Lewati ke konten
blabak.

Brent Tembus US$103, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh — Ini Hitungan Baru buat APBN dan Rupiah

Eskalasi baru AS-Iran di Selat Hormuz membalikkan tren turun minyak, Brent tembus US$103. Ini hitungan ulang dampaknya ke APBN, rupiah, dan dompetmu.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Setelah sempat melandai sepekan terakhir karena Arab Saudi memulihkan ekspor minyaknya dan ada harapan diplomasi, harga minyak dunia berbalik melonjak: Brent naik 3,9% ke sekitar US$103 per barel, WTI ke US$92,16, dipicu serangan baru di Selat Hormuz dan kelangkaan pasokan fisik di hub penyimpanan Cushing, AS — pedagang sampai membayar premi rekor untuk mengamankan pasokan segera.

  • Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak seaborne dunia — nyaris lumpuh sejak Februari 2026, dan IEA menyebutnya disrupsi pasokan minyak terbesar sejak krisis energi 1970-an.

  • Rupiah, yang sudah melemah ke kisaran Rp17.800–17.900 per dolar AS (jauh di atas rata-rata normalnya Rp15.800–16.200 pada 2024–2025), makin tertekan begitu minyak naik lagi; Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75% dan turun tangan langsung ke pasar.

  • Asumsi APBN 2026 — kurs Rp16.500 dan harga minyak Indonesia (ICP) US$70/barel — sudah meleset jauh sejak awal tahun; realisasi kurs sudah di Rp17.700–18.300 dan ICP rata-rata Januari–September sudah US$85–90.

  • Di sektor riil, lembaga riset CORE memproyeksikan tambahan 15.300–20.300 pekerja manufaktur berpotensi kena PHK, terkonsentrasi di industri tekstil, alas kaki, elektronik, dan kimia yang bergantung pada bahan baku impor.

Kenapa Minyak yang Sempat Turun Tiba-Tiba Melonjak Lagi

Cerita minggu ini sebenarnya dimulai dengan kabar baik yang cuma bertahan sebentar. Pertengahan September, harga minyak sempat melandai — Brent turun dari US$104,82 pada 17 September ke US$101,70 sehari setelahnya, lalu terus merosot ke kisaran US$99 pada 23 September. Pemicunya dua hal: China menekan Iran supaya kelompok Houthi Yaman mengerem serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi, dan Saudi berhasil memulihkan ekspor minyaknya ke 4 juta barel per hari. Ditambah kabar AS dan Iran menjajaki pertemuan diplomatik baru, pasar sempat bernapas lega.

Reli lega itu tidak bertahan. Kamis (24/9), serangan baru pecah lagi di Selat Hormuz — kelanjutan dari eskalasi awal September, ketika Iran menembakkan rudal balistik ke kapal induk dan kapal perusak AS (tidak ada yang terkena), lalu AS membalas dengan menyerang beberapa tanker Iran, dan Iran kembali menghantam sederet kapal dagang. Bank Commerzbank mencatat harga Brent "melonjak 3,9% ke US$103" ketika "serangan segar di Selat Hormuz dan kelangkaan pasar fisik mengalahkan efek pemulihan sebagian pipa Saudi." WTI ikut naik 1,81% ke US$92,16.

Yang membuat lonjakan ini terasa lebih tajam dari sekadar angka di layar trading adalah apa yang terjadi di Cushing, Oklahoma — hub penyimpanan minyak terbesar di Amerika Serikat yang jadi acuan harga WTI. Menurut Commerzbank, pedagang minyak sampai "membayar premi rekor untuk mengamankan pasokan segera" di sana. Artinya bukan cuma soal ekspektasi pasar soal risiko ke depan, tapi kebutuhan riil akan minyak fisik yang sudah mulai seret — sinyal bahwa pasar sedang panik jangka pendek, bukan cuma gugup jangka panjang. Efeknya sampai ke pasar obligasi: yield surat utang AS tenor 5 tahun melompat ke atas 5%, tertinggi dalam 20 tahun, karena investor mulai memperhitungkan inflasi energi akan bertahan lebih lama.

Satu Selat, Seperlima Minyak Dunia

Selat Hormuz lebarnya cuma sekitar 33 kilometer di titik tersempit, tapi menampung lalu lintas sekitar 20 juta barel minyak per hari sebelum krisis — kira-kira seperlima perdagangan minyak seaborne global, plus 20% perdagangan gas alam cair dunia. Sejak perang pecah akhir Februari 2026, arus lewat selat ini sempat anjlok ke rata-rata cuma 2,7 juta barel per hari pada Maret-Mei. IEA awal September memperingatkan disrupsi ini memangkas pasokan minyak global sebesar 4,3 juta barel per hari, menekan pasar solar, avtur, dan bensin sampai margin kilang minyak melonjak ke rekor tertinggi.

Untuk memberi gambaran skalanya: embargo minyak 1973 — krisis yang jadi rujukan klasik semua orang kalau bicara "syok minyak" — cuma memangkas sekitar 4,5 juta barel per hari, atau 7% pasokan global saat itu. Krisis Hormuz 2026 secara volume jauh lebih besar. Yang membedakan, dunia sekarang tidak sebergantung itu pada minyak — pangsanya di bauran energi global turun jadi sekitar sepertiga — dan Amerika Serikat kini produsen minyak-gas terbesar dunia, bukan importir rentan seperti 1973. Tapi rantai pasok global yang jauh lebih terintegrasi membuat efek harga tetap terasa ke mana-mana, termasuk ke Indonesia yang tidak terlibat perang sama sekali.

Rupiah yang Sudah Rapuh, Makin Ditekan

Bagi Indonesia, minyak mahal dan rupiah lemah adalah dua sisi mata uang yang sama. Rupiah dibuka melemah 0,26% ke Rp17.864 per dolar AS pada Kamis (24/9) dari penutupan Rp17.818 sehari sebelumnya — bergerak di kisaran yang sejumlah analis proyeksikan bisa menyentuh Rp17.950. Bandingkan dengan kisaran "normal" rupiah pada 2024–2025 yang ada di sekitar Rp15.800–16.200: pelemahan sekarang bukan gejolak harian biasa, tapi pergeseran level yang sudah berlangsung berbulan-bulan.

Bank Indonesia merespons dengan menahan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September, dengan Gubernur Destry Damayanti menegaskan stabilitas rupiah jadi prioritas di tengah ketidakpastian global — termasuk yield obligasi AS yang tinggi dan suku bunga The Fed yang masih di 3,75–4%. BI turun tangan lewat kombinasi transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward di pasar dalam negeri, Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri, dan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Modal masih ada: cadangan devisa US$146,5 miliar, setara 5,4 bulan impor — di atas standar aman internasional 3 bulan. Tapi cadangan devisa itu bukan tak terbatas, dan tiap kali BI membakarnya untuk menjaga rupiah, itu adalah amunisi yang berkurang untuk krisis berikutnya.

Di sinilah muncul dua pandangan yang tampak bertentangan tapi sebenarnya menjelaskan hal yang sama dari sudut berbeda. Ekonom Bank Mandiri optimistis karena arus modal membaik — transaksi finansial mencatat surplus US$12 miliar pada kuartal II 2026, berbalik dari defisit US$4,8 miliar sebelumnya, didorong sentimen investor yang membaik. Tapi Bank Permata lebih hati-hati, memproyeksikan defisit transaksi berjalan tahun 2026 bisa melebar ke 2,5–3,0% PDB karena permintaan impor domestik yang kuat dan tekanan geopolitik yang belum reda. Keduanya benar: arus modal jangka pendek memang bisa menambal defisit transaksi berjalan sementara, tapi itu bergantung pada sentimen investor yang gampang berbalik kalau perang di Hormuz makin panas atau The Fed mengejutkan pasar.

APBN yang Sudah Berjalan di Luar Rel Sejak Awal Tahun

Ini bagian yang paling jarang dibahas di headline: APBN 2026 disusun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS dan ICP US$70 per barel. Kenyataannya, sepanjang tahun ini rupiah sudah bergerak di kisaran Rp17.700–18.300 — meleset jauh dari asumsi bahkan sebelum lonjakan minyak minggu ini — dan ICP rata-rata Januari–September sudah US$85–90 per barel. Dengan kata lain, defisit fiskal yang lebih lebar dari rencana sudah jadi kenyataan struktural, bukan skenario risiko.

Hitungannya konkret: setiap kenaikan ICP US$1 per barel menambah pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun, tapi menambah belanja sekitar Rp10,3 triliun — bersihnya, defisit melebar Rp6,8 triliun untuk tiap dolar kenaikan. Kalau rata-rata ICP tahun ini mendarat di US$90, defisit diperkirakan melebar sekitar Rp136 triliun dari rencana; kalau mendarat di US$100, angkanya jadi sekitar Rp204 triliun. Kalau harga minyak bertahan di kisaran US$100–120 dalam waktu lama — skenario yang makin masuk akal setelah lonjakan minggu ini — beban tambahan belanja subsidi dan kompensasi energi bisa menembus Rp500 triliun dalam satu tahun anggaran, jauh di atas pagu subsidi energi yang sudah dianggarkan Rp210,1 triliun untuk 2026.

Tekanan ini juga sudah terlihat di neraca pembayaran. Defisit transaksi berjalan melebar tajam dari US$3,6 miliar (0,97% PDB) pada kuartal I 2026 menjadi US$12,5 miliar (3,3% PDB) pada kuartal II — lompatan lebih dari tiga kali lipat dalam satu kuartal. Penyebab utamanya defisit neraca migas yang sendirian menyentuh US$10,2 miliar akibat kenaikan biaya impor minyak. Dan kuartal II itu belum termasuk lonjakan harga minggu ini — kuartal III kemungkinan besar lebih buruk lagi.

Pemerintah tidak diam. Ada paket efisiensi delapan poin: kerja dari rumah, pembatasan pemakaian kendaraan dinas, pengurangan perjalanan dinas, dan realokasi anggaran kementerian. Tapi langkah-langkah itu sifatnya menahan laju, bukan mengubah arah — batas defisit 3% PDB sesuai UU Keuangan Negara membuat ruang gerak fiskal makin sempit setiap kali minyak naik satu dolar lagi.

Pabrik dan Buruh yang Kena Getahnya Duluan

Di sektor riil, tekanan ini sudah lebih dulu terasa lewat data ketenagakerjaan yang jarang jadi headline. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur versi S&P Global sempat jatuh ke zona kontraksi di 49,1 pada April 2026 — level di bawah 50 berarti aktivitas manufaktur sedang menyusut, bukan tumbuh. Lembaga riset CORE Indonesia, memakai simulasi berdasarkan data BPS, memproyeksikan tambahan 15.300 hingga 20.300 pekerja manufaktur berpotensi kena PHK, terkonsentrasi di kawasan industri seperti Batam, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

Sektor yang paling rentan bukan kebetulan: industri tekstil dan pakaian jadi (3,76 juta pekerja, sekitar 19% total tenaga kerja manufaktur nasional), alas kaki (921 ribu pekerja), elektronik dan komputer, serta kimia-farmasi yang 85% bahan bakunya masih impor. Semua sektor ini punya kesamaan: biaya energi dan logistik naik duluan, sementara harga jual produk mereka tidak bisa langsung menyesuaikan karena persaingan pasar. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bahkan sudah menyebut angka 9.000 pekerja terancam PHK di sektor tekstil dan plastik — dan ini di atas tren yang sudah naik: PHK sepanjang 2025 tercatat 88.519 pekerja, naik dari 77.965 pada 2024.

Ekonom INDEF, Rizal Taufikurrahman, mengingatkan bahwa tekanan inflasi yang muncul dari syok ini bersifat cost-push — kenaikan harga barang yang tidak dibarengi kenaikan pendapatan masyarakat. Dalam skenario eskalasi tinggi, konsumsi riil rumah tangga diperkirakan bisa terkontraksi sekitar 0,21%. Celios menambahkan sorotan ke harga pangan pokok — ayam, telur, beras, sayuran — yang berisiko naik karena gangguan rantai pasok global, bukan cuma harga BBM.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk buru-buru resign dan membuka usaha yang bahan bakunya impor atau sangat bergantung pada BBM — biaya logistik dan bahan baku petrokimia sedang dalam tren naik yang bisa berlanjut selama perang di Hormuz belum reda. Kalau tetap ingin mulai, pilih model usaha yang basisnya sumber daya lokal, jejak logistiknya pendek, atau justru diuntungkan rupiah lemah — misalnya produk berorientasi ekspor yang harga jualnya dalam dolar. Yang lebih penting: jangan berhenti dari pekerjaan tetap dulu selagi ada gelombang PHK di sektor manufaktur. Bangun usaha sampingan dulu sambil menjaga dana darurat lebih tebal dari biasanya — enam hingga sembilan bulan pengeluaran, bukan tiga bulan seperti aturan normal, karena ketidakpastian sekarang lebih tinggi dari biasanya.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu bersinggungan dengan bahan baku impor, BBM industri, atau petrokimia — segera hitung ulang kontrak (re-costing) dengan asumsi harga minyak yang lebih realistis, bukan asumsi lama sebelum perang. Pertimbangkan hedging valuta asing (mengunci kurs dolar di muka lewat kontrak forward, supaya biaya impor tidak makin membengkak kalau rupiah terus melemah) untuk kontrak impor jangka menengah. Masukkan klausul penyesuaian harga di kontrak baru dengan pelanggan, supaya kamu tidak menanggung sendiri lonjakan biaya yang di luar kendalimu. Kalau kamu di sektor padat energi seperti tekstil, alas kaki, atau kimia, mulai petakan skenario terburuk untuk arus kas tiga bulan ke depan — bukan untuk panik, tapi supaya keputusan soal tenaga kerja tidak diambil mendadak saat kas sudah kritis.

Buat masyarakat luas

Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar memang dijanjikan pemerintah tidak naik sampai akhir 2026 — tapi itu berarti pemerintah menahan harga dengan menambah beban subsidi, bukan karena biaya sebenarnya turun. BBM nonsubsidi seperti Pertamax sudah naik signifikan sepanjang tahun. Kalau minyak dunia bertahan tinggi lebih lama, tekanan untuk menyesuaikan harga energi atau memangkas subsidi lain akan makin besar menjelang akhir tahun atau di APBN 2027. Siapkan anggaran rumah tangga dengan asumsi harga pangan dan energi naik bertahap, bukan berharap semuanya tetap seperti sekarang.

Yang Perlu Dipantau

  • Perkembangan putaran diplomasi AS-Iran yang sempat muncul pertengahan September — apakah berlanjut jadi gencatan senjata baru, atau kembali gagal seperti tiga kali sebelumnya sepanjang 2026.

  • Laporan Oil Market Report IEA edisi berikutnya, sekitar pertengahan Oktober 2026, untuk melihat apakah proyeksi kehilangan pasokan 4,3 juta barel per hari direvisi.

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berikutnya, sekitar pertengahan Oktober, soal arah suku bunga dan besaran intervensi rupiah lanjutan.

  • Data neraca pembayaran kuartal III 2026 dari Bank Indonesia, biasanya dirilis awal-pertengahan November — penentu apakah defisit transaksi berjalan makin melebar dari 3,3% PDB.

  • Angka PHK resmi dari Kemnaker dan data Sakernas BPS periode Agustus, yang akan menunjukkan apakah realisasi PHK manufaktur mendekati proyeksi CORE 15.300–20.300 pekerja.

Penutup

Yang membuat krisis ini berbeda dari sekadar "harga minyak naik lagi" adalah betapa cepat angka-angka itu berubah jadi keputusan nyata: berapa besar subsidi yang harus ditambah, berapa buruh pabrik yang kontraknya tidak diperpanjang, berapa rupiah yang harus dibakar Bank Indonesia untuk menjaga kurs tidak jebol lebih jauh. APBN 2026 disusun dengan asumsi minyak US$70 dan kurs Rp16.500 — dan kenyataan sudah menjauh dari asumsi itu sejak sebelum rudal terakhir ditembakkan di Hormuz. Siapa pun yang masih menyusun rencana keuangan pribadi atau bisnis berdasarkan harga-harga tahun lalu, sedang berpegang pada peta yang sudah tidak sesuai dengan medannya.

Sumber

  • Al Jazeera — "US, Iran engaged in tanker war: Where is the months-long conflict headed?"

  • FXStreet / Commerzbank — "Oil, Geopolitics Tighten Physical Markets"

  • Wikipedia — "2026 Strait of Hormuz crisis" dan "List of ships attacked during the 2026 Iran war"

  • IEA — Oil Market Report September 2026 dan analisis dampak Selat Hormuz

  • Kemenkeu (DJPb) — "Selat Hormuz, Harga Energi, dan Ujian Ketahanan APBN 2026"

  • CNBC Indonesia — "Defisit Transaksi Berjalan Tembus $12,5 M, Ekonomi RI Baik-Baik Saja?"

  • Bisnis Indonesia — "Alasan Bank Indonesia Tahan BI Rate September 2026" dan "BI Rate Ditahan, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas"

  • Media Indonesia, tvOne News, RMOL — pemberitaan pelemahan rupiah September 2026

  • Antara News — "CORE: Risiko PHK Naik pada Kuartal II 2026 Imbas Konflik Global"

  • Liputan6 — "9.000 Buruh Terancam PHK Imbas Perang AS-Iran"

  • Bisnis.com — "Celios Ungkap Dampak Perang AS-Israel vs Iran ke Ekonomi RI"

  • Kontan, Tempo, Kompas — pemberitaan asumsi kurs dan ICP APBN 2026

  • Bloomberg Technoz — "Perbedaan Gejolak Minyak 2026 Akibat Hormuz dengan Krisis 1973"