rekor di atas US$6,7 per pon pada Agustus 2026 — jauh melampaui puncak sebelumnya di kisaran US$5,1–5,2 per pon yang tercatat pada Mei 2024 dan Mei 2025. Harga Mineral Acuan (HMA) tembaga Indonesia sepanjang 2026 rata-rata US$12.655 per dry metric ton, juga rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pendorong utamanya bukan spekulasi sesaat, melainkan permintaan struktural: pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) yang butuh ribuan ton tembaga per unit untuk kabel, sistem pendingin, dan jaringan listrik, ditambah percepatan kendaraan listrik dan transisi energi hijau. Permintaan tembaga global kini disebut sudah melampaui total kapasitas produksi tambang dunia saat ini — bukan sekadar naik, tapi defisit struktural.

Ini penting karena membedakan tembaga dari nasib nikel. Ketika Indonesia membangun kapasitas hilirisasi nikel besar-besaran beberapa tahun lalu, dunia sebenarnya belum siap menampungnya — hasilnya harga nikel malah ambruk karena kebanjiran pasokan. Tembaga sedang berjalan ke arah sebaliknya: pasokan dunia yang kekurangan, bukan kelebihan. Buat smelter Manyar, ini berarti begitu produksi penuh tercapai di 2027, hasilnya kemungkinan besar terserap pasar dengan harga premium — bukan menambah tumpukan stok yang tak laku.

Bauksit Menyalip Nikel: Lonjakan yang Mengubah Peta Hilirisasi

Sementara smelter Freeport jadi bukti fisik pertama hilirisasi tembaga jalan, di komoditas lain terjadi pergeseran yang tak kalah signifikan. Realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 melonjak 193 persen dibanding kuartal sebelumnya, dari Rp13,7 triliun menjadi Rp40,1 triliun (sekitar US$2,25 miliar). Angka ini melampaui investasi hilirisasi nikel yang "hanya" US$1,65 miliar di periode sama — pertama kalinya bauksit menggeser nikel sebagai komoditas hilirisasi mineral terbesar di Indonesia.

Proyek yang paling banyak disebut di balik lonjakan ini adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, digarap MIND ID lewat Inalum bersama Antam. Kapasitasnya satu juta ton alumina (bahan baku aluminium) per tahun, membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bauksit per tahun sebagai pasokan. Secara nasional, investasi hilirisasi kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, naik 5,7 persen dibanding periode sama tahun lalu, dan menyumbang hampir 30 persen dari total realisasi investasi nasional.

Tapi di sinilah perlu direm sedikit sebelum ikut euforia. Kapasitas smelter aluminium nasional diproyeksikan mencapai 1,975 juta ton pada 2026 — sementara kebutuhan domestik cuma sekitar 520.000 ton per tahun. Artinya kapasitas hampir empat kali lipat dari yang dibutuhkan pasar dalam negeri, dan sisanya harus bergantung pada ekspor yang belum tentu selaris permintaan. Ini persis pola yang membuat industri nikel Indonesia terjebak kelebihan pasokan sekarang.

Pelajaran Pahit dari Nikel: Pabrik Duluan, Pasar Belum Tentu Menyusul

Kalau ingin tahu apa yang bisa salah dari hilirisasi yang dipacu terlalu cepat, nikel adalah studi kasusnya. Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) — kuota produksi bijih yang diizinkan pemerintah — untuk 2026 hanya mengizinkan 260-270 juta ton bijih nikel basah, sementara kebutuhan smelter yang sudah terbangun mencapai 330-350 juta ton. Ada defisit pasokan sekitar 90 juta ton, atau sekitar 30 persen, yang membuat banyak smelter tidak bisa beroperasi penuh.

Akibatnya, lima smelter nikel sudah berhenti beroperasi, terbebani biaya impor batu bara kokas yang mahal dan harga nikel global yang justru rendah — kebalikan dari yang terjadi di tembaga. Pemerintah kini membatasi izin smelter nikel baru untuk produk antara seperti NPI (nickel pig iron), feronikel, nickel matte, dan MHP (mixed hydroxide precipitate/bahan setengah jadi untuk baterai), dan mendorong industri langsung ke produk yang lebih hilir seperti nickel electrolytic dan nickel sulphate. Ini pengakuan implisit bahwa strategi "bangun smelter sebanyak-banyaknya dulu" sudah kelewat batas, dan sekarang giliran pasarnya yang dipaksa menyesuaikan.

Suara Skeptis: "Jangan Berhenti di Pemurnian Mineral Semata"

Lembaga riset ekonomi punya penilaian yang lebih dingin soal apakah kisah sukses tembaga ini bisa diulang di komoditas lain. INDEF, CORE Indonesia, dan Ekonom Sinergi Indonesia (ESI) menilai struktur industri hilirisasi Indonesia "masih dangkal" — kuat di tahap awal pengolahan, tapi lemah di produk jadi bernilai tinggi.

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menegaskan, "kita tidak boleh berhenti pada tahap pemurnian mineral sematan." Datanya bicara: meski Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi nikel dunia (2,6 juta ton pada 2025), sekitar 98 persen kapasitas industri baja nirkarat (stainless steel) di dalam negeri masih berhenti di tahap peleburan dasar, dan 70 persen output cuma sampai bentuk lempengan (slab) mentah. Ironisnya, Indonesia justru mengimpor 80 persen produk baja nirkarat jadi yang dipakai sehari-hari — negara penghasil bahan baku terbesar dunia, tapi masih beli barang jadinya dari luar. Kapasitas industri baterai domestik pun baru 20 gigawatt-hour, kurang dari 1 persen kapasitas global.

CORE Indonesia menambahkan pengingat yang lebih mendasar: "mineral kritis suatu saat akan habis. Semakin banyak rantai pasok dikuasai, kemungkinan bertahan jangka panjang semakin luas." Rekomendasi ketiga lembaga ini: prioritaskan sektor secara bertahap sesuai kesiapan industri — mulai dari turunan baja nirkarat, panel surya, baterai, baru semikonduktor — bukan mengejar semuanya sekaligus. Mereka juga menyoroti masalah regulasi yang berubah-ubah, seperti RKAB yang tadinya berlaku tiga tahun dipersingkat jadi satu tahun, yang bikin investor sulit merencanakan jangka panjang.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Beroperasinya smelter Manyar membuka celah rantai pasok di kawasan JIIPE Gresik dan sekitarnya — mulai dari jasa logistik pengangkutan konsentrat dan katoda, katering untuk ribuan pekerja shift, sewa alat berat, sampai perawatan mesin. Tapi jangan berharap ledakan lapangan kerja besar: saat beroperasi penuh, smelter ini cuma menyerap sekitar 2.000 orang, jauh di bawah 40.000 pekerja konstruksi yang sempat terlibat. Fase konstruksi besar sudah lewat; yang tersisa adalah kebutuhan operasional yang lebih ramping dan spesifik — cek dulu kualifikasi teknis yang dibutuhkan sebelum banting setir dari kerja kantoran ke jadi vendor smelter.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu berkaitan dengan logam atau manufaktur, tembaga sedang jadi komoditas dengan fundamental permintaan paling kuat saat ini — bukan cuma cerita hilirisasi domestik, tapi kebutuhan riil dari data center AI dan kendaraan listrik dunia. Ini beda dari nikel yang harganya justru melemah meski volume produksinya besar. Kalau kamu berpikir masuk ke rantai pasok hilirisasi mineral, tembaga secara fundamental lebih aman dibanding buru-buru ikut gelombang bauksit-aluminium — mengingat kapasitas smelter aluminium nasional sudah diproyeksikan jauh melebihi kebutuhan domestik, pola yang sama persis dengan yang bikin banyak smelter nikel kolaps sekarang.

Kalau kamu bekerja di sektor pertambangan atau smelter nikel

Kasus lima smelter nikel yang tutup akibat biaya tinggi dan harga rendah adalah peringatan nyata, bukan skenario jauh. Kalau kamu bekerja di smelter yang bergantung pada produk antara seperti NPI atau feronikel, ada baiknya mulai cari tahu apakah perusahaanmu punya rencana bertransformasi ke produk yang lebih hilir (seperti nickel sulphate untuk bahan baterai) — karena arah kebijakan pemerintah sudah jelas mendorong ke sana, dan yang bertahan di produk lama berisiko makin tertekan.

Yang Perlu Dipantau

  • Ramp-up smelter Manyar — apakah kapasitas benar-benar naik dari di bawah 30 persen menuju 100 persen sesuai target akhir 2027, atau kembali molor.

  • Pemulihan tambang Grasberg Block Cave — target kapasitas 65 persen di akhir 2026, lalu 100 persen di 2027; ini penentu utama pasokan konsentrat ke smelter.

  • Laporan realisasi investasi BKPM kuartal III 2026, biasanya dirilis awal Oktober — akan menunjukkan apakah momentum bauksit berlanjut atau cuma lonjakan sesaat.

  • Kebijakan RKAB nikel 2027 — apakah pemerintah melonggarkan kuota atau tetap membatasi untuk mengurai kelebihan pasokan smelter.

  • Progres SGAR Mempawah dan proyek alumina lain — sinyal awal apakah bauksit akan menghadapi masalah oversupply yang sama dengan nikel atau berhasil mengelola kapasitas lebih hati-hati.

Penutup

Smelter Manyar akhirnya menyala bukan karena sistem hilirisasi Indonesia sudah matang, tapi karena kebetulan baik: dunia sedang kekurangan tembaga di saat yang sama pabriknya siap. Itu bukan alasan untuk berhenti percaya pada hilirisasi — tapi juga bukan bukti bahwa resepnya bisa ditempel begitu saja ke bauksit, nikel, atau mineral lain yang nasib pasarnya berbeda. Yang membedakan kisah sukses dari kisah gagal bukan cuma seberapa besar pabrik dibangun, tapi seberapa jujur perhitungan soal siapa yang akan membeli hasilnya.

Sumber

  • Infobali News — Hilirisasi Tembaga di Smelter Freeport Gresik

  • Sumut Pos (Jawa Pos Group) — GIFA-METEC Indonesia 2026 Dorong Hilirisasi Logam

  • CNBC Indonesia — Smelter ke-2 Freeport di Gresik Akan Beroperasi Lagi di September 2026

  • CNN Indonesia — Freeport Pastikan Smelter Manyar Gresik Produksi Lagi Mulai September

  • Bisnis Indonesia — Produksi Tembaga Freeport Anjlok 29% Imbas Insiden Longsor Grasberg

  • Kompas — Buntut Panjang Kebakaran Smelter Freeport

  • Antara News — BKPM: Investasi Hilirisasi Bauksit Kuartal II 2026 Naik 193 Persen

  • BKPM — Realisasi Investasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010 Triliun

  • Radar Gresik (Jawa Pos Group) — Progres 90,6 Persen, Smelter Freeport Gresik Catat Serapan 40 Ribu Tenaga Kerja

  • PERHAPI — Pemangkasan Kuota Nikel 2026 Picu Kekhawatiran Smelter dan Agenda Hilirisasi

  • Kontan — Struktur Industri Masih Dangkal, Indonesia Butuh Pendalaman Hilirisasi Mineral Kritis

  • Kompas — Harga Tembaga Dunia Cetak Rekor, Saham AMMN Diprediksi Paling Diuntungkan

  • Databoks (Katadata) — Harga Tembaga Hari Ini dan Data Historis