Lewati ke konten
blabak.

The Fed Tahan Bunga, Tapi FOMC Pecah Dua Kubu — Sinyal Desember Makin Menjepit Rupiah

Fed tahan bunga 28 Oktober, tapi dua dissent dan tiga presiden regional kompak minta naik Desember. Rupiah sudah di rekor terlemah Rp18.180.

Yusuf FS11 menit baca

Ringkasan Cepat

  • The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4% pada 28 Oktober 2026, tapi keputusannya tidak bulat: dua dari dua belas pengambil suara — Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack — menyatakan dissent (tidak setuju secara terbuka) dan minta naik 0,25 poin persentase. Ini pertama kalinya sejak Oktober 1992 seorang gubernur dan presiden Fed regional dissent di sisi yang sama.

  • Dalam pekan yang sama, tiga presiden Fed regional lain — Lorie Logan (Dallas), Alberto Musalem (St. Louis), dan Tom Barkin (Richmond) — ikut buka suara minta kenaikan bunga dilanjutkan, bahkan Logan menyebut perlu "setidaknya dua kenaikan 0,25 poin lagi."

  • Anehnya, peluang pasar untuk kenaikan Desember justru turun dari 84,6% menjadi sekitar 73% setelah semua sinyal hawkish ini — karena Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, sengaja tidak memberi kepastian arah.

  • Rupiah sudah di rekor terlemah sepanjang sejarah, Rp18.180 per dolar AS pada 28 Oktober, dan kini bergerak di kisaran Rp18.100–18.200 — sementara IHSG ambruk 41,5% sepanjang 2026 dan yield SBN 10 tahun (bunga yang harus dibayar negara ke pemegang surat utang) tembus 7,7%, tertinggi sejak Mei 2020.

  • Bank Indonesia terjepit dua arah: pertahankan BI-rate di 5,75% berisiko rupiah makin lemah, naikkan ke 6%–6,25% berisiko ekonomi domestik makin seret menjelang akhir tahun.

Dissent yang Belum Terjadi Sejak 1992

Rapat FOMC (Federal Open Market Committee, komite penentu suku bunga The Fed) pada 28 Oktober seharusnya berjalan mulus: inflasi memang masih di atas target 2%, tapi pasar sudah memperkirakan The Fed akan menahan dulu sambil menunggu data lebih jelas. Yang tidak diperkirakan adalah dissent-nya.

Dissent, dalam rapat The Fed, berarti seorang anggota pemegang suara secara resmi menyatakan tidak setuju dengan keputusan mayoritas — dan itu jarang terjadi, apalagi dari dua orang sekaligus. Lisa Cook, gubernur yang diangkat era Presiden Joe Biden sejak 2022, memberikan dissent pertamanya sepanjang menjabat. Bersamanya, Beth Hammack, presiden Fed Cleveland, juga menolak opsi menahan bunga. Keduanya menilai kenaikan 0,25 poin persentase — bukan penahanan — adalah respons yang tepat untuk inflasi yang masih bertengger di 3,6% (indeks PCE, ukuran inflasi favorit The Fed, untuk data September yang dirilis 29 Oktober), jauh di atas target 2%.

Yang membuat momen ini dicatat sejarah: menurut data yang beredar di kalangan analis Fed, ini pertama kalinya sejak Oktober 1992 seorang gubernur Fed dan presiden Fed regional dissent pada sisi yang sama dalam satu rapat. Biasanya dissent datang dari satu pihak saja, atau dari arah yang berlawanan (ada yang minta naik, ada yang minta turun) sehingga saling meredam kesan perpecahan. Kali ini keduanya kompak minta naik — sinyal bahwa ada blok cukup kuat di dalam FOMC yang menilai The Fed sudah terlambat merespons inflasi.

Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, dalam konferensi pers usai rapat memilih jalan tengah yang ambigu. Ia menyebut kondisi finansial sudah mulai mengetat sendiri lewat pasar obligasi — jadi The Fed tidak perlu buru-buru menaikkan bunga — tapi menolak berkomitmen pada arah Desember. Rebecca Homkes dari London Business School menilai gaya komunikasi Warsh ini "bisa ditafsirkan tidak konsisten," karena nada bicaranya hawkish (condong ke arah mengetatkan kebijakan) tapi tindakannya dovish (menahan).

Tiga Presiden yang Menolak Diam

Dissent dua orang saja mungkin bisa dianggap kebetulan. Tapi dalam pekan yang sama, tiga presiden Fed regional lain ikut bersuara terbuka — dan ini yang mengubah dissent dari catatan prosedural jadi sinyal arah kebijakan.

Lorie Logan, presiden Fed Dallas, paling tegas: ia bilang kondisi ekonomi saat ini "membenarkan pengetatan moneter tambahan" dan menyebut perlu setidaknya dua kali kenaikan 0,25 poin lagi ke depan — bukan cuma sekali di Desember. Alberto Musalem dari St. Louis menegaskan siklus kenaikan bunga "belum selesai." Tom Barkin dari Richmond lebih berhati-hati soal kecepatan, tapi tetap mendukung arah yang sama: kenaikan bertahap supaya rumah tangga dan bisnis punya waktu beradaptasi, bukan kenaikan mendadak yang mengejutkan pasar.

Pasar saham AS merespons negatif begitu ketiganya bicara: indeks S&P 500 turun 1,6% dan Nasdaq-100 merosot 3% dalam reaksi langsung. Reaksi ini masuk akal — tiga presiden regional yang kompak menyuarakan hal yang sama, menambah bobot pada dua dissent sebelumnya, membuat pasar menilai kemungkinan kenaikan Desember makin nyata.

Di sinilah bagian yang tampak kontradiktif tapi sebenarnya bisa dijelaskan: kalau sinyal hawkish makin banyak, kenapa probabilitas kenaikan Desember di pasar justru melemah, dari 84,6% (setelah data inflasi PCE dirilis) ke sekitar 73% (setelah pernyataan resmi FOMC)? Jawabannya ada di gaya Warsh yang sengaja tidak memberi forward guidance (sinyal arah kebijakan ke depan) yang tegas. Ia bilang kondisi finansial "belum ketat secara signifikan," memberi alasan bagi pasar untuk ragu The Fed akan benar-benar bergerak Desember — meski mayoritas ekonom tetap memperkirakan kenaikan 0,25 poin pada rapat 8–9 Desember. Bahkan model independen dari MUFG memperkirakan probabilitasnya cuma 55%, jauh di bawah taksiran CME FedWatch (alat yang menghitung probabilitas kenaikan bunga dari pergerakan kontrak berjangka suku bunga). Jadi yang sebenarnya terjadi bukan "The Fed pasti naik" atau "The Fed pasti tahan" — tapi FOMC yang makin terbelah, dan pasar yang kebingungan menebak mana suara yang akan menang.

Satu hal yang membuat argumen hawkish ini sulit dipatahkan: pasar tenaga kerja AS masih sangat kuat. Klaim pengangguran mingguan di 194.000 — mendekati level terendah dalam 57 tahun — dan Warsh sendiri menyebut kondisi ketenagakerjaan "cukup positif." Artinya, alasan klasik untuk menahan bunga (khawatir PHK massal) tidak berlaku kuat saat ini di AS; justru memberi ruang bagi kubu hawkish untuk terus menekan naik.

Jakarta Kena Getahnya Duluan

Di Indonesia, dampaknya sudah terasa sebelum Desember tiba — bukan menunggu keputusan final The Fed. Ini angka di balik angka yang penting dipahami: pasar finansial Indonesia sudah dalam tekanan berat sepanjang 2026, dan ketidakpastian Fed ini menambah beban di atas kondisi yang sudah rapuh, bukan memulai dari nol.

Rupiah menyentuh Rp18.180 per dolar AS pada 28 Oktober — rekor terlemah sepanjang sejarah, melewati rekor sebelumnya di Rp18.175 yang terjadi Juni lalu. Padahal, di pertengahan Oktober rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.985. Sejak itu rupiah melemah sekitar 1,4% hanya dalam sebulan, dan kini bergerak di rentang Rp18.100–18.200 — level yang belum pernah dilihat pasar Indonesia sebelumnya.

IHSG (indeks harga saham gabungan) kondisinya lebih parah lagi: ambruk 16,7% sepanjang Oktober saja, dan turun 41,5% sepanjang 2026 — penurunan tahunan terburuk dalam lebih dari dua dekade. Pemicu utamanya bukan cuma The Fed: MSCI, lembaga yang menyusun indeks acuan investasi global, mengancam menurunkan status pasar Indonesia dari "emerging market" jadi "standalone market" karena dinilai akses dan likuiditas pasarnya belum membaik — ancaman yang sempat memicu penghentian perdagangan (trading halt) saat IHSG rontok 8%-11% dalam sehari pada pertengahan Oktober, jatuh terparah sejak krisis 1998. Keputusan final MSCI baru akan diambil Juni 2027, tapi ancamannya saja sudah cukup membuat investor asing kabur.

Di pasar obligasi, yield SBN (imbal hasil Surat Berharga Negara, atau bunga yang harus dibayar pemerintah ke pemegang surat utang — makin tinggi yield, makin mahal ongkos utang negara) tenor 10 tahun melonjak ke 7,7%, tertinggi sejak Mei 2020. Minat investor di lelang obligasi pun anjlok: penawaran yang masuk pada lelang 27 Oktober hanya Rp31,09 triliun, turun lebih dari separuh dibanding lelang dua pekan sebelumnya yang mencapai Rp64,85 triliun. Sepanjang 2026, dana asing yang sudah keluar dari pasar obligasi Indonesia terakumulasi Rp97,92 triliun.

Harga minyak dunia menambah lapisan tekanan lain: Brent, acuan harga minyak global, melonjak dari US$110 ke US$117 per barel akibat konflik di Timur Tengah — termasuk serangan ke kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas minyak di kawasan tersebut. Karena Indonesia net importir energi, harga minyak tinggi memperbesar beban impor dan defisit anggaran negara, yang diperkirakan melebar ke Rp734 triliun atau 2,85% dari PDB (produk domestik bruto) tahun ini.

BI di Antara Rupiah dan Resesi

Di titik inilah kalkulasi Bank Indonesia menjadi rumit. BI-rate (suku bunga acuan Indonesia) saat ini 5,75%, ditahan sejak rapat 20–21 Oktober. Selisihnya dengan suku bunga The Fed — yang disebut interest rate differential, selisih yang membuat investor asing tertarik menaruh uang di aset rupiah ketimbang dolar — saat ini sekitar 1,875 poin persentase (5,75% dikurangi titik tengah 3,875% dari kisaran Fed 3,75%-4%).

Kalau The Fed benar menaikkan bunga 0,25 poin di Desember ke kisaran 4%-4,25%, selisih itu otomatis menyempit ke sekitar 1,625 poin — kecuali BI ikut menaikkan BI-rate untuk menjaga jarak. Selisih yang menyempit berarti aset rupiah (termasuk SBN) jadi relatif kurang menarik dibanding aset dolar, mendorong lebih banyak uang investor asing kabur keluar (capital outflow) dan menambah tekanan pada rupiah.

Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata, menilai keputusan BI menahan bunga Oktober lalu "cukup tepat dan proporsional," tapi mengakui ada risiko jangka pendek karena sebagian investor sebenarnya sudah mengharapkan kenaikan. Ia memproyeksikan BI-rate masih berpotensi naik 0,25 poin ke 6% pada November atau Desember, bergantung pada seberapa kuat tekanan eksternal dan arus modal asing bertahan. Bank Danamon lebih agresif, memperkirakan BI-rate bisa mencapai 6,25% jika tekanan berlanjut.

Sebelum menaikkan bunga acuan — opsi yang juga berisiko menahan laju kredit dan investasi domestik — BI sudah memainkan alat lain. Giro Wajib Minimum (GWM, porsi dana bank yang wajib disetor ke BI sebagai cadangan) diturunkan bertahap dari 9% ke 7% hingga Desember, memberi bank lebih banyak dana untuk disalurkan jadi kredit. BI juga menaikkan insentif DNDF (domestic non-deliverable forward, instrumen yang memungkinkan bank dan korporasi mengunci nilai tukar di awal supaya tidak rugi kalau rupiah melemah nanti — semacam hedging versi domestik) hingga 45% untuk tenor 12 bulan, supaya korporasi tidak perlu terburu-buru memborong dolar di pasar spot.

Lembaga riset CELIOS dan INDEF memperingatkan risiko ini bukan skenario jauh: INDEF memproyeksikan potensi capital outflow dari pasar obligasi pemerintah sebesar Rp15-30 triliun dalam skenario dasar, atau melonjak ke Rp40-60 triliun kalau tekanan eksternal — termasuk dari keputusan Desember The Fed — memburuk parah hingga akhir tahun. Satu hal yang membuat BI masih punya sedikit ruang bernapas: inflasi domestik September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan — masih di rentang target BI — berbeda jauh dengan inflasi AS yang 3,6%. Artinya tekanan BI naikkan bunga datang dari luar (rupiah dan arus modal), bukan dari inflasi domestik yang sebenarnya masih terkendali.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu bergantung pada bahan baku atau barang impor — elektronik, bahan baku tekstil, komponen mesin — hitung ulang proyeksi biaya dengan asumsi rupiah di Rp18.200-18.500, bukan Rp17.000-an seperti awal tahun. Selisih itu bisa menggerus margin lebih dari yang kamu kira, apalagi kalau kompetitor sudah mengunci harga lewat kontrak jangka panjang atau hedging duluan.

Kalau rencanamu justru berorientasi lokal atau ekspor (produk yang dijual dalam dolar, atau bahan baku domestik), kondisi ini sebenarnya bisa jadi peluang — rupiah lemah membuat produkmu lebih murah/kompetitif di luar negeri. Tapi jangan lupa biaya pinjaman modal kerja juga akan naik kalau BI-rate mengikuti jejak suku bunga The Fed, jadi hitung kemampuan bayar cicilan di skenario bunga 6%-6,25%, bukan cuma skenario optimis 5,75%.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Untuk pelaku usaha yang punya utang dalam dolar atau rutin impor bahan baku, ini saat yang tepat mengevaluasi ulang strategi hedging — termasuk memanfaatkan insentif DNDF yang baru dinaikkan BI untuk mengunci kurs transaksi beberapa bulan ke depan, daripada terus-menerus terekspos ke fluktuasi harian. Biaya hedging memang naik saat volatilitas (gejolak harga) tinggi seperti sekarang, tapi biasanya masih lebih murah daripada menanggung risiko rupiah melemah tanpa perlindungan.

Kalau bisnismu bergantung pada pendanaan asing — venture capital, investor luar negeri — siapkan diri untuk negosiasi valuasi yang lebih konservatif dalam 2-3 bulan ke depan. Investor asing cenderung menahan komitmen baru ke pasar negara berkembang saat yield SBN melonjak dan rupiah bergerak tak menentu, karena ongkos modal mereka sendiri naik dan risiko mata uang jadi pertimbangan lebih berat. Ini bukan waktu ideal untuk fundraising besar kalau masih bisa ditunda tanpa membahayakan cashflow.

Dampak yang lebih luas: kalau kamu bukan pengusaha

Kalau rupiah terus melemah dan harga minyak dunia tetap tinggi, dampaknya bisa merambat ke harga BBM dan barang kebutuhan sehari-hari yang mengandung komponen impor — dari bahan pangan olahan sampai elektronik. Ini belum pasti terjadi, tapi layak diwaspadai terutama kalau kamu punya rencana belanja besar (elektronik, kendaraan, kebutuhan berbasis dolar) dalam beberapa bulan ke depan — mempercepat pembelian sebelum rupiah melemah lebih jauh bisa jadi pertimbangan rasional, bukan panik membeli.

Yang Perlu Dipantau

  • 8-9 Desember 2026: rapat FOMC berikutnya — titik keputusan yang akan menentukan apakah The Fed benar-benar menaikkan bunga seperti diperkirakan mayoritas ekonom, atau menahan lagi seperti yang ditunjukkan gaya komunikasi Warsh.

  • 17-18 November dan 15-16 Desember 2026: dua rapat RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI tersisa tahun ini — perhatikan apakah BI mulai menaikkan BI-rate lebih awal (November) untuk mengantisipasi Desember, atau menunggu keputusan The Fed keluar dulu.

  • Probabilitas CME FedWatch: kalau angka ini terus naik mendekati 85-90% menjelang Desember, itu sinyal pasar makin yakin kenaikan akan terjadi — awasi terutama setelah rilis data inflasi dan ketenagakerjaan AS berikutnya.

  • Hasil lelang SBN setiap dua minggu: penawaran yang terus menyusut seperti lelang 27 Oktober (anjlok 52%) adalah indikator dini soal seberapa parah investor asing menjauh dari aset Indonesia.

  • Perkembangan konflik Timur Tengah dan harga Brent: kalau harga minyak terus di atas US$110, tekanan ke defisit fiskal dan rupiah Indonesia akan bertahan terlepas dari apa pun keputusan The Fed.

Penutup

Yang perlu kamu pegang dari semua ini bukan prediksi pasti soal angka Desember — karena bahkan di dalam The Fed sendiri belum ada kesepakatan, dan Ketua Fed yang baru sengaja menjaga ambiguitas itu. Yang perlu kamu pegang adalah bahwa ketidakpastian itu sendiri sudah jadi beban nyata buat rupiah dan pasar Indonesia, jauh sebelum palu diketuk di Washington. Siapkan skenario untuk rupiah yang tetap di atas Rp18.000 sampai akhir tahun, bukan menunggu kepastian yang mungkin baru datang di menit-menit terakhir — karena menunggu kepastian dari lembaga yang sedang pecah dua kubu adalah strategi yang paling mahal ongkosnya.

Sumber

  • CNBC: Fed Interest Rate Decision October 2026

  • CNN Business: Fed keeps interest rates unchanged, two officials dissented

  • Yahoo Finance: Higher Rates Ahead? Three Fed Officials Call for Gradual Uptick

  • Invezz: A Fed Pause, a Confusing Message, and a December Dilemma

  • CNBC: Kevin Warsh Keeps Wall Street Guessing — Analysis

  • Invezz: PCE Inflation Accelerates to 3.6% as GDP Growth Beats Estimates

  • CNBC Indonesia: The Fed Tahan Suku Bunga, Yield SBN Terus Melonjak

  • Legawa: Kilas Ekonomi Sepekan — IHSG Turun 7%, Yield SBN Tembus 7,6%

  • Bloomberg Technoz: BI Rate Ditahan, Ekonom Waspadai Tekanan Jangka Pendek ke Rupiah

  • Kontan: BI Rate Berpeluang Naik pada Akhir Tahun 2026

  • Jakarta Post / Bloomberg: MSCI Weighs Downgrading Indonesia to Standalone-Market Status

  • Bisnis Indonesia: Badai PHK Membayangi RI, 63.789 Pekerja Terdampak hingga September 2026

  • CNBC Indonesia: Konflik Timur Tengah Bayangi Harga Minyak