Cabai Pecah Rekor Rp108.750/Kg Sehari Setelah Headline "Turun" — Ironi di Balik Data Pangan yang Ikut Mengerek Inflasi Inti
Cabai keriting tembus Rp108.750/kg sehari setelah diberitakan turun. Kenapa data pangan sebegitu liar, dan apa kaitannya dengan inflasi inti 2,92%?
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Harga cabai merah keriting nasional melonjak ke Rp108.750/kg pada 16 September 2026 — rekor baru, melampaui level Rp95.000/kg yang sempat jadi berita heboh awal bulan ini.
Ironisnya, sehari sebelumnya media ramai memberitakan "cabai turun" setelah Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai melandai. Dua berita itu sama-sama benar — dan itu justru masalahnya.
Minyak goreng kemasan bermerek naik dari Rp24.400 ke Rp26.300/kg hanya dalam sepekan, didorong kenaikan harga sawit dunia dan lemahnya pasokan dari kewajiban jual domestik produsen.
Inflasi inti Bank Indonesia/BPS naik ke 2,92% dibanding periode sama tahun lalu (Agustus 2026), ditopang harga emas perhiasan dan minyak goreng — bukan cabai, yang justru masuk kelompok statistik berbeda.
Bapanas menyimpan cadangan beras 5,1 juta ton, cadangan tertinggi sepanjang sejarah RI, tapi bantalan ini nyaris tak berguna untuk komoditas yang gampang busuk seperti cabai.
Sehari Turun, Sehari Pecah Rekor
Pada 15 September 2026, headline-headline harga pangan kompak optimistis. Data PIHPS yang dikutip sejumlah media menunjukkan cabai merah keriting turun 9,26% menjadi Rp55.350/kg, cabai rawit merah turun 8,23% ke Rp83.650/kg, dan hampir semua kualitas beras ikut melandai. Bawang merah dan bawang putih juga terkoreksi. Ceritanya waktu itu adalah pasokan yang mulai pulih dan tekanan harga yang mereda.
Besoknya, cerita itu berbalik total. PIHPS mencatat cabai merah keriting nasional melompat jadi Rp108.750/kg — kenaikan yang oleh sumber data hari itu sendiri disebut naik dari Rp66.800/kg, artinya melonjak 62,8% hanya dalam sehari. Cabai rawit merah ikut naik dari Rp94.400 ke Rp99.550/kg. Hanya cabai merah besar dan cabai rawit hijau yang masih turun tipis, membuat empat jenis cabai di pasar yang sama bergerak ke empat arah berbeda dalam hari yang sama.
Yang bikin ini makin membingungkan: angka dasar (Rp66.800) yang dipakai untuk menghitung lonjakan 16 September itu berbeda dari angka penutupan 15 September yang dilaporkan sehari sebelumnya (Rp55.350). Ini bukan berarti ada yang bohong — PIHPS memperbarui data dari sampel pasar tradisional di banyak kota sepanjang hari, dan setiap media biasanya mengutip snapshot pada jam yang berbeda. Tapi efeknya ke pembaca sama saja: dalam waktu kurang dari 24 jam, cabai keriting bisa dilaporkan "turun ke Rp55 ribuan" sekaligus "pecah rekor ke Rp108 ribuan", tergantung jam berapa dan sumber mana yang kamu buka.
Untuk konteks skala: harga normal cabai merah keriting di luar musim paceklik biasanya berkisar Rp30.000–50.000/kg. Rp108.750 bukan cuma di atas rata-rata, tapi lebih dari dua kali lipat kisaran normal itu — dan ini rekor nasional ketiga dalam tahun ini, setelah sempat menembus Rp95.000/kg awal September dan Rp84.000/kg pada Juni. Di beberapa kabupaten seperti di Kalimantan, cabai rawit bahkan pernah menyentuh Rp200.000/kg pada Agustus — jauh di atas rata-rata nasional, jadi jangan kaget kalau harga di warung dekat rumahmu terasa lebih ekstrem atau justru lebih murah dari angka nasional yang dikutip media.
Kenapa Cabai Segila Ini — Bukan Cuma Soal Cuaca
Menurut Eliza Mardian, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, volatilitas cabai bukan cerita permintaan-penawaran sederhana. Penyebab utamanya kombinasi cuaca ekstrem — curah hujan tinggi di sentra produksi yang memicu serangan hama dan penyakit tanaman, sehingga volume dan kualitas panen di level petani anjlok — dengan biaya logistik yang membengkak di jalur distribusi hortikultura.
Cabai punya kadar air tinggi sehingga gampang busuk selama pengangkutan. Ini membuat pengangkut menaikkan tarif untuk menutup risiko kerugian kargo, ditambah biaya sewa armada yang naik menjelang hari besar dan ongkos operasional non-BBM seperti tol dan suku cadang yang terus merangkak naik. Hasilnya: selisih harga antara petani dan konsumen bisa jomplang jauh, dan harga di pasar bisa berayun dari Rp84.400/kg ke Rp68.000/kg hanya dalam hitungan hari — bukan minggu.
Inilah bedanya cabai dengan beras. Bapanas bisa menyetok beras 5,1 juta ton — cadangan tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia — karena beras tahan disimpan lama dan bisa digelontorkan bertahap lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat harga mulai naik. Cabai tidak bisa diperlakukan seperti itu. Umurnya pendek, gampang busuk, dan hampir mustahil dijadikan "cadangan strategis" dalam jumlah besar. Jadi ketika cuaca memburuk di sentra produksi seperti Jawa Barat atau Jawa Timur, tidak ada bantalan kebijakan sebesar yang dimiliki beras untuk meredam guncangannya.
Minyak Goreng: Cerita yang Lebih Tenang tapi Sama Meresahkan
Kalau cabai bikin heboh karena lonjakannya dramatis dan mendadak, minyak goreng naik dengan cara yang lebih diam-diam tapi persisten. Dalam sepekan terakhir, minyak goreng kemasan bermerek naik dari Rp24.400 ke Rp26.300/kg — kenaikan hampir 8% hanya dalam tujuh hari, sementara minyak goreng curah juga naik sekitar 1,7% ke Rp20.850/kg pada pekan sebelumnya.
Pendorongnya ada di hulu: Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi crude palm oil (CPO, minyak sawit mentah bahan baku minyak goreng) untuk September 2026 naik jadi 1.007,51 dolar AS per ton, naik 1,10% dari harga Agustus. Harga sawit dunia yang mengerek biaya produksi ini diperparah oleh minimnya realisasi Domestic Market Obligation (DMO) — kewajiban produsen sawit menjual sebagian produksinya ke pasar domestik dengan harga terjangkau sebelum boleh mengekspor. Ketika realisasi DMO seret, pasokan minyak goreng murah di dalam negeri ikut seret, dan harga di rak-rak minimarket ikut terkerek.
Secara tahunan, kenaikan minyak goreng tercatat sekitar 7,6% dibanding periode sama tahun lalu — angka yang tidak sedramatis cabai, tapi jauh lebih sulit turun karena akarnya ada di harga komoditas global, bukan cuaca musiman yang bisa membaik dalam hitungan minggu.
Cabai Bukan Biang Inflasi Inti — Ini yang Sering Disalahpahami
Di sinilah letak kesalahpahaman yang paling umum. Ketika cabai dan minyak goreng sama-sama naik dan inflasi inti Bank Indonesia dilaporkan naik ke 2,92% (Agustus 2026, dari 2,76% pada Juli), wajar kalau orang mengira cabai adalah salah satu penyebabnya. Padahal tidak.
Badan Pusat Statistik memisahkan pergerakan harga menjadi tiga kelompok: inflasi inti (mencerminkan tekanan harga yang lebih persisten dan biasanya terkait permintaan jangka panjang), harga bergejolak alias volatile food (bahan pangan segar seperti cabai, bawang, ikan, yang gampang naik-turun karena cuaca dan musim), dan harga yang diatur pemerintah (BBM, listrik, tarif). Cabai masuk kelompok kedua — inflasi kelompok bergejolak tercatat 4,06% dibanding periode sama tahun lalu, justru sedikit lebih rendah dari Agustus 2025 yang mencapai 4,47%.
Minyak goreng dan emas perhiasan justru masuk kelompok inflasi inti. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut komponen inti menyumbang andil terbesar 1,87% terhadap inflasi tahunan Agustus, dengan emas perhiasan, minyak goreng, nasi berlauk, ponsel, oli mesin, dan laptop sebagai kontributor utama. Harga emas Antam sendiri naik sekitar 38,9% dibanding tahun lalu — didorong reli emas global yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dapur orang Indonesia, tapi ikut nyantol di angka inflasi inti yang sama dengan minyak goreng.
Jadi yang sebenarnya terjadi hari-hari ini adalah dua tekanan berbeda yang kebetulan datang bersamaan: gejolak musiman di pangan segar (cabai, yang liar tapi biasanya sementara), dan tekanan struktural di komoditas olahan-terkait-global (minyak goreng dan emas, yang lebih pelan tapi lebih persisten). Keduanya sama-sama menekan dompet, tapi butuh obat kebijakan yang berbeda — dan menyamakannya sebagai "satu masalah inflasi pangan" justru bisa membuat solusinya salah sasaran.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kalau kamu sedang mempertimbangkan buka usaha kuliner, warung makan, atau katering karena cari penghasilan tambahan, momen ini bukan alasan untuk membatalkan rencana — tapi wajib masuk dalam kalkulasi risikomu. Volatilitas cabai dan minyak goreng berarti margin bisnis makanan bisa tergerus dalam hitungan hari, bukan bulan, kalau kamu menetapkan harga jual secara kaku.
Sebelum mulai, cek dulu pola harga bahan baku utamamu di Panel Harga Bapanas (panelharga.badanpangan.go.id) selama beberapa bulan terakhir, bukan cuma harga hari ini. Kalau resep andalanmu sangat bergantung pada cabai segar, siapkan strategi cadangan seperti cabai kering atau bubuk cabai yang harganya jauh lebih stabil, dan hitung dulu berapa persen kenaikan bahan baku yang masih bisa kamu tanggung sebelum harus menaikkan harga jual.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Buat pelaku UMKM kuliner yang sudah berjalan, jangan menunggu sampai margin negatif baru bereaksi. Lakukan penyesuaian harga jual secara bertahap dan transparan ke pelanggan — kenaikan kecil tapi rutin lebih mudah diterima ketimbang lonjakan mendadak saat kamu sudah kepepet. Pertimbangkan kontrak harga tetap jangka pendek (satu sampai tiga bulan) dengan pemasok cabai dan minyak goreng langganan, meski harganya sedikit lebih mahal dari harga pasar hari itu — kepastian biaya kadang lebih berharga daripada harga termurah yang tidak bisa diprediksi.
Manfaatkan momen harga rendah — seperti tanggal 15 September kemarin saat cabai sempat turun — untuk membeli lebih banyak dan mengolahnya jadi bumbu jadi atau saus cabai beku yang tahan lama. Ini strategi sederhana yang sudah lama dipakai pedagang rumah makan padang dan warung tegal berpengalaman untuk meredam gejolak harian.
Buat masyarakat umum
Kalau kamu bukan pelaku usaha tapi ibu rumah tangga atau pegawai yang mengatur belanja bulanan, ingat bahwa kelompok menengah-bawah menghabiskan sekitar 55% pengeluarannya untuk pangan — jauh lebih besar proporsinya dibanding kelompok berpenghasilan tinggi. Artinya kenaikan cabai dan minyak goreng memukul kelompok ini jauh lebih keras secara relatif, meski nominalnya terlihat kecil.
Manfaatkan program stabilisasi harga pemerintah seperti operasi pasar atau SPHP di pasar tradisional dan gerai resmi Bulog, yang biasanya menjual di bawah harga pasar saat gejolak sedang tinggi. Belanja bahan pangan segar yang volatil seperti cabai dalam jumlah kecil tapi lebih sering, ketimbang menimbun saat harga sedang naik — justru berpotensi rugi kalau harga berbalik turun beberapa hari kemudian, seperti yang baru saja terjadi.
Yang Perlu Dipantau
Rilis inflasi September 2026 oleh BPS, diperkirakan hari kerja pertama Oktober — akan menunjukkan apakah inflasi inti terus naik dari 2,92% atau mulai mereda.
Harga referensi CPO Oktober 2026 dari Kementerian Perdagangan, biasanya diumumkan akhir September, penentu arah harga minyak goreng bulan depan.
Tren harian PIHPS/Panel Harga Bapanas untuk cabai — perhatikan tren mingguan, bukan angka satu hari, karena volatilitasnya bisa menyesatkan kalau dibaca sepotong-sepotong.
Perkembangan prakiraan El Nino dari BMKG untuk akhir 2026 hingga awal 2027, yang menurut BPS berpotensi terus menekan harga pangan.
Realisasi distribusi cadangan beras Bulog dan kemungkinan perluasan skema serupa untuk komoditas hortikultura yang lebih rentan busuk.
Penutup
Headline "cabai turun" pada 15 September dan "cabai pecah rekor" pada 16 September sama-sama tidak salah — keduanya cuma memotret detik yang berbeda dari sistem pangan yang goyah dari akarnya: cuaca yang makin sulit ditebak, jalur distribusi yang mahal dan rapuh, serta komoditas yang tak bisa disetok seperti beras. Yang perlu berubah bukan cara media melaporkan angka, tapi cara kita membacanya — berhenti kaget pada satu snapshot harian, dan mulai memperhatikan tren mingguan sebagai patokan yang lebih jujur. Karena selama distribusi cabai masih serapuh ini, rekor hari ini hanya menunggu direbut oleh rekor berikutnya.
Sumber
Liputan6 — Harga Pangan 16 September 2026: Cabai Merah Keriting Tembus Rp108.750 per Kg
Okezone Economy — Daftar Harga Pangan Hari Ini: Minyak Goreng Naik, Beras Turun
Bisnis.com/IDX Channel — Harga Pangan Hari Ini (15/9): Cabe Rawit, Beras, dan Telur Turun
CNBC Indonesia — Inflasi Inti Bergerak ke 2,92%: Terkerek Harga Emas, Laptop-Oli Mesin
Koran Jakarta — Harga Cabai Sulit Jinak, CORE Soroti Masalah Cuaca dan Distribusi
Antara News — Kepala Bapanas: Stok Beras Indonesia 5,1 Juta Ton, Aman Hadapi El Nino
Antara News — Kemendag: HR CPO September Naik jadi 1.007,51 Dolar AS per MT
Sawit Indonesia — Penyebab Harga Minyak Goreng Naik Yakni Minimnya Realisasi DMO dari Produsen
Kompas Money — Daya Beli Melemah dan Masa Depan Kelas Menengah
Badan Pusat Statistik — Rilis Inflasi Agustus 2026