Lewati ke konten
blabak.

IPO Unitree Melonjak 600%: Modal Global Berebut Robot, Pabrik RI Malah Menciut

Saham Unitree melonjak 629% saat IPO, bukti modal global berebut robot humanoid. Tapi manufaktur RI kontraksi dan PHK merebak. Ancaman atau peluang?

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Saham Unitree Robotics, pembuat robot humanoid asal China, melonjak 629% begitu dibuka di Bursa Shanghai pada 19 Agustus 2026 β€” dari harga IPO (penawaran saham perdana ke publik) 150,80 yuan ke 1.100 yuan, lalu ditutup naik 460% dengan valuasi sekitar US$47 miliar.

  • Modal global mengalir deras ke robot humanoid: startup robotika dunia sudah mengumpulkan US$18,8 miliar pendanaan sepanjang 2026, melampaui total sepanjang 2025 padahal tahun belum genap berjalan.

  • Di saat bersamaan, PMI manufaktur Indonesia (survei bulanan ke ratusan pabrik yang mengukur apakah aktivitas industri membaik atau memburuk) jatuh ke 49,8 pada Agustus 2026 β€” satu-satunya negara di ASEAN yang masih di bawah ambang 50 alias kontraksi, sementara Vietnam dan Filipina justru tancap gas.

  • Angka yang lebih meresahkan dari sekadar kontraksi PMI: setiap Rp1 triliun investasi baru di Indonesia kini hanya menyerap 5.360 pekerja, anjlok dari 14.382 pekerja pada 2021 β€” dan ini terjadi sebelum robot humanoid benar-benar masuk pabrik.

  • Bos Unitree sendiri mengakui robotnya belum siap dipakai massal di lini produksi; analis HSBC menyebut lonjakan pengiriman robot "bisa jadi ilusi" β€” jadi ancaman humanoid belum di depan mata, tapi tren otomasi non-humanoid sudah lebih dulu menggerus lapangan kerja RI.

Sembilan Jam yang Menghasilkan Ratusan Triliun

Rabu pagi, 19 Agustus 2026, saham Unitree resmi diperdagangkan di STAR Market β€” papan khusus saham teknologi di Bursa Shanghai. Harga IPO-nya 150,80 yuan per lembar. Begitu dibuka, harga langsung melompat ke 1.100 yuan: naik 629% dalam hitungan detik, membawa kapitalisasi pasar perusahaan ke sekitar 445 miliar yuan atau US$66 miliar β€” lebih besar dari valuasi pesaingnya di Amerika, Figure AI, yang berdiri di US$39 miliar.

Permintaannya gila-gilaan. Sekitar 9,8 juta akun investor ritel memperebutkan hanya 9,7 juta saham yang dilepas untuk publik. Tingkat alokasinya cuma 0,018% β€” artinya dari 10.000 orang yang mengantre, hampir tak ada yang kebagian jatah penuh. Wang Xingxing, pendiri Unitree, kekayaannya di atas kertas tembus lebih dari 100 miliar yuan hanya dari kepemilikan sahamnya. Meituan, raksasa layanan on-demand China yang jadi investor awal, meraup return sekitar 70 kali lipat dari modal yang mereka tanam.

Tapi euforia itu tak bertahan. Harga saham mereda sepanjang hari dan ditutup di 845 yuan β€” masih naik 460% dari harga IPO, tapi sudah jauh dari puncak. Lebih dramatis lagi, pada 25 Agustus β€” hanya enam hari setelah debut β€” saham Unitree ambruk 45% dari harga penutupan hari pertama. Euforia ritel bertemu kenyataan pasar yang lebih dingin.

Di balik lonjakan itu ada angka yang bikin analis mengernyit: pada harga pembukaan, Unitree diperdagangkan pada rasio sekitar 1.200 kali laba setahun terakhirnya β€” angka yang jauh di atas kewajaran untuk perusahaan manapun, apalagi yang laba bersih disesuaikannya justru turun 53% dibanding periode sama tahun lalu di kuartal pertama 2026. Pendapatannya memang tumbuh 68,5% dibanding periode sama tahun lalu menjadi 423 juta yuan, dan perusahaan sudah mengirim sekitar 18.000 unit robot humanoid berkaki dua sampai Juli 2026. Masalahnya, sebagian besar pembelinya adalah universitas dan lembaga riset, bukan pabrik yang benar-benar memakainya untuk produksi harian. Wang Xingxing sendiri, dalam forum World Robot Conference, mengakui robot humanoid belum siap dipakai luas di pabrik karena efisiensinya masih kalah jauh dari manusia untuk tugas-tugas sederhana dan kesulitan beradaptasi ke jenis pekerjaan yang berbeda-beda.

Uang Global Sudah Memilih Kubu

Terlepas dari drama harga sahamnya, IPO Unitree adalah gejala dari sesuatu yang lebih besar: dunia sedang menuangkan uang dalam jumlah luar biasa ke robot humanoid. Startup robotika global sudah mengumpulkan US$18,8 miliar pendanaan sepanjang 2026 β€” mengalahkan total sepanjang 2025 (US$15 miliar) dan puncak sebelumnya di 2021 (US$14,1 miliar), padahal tahun ini belum genap selesai.

Nama-nama besar berlomba mengejar valuasi selangit. Figure AI di Amerika, didukung OpenAI, Microsoft, dan Nvidia, sudah mengumpulkan US$2,34 miliar pendanaan dengan valuasi US$39 miliar. Startup 1X bernilai sekitar US$10 miliar, Apptronik US$5,5 miliar. Neura Robotics dari Jerman meraih US$1,4 miliar dari Nvidia, Amazon, dan Qualcomm. XPeng, produsen mobil listrik China, baru saja menutup putaran pendanaan lebih dari US$900 juta untuk divisi robotikanya, dengan valuasi US$6,3 miliar.

RBC Capital Markets memproyeksikan pasar global robot humanoid bisa mencapai US$9 triliun pada 2050, dengan China menguasai lebih dari 60% pangsa pasar. Morgan Stanley memperkirakan pasar humanoid China saja melompat dari US$2 miliar tahun ini menjadi US$15 miliar pada 2030. China sudah menyumbang sekitar 85% dari seluruh unit robot humanoid yang benar-benar terpasang di dunia β€” hasil dari kombinasi kapasitas manufaktur raksasa dan robotika yang dijadikan prioritas nasional oleh Beijing.

Tapi tidak semua orang percaya ini bukan gelembung. Rodney Brooks, penemu robot pembersih lantai Roomba dan salah satu tokoh senior industri robotika dunia, menyebut derasnya uang yang masuk sebagai "pemborosan" β€” menurutnya, masalah teknis mendasar seperti kelincahan tangan dan kestabilan berjalan robot humanoid belum terpecahkan untuk bisa menggantikan pekerjaan manusia secara aman. Ia memperkirakan industri ini "akan melewati hype besar, lalu jatuh ke lembah kekecewaan" sebelum benar-benar matang.

Sementara Itu, di Karawang dan Semarang

Kontras dengan gegap gempita Shanghai, kabar dari lantai pabrik Indonesia jauh lebih suram. PMI manufaktur RI sempat berada di 53,8 pada Februari 2026 β€” level ekspansi tertinggi dalam hampir dua tahun. Tapi sejak itu tren menurun: 50,1 di April, 50,0 di Mei, lalu anjlok tajam ke 46,9 pada Juni β€” level terendah dalam sembilan bulan yang langsung memicu peringatan sejumlah ekonom soal gelombang PHK. Sempat membaik ke 50,2 di Juli, PMI kembali terjun ke zona kontraksi di 49,8 pada Agustus 2026. Indonesia jadi satu-satunya dari lima negara ASEAN yang datanya sudah rilis yang masih di bawah ambang 50, sementara Vietnam melaju ke 53,3 dan Filipina bahkan melonjak ke 54,9 β€” level tertinggi mereka dalam setahun terakhir.

Data PHK-nya sendiri simpang siur, dan itu sendiri masalah. BPJS Ketenagakerjaan mencatat 126.000 pekerja jadi tidak aktif akibat PHK sampai Mei 2026, dengan 50.000 klaim Jaminan Hari Tua (JHT) yang dicairkan. Bandingkan dengan angka resmi Kementerian Ketenagakerjaan yang hanya mencatat 32.389 kasus PHK sampai Juni 2026 β€” kurang dari seperempat versi BPJS. Di Jawa Tengah saja, 6.604 pekerja kena PHK sepanjang 2026, dengan sektor tekstil dan garmen menyumbang 51,4% dari total.

Asosiasi Industri Persepatuan (IPKB) melaporkan 70% anggotanya, terutama UKM, mengalami penurunan pesanan 40-60% sejak awal Juli β€” lebih cepat dari pola musiman biasanya. Ketuanya, Nandi Herdiaman, memperingatkan "tanpa intervensi segera, PHK massal akan menghantam Agustus" dan meminta pemerintah "menyelamatkan 3,7 juta keluarga" yang menggantungkan hidup dari industri padat karya ini. Penyebabnya bukan robot: melainkan banjir impor tekstil ilegal dan under-invoicing (barang impor dilaporkan lebih murah dari harga sebenarnya untuk menghindari bea masuk), permintaan domestik yang lesu, dan harga komoditas yang naik.

Angka di Balik Angka: Pabrik RI Sudah Menciut Sebelum Robot Datang

Di sinilah bagian yang jarang dibahas media, dan justru paling penting untuk dipahami. Ekonom Ariyo DP Irhamna mencatat bahwa daya serap tenaga kerja dari setiap rupiah investasi di Indonesia sudah anjlok drastis β€” dari 14.382 pekerja per Rp1 triliun investasi pada 2021, menjadi hanya 5.360 pekerja pada semester I 2026. Itu penurunan lebih dari 60%, dan terjadi jauh sebelum satu unit robot humanoid pun benar-benar bekerja di pabrik Indonesia.

Artinya, investasi ke Indonesia terus mengalir β€” bahkan meningkat di banyak sektor β€” tapi makin sedikit yang terserap jadi lapangan kerja baru. Ini konsisten dengan arah Peta Jalan Making Indonesia 4.0 milik pemerintah, yang justru mendorong robotika mulai mendominasi lini produksi di sektor otomotif nasional, serta adopsi robot quadruped (robot berkaki empat) untuk inspeksi di tambang dan kilang yang berbahaya bagi manusia. Ini bukan robot humanoid ala Unitree, tapi lengan robot dan sistem otomasi konvensional yang sudah lama menggantikan tugas-tugas manual di lini produksi padat modal.

Jadi sebelum kita bicara ancaman robot humanoid yang masih dalam fase eksperimen, Indonesia sudah lebih dulu menghadapi kenyataan bahwa modelnya membangun industri lewat investasi padat modal β€” bukan lagi padat karya seperti dekade 2000-an β€” sudah berjalan, dan konsekuensinya terhadap penyerapan kerja sudah terlihat di angka.

Ancaman atau Peluang? Dua Realita yang Harus Dipegang Bersamaan

Untuk jangka pendek, klaim bahwa robot humanoid akan "mengambil alih" pabrik-pabrik Indonesia dalam waktu dekat kemungkinan berlebihan. Bahkan pendiri Unitree mengakui robotnya belum siap untuk tugas pabrik yang kompleks, mayoritas unit yang terjual masih ke universitas dan lembaga riset, dan harga per unitnya masih jauh lebih mahal daripada mempekerjakan buruh dengan upah minimum di Indonesia β€” beda dengan China yang mengejar otomasi karena tenaga kerjanya menua dan upahnya sudah naik jauh lebih tinggi.

Tapi untuk jangka menengah, ada dua realita yang berjalan paralel dan sama-sama nyata. Pertama, tren capital substitution (modal menggantikan tenaga kerja) sudah berlangsung di Indonesia tanpa perlu menunggu robot humanoid matang β€” dan itu akan makin cepat begitu ongkos robotika turun seiring skala produksi China membesar. Kedua, ada celah peluang: hilirisasi nikel dan kobalt (mengolah bahan tambang mentah jadi produk bernilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar diekspor mentah) yang selama ini diarahkan untuk baterai kendaraan listrik, berpotensi juga memasok rantai komponen robotika di masa depan. Adopsi robot untuk inspeksi di sektor tambang dan migas RI juga sudah tumbuh β€” ceruk kecil, tapi nyata dan bisa dikembangkan oleh pemain lokal.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan taruh rencana bisnis baru di sektor padat karya seperti garmen, alas kaki, atau tekstil tanpa strategi pembeda yang jelas β€” sektor ini sedang kena dua tekanan sekaligus: banjir impor murah dan tren otomasi yang membuat investasi baru makin pelit menyerap pekerja. Kalau kamu tertarik pada gelombang robotika ini, peluang yang lebih realistis untukmu bukan membangun startup robot humanoid sendiri (butuh modal raksasa dan riset bertahun-tahun yang bahkan Unitree pun belum sepenuhnya menang), melainkan jasa pendukungnya: integrator otomasi pabrik, teknisi maintenance robot industri, atau pelatihan vokasi otomasi yang permintaannya justru naik seiring adopsi robot non-humanoid di sektor tambang, migas, dan otomotif. Kalau kamu ingin exposure ke tren global ini lewat pasar modal, sadari bahwa IHSG belum punya emiten robotika murni β€” exposure hanya bisa lewat produk investasi luar negeri, dan ingat valuasi 1.200 kali laba serta koreksi 45% dalam sepekan yang baru saja dialami Unitree sebagai pengingat risikonya.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Cek rasio investasi terhadap penyerapan kerja di bisnismu sendiri β€” kalau kamu terus menambah belanja modal untuk mesin tapi jumlah pekerjamu stagnan atau turun, kamu sudah jadi bagian dari tren yang sama yang membuat angka nasional anjlok dari 14.382 ke 5.360 pekerja per triliun rupiah investasi. Ini bukan berarti otomasi itu salah β€” tapi kamu perlu punya rencana yang jelas soal ke mana pekerja yang tergeser akan dialihkan, bukan sekadar mengurangi headcount diam-diam. Bandingkan juga produktivitas dan daya saingmu dengan kompetitor di Vietnam dan Filipina, yang justru sedang ekspansi karena lebih berhasil menarik pesanan dan investasi berteknologi lebih tinggi β€” mengandalkan upah murah saja sudah bukan strategi yang cukup di tengah tren otomasi global. Dan jangan buru-buru all-in ke robot humanoid untuk lini produksi: bahkan Unitree sendiri mengakui teknologinya belum matang untuk tugas kompleks, sementara otomasi yang lebih konvensional seperti lengan robot dan sistem conveyor pintar masih jauh lebih rasional secara hitungan balik modal saat ini.

Buat Indonesia secara keseluruhan

Kesenjangan data PHK antara versi BPJS Ketenagakerjaan (126.000) dan Kemnaker (32.389) menunjukkan negara ini bahkan belum punya sistem pemantauan dampak ketenagakerjaan yang solid β€” padahal itu prasyarat dasar untuk merumuskan kebijakan sebelum gelombang otomasi yang lebih besar tiba. Momentum hilirisasi mineral yang selama ini difokuskan ke baterai kendaraan listrik bisa diperluas visinya ke rantai pasok komponen robotika masa depan, supaya Indonesia berpeluang jadi pemasok bahan baku dan bukan sekadar pasar tujuan produk otomatisasi negara lain. Dan yang tak kalah penting: program reskilling untuk pekerja padat karya perlu dipercepat sekarang, mengarahkan mereka ke peran yang lebih sulit digantikan mesin β€” perawatan alat, kendali mutu kompleks, layanan pelanggan β€” sebelum ongkos robotika benar-benar turun ke titik yang membuatnya lebih murah dari upah buruh Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis PMI Manufaktur Indonesia untuk September 2026 dari S&P Global, dijadwalkan awal Oktober 2026 β€” penentu apakah RI keluar dari kontraksi atau makin dalam terpuruk.

  • Laporan keuangan kuartal ketiga 2026 Unitree β€” apakah porsi penjualan ke pelanggan komersial (bukan universitas/riset) mulai naik, indikator nyata pergeseran dari hype ke substansi bisnis.

  • Data resmi PHK Kemnaker dan klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan untuk kuartal III 2026 β€” untuk melihat apakah proyeksi "gelombang PHK Agustus-Desember" dari para ekonom benar-benar terjadi.

  • Realisasi insentif Kemenperin soal restrukturisasi mesin, otomasi, dan program vokasi yang sudah dijanjikan β€” apakah didukung anggaran konkret atau berhenti di wacana.

  • Pergerakan harga saham Unitree pasca periode saat investor awal mulai boleh menjual sahamnya, serta data pengiriman robot pada kuartal berikutnya sebagai ukuran apakah permintaan riil bertumbuh atau cuma euforia awal.

Penutup

Unitree membuktikan bahwa modal global sudah memasang kuda-kuda untuk masa depan yang ditenagai robot humanoid β€” tapi kuda-kuda itu masih goyah, terbukti dari koreksi 45% hanya sepekan setelah pesta pembukaan sahamnya. Ancaman nyata bagi pekerja pabrik Indonesia hari ini bukan datang dari robot berkaki dua yang baru bisa jungkir balik di panggung pameran, melainkan dari sesuatu yang sudah terjadi diam-diam: setiap rupiah investasi baru di negeri ini kian pelit menyerap tenaga manusia, jauh sebelum robot canggih itu benar-benar mengetuk pintu pabrik. Kalau Indonesia menunggu sampai Unitree benar-benar siap sebelum bersiap, keretanya sudah lama berangkat.

Sumber

  • South China Morning Post β€” "Unitree Robotics surges 629% to US$66 billion valuation in Shanghai share debut"

  • Invezz β€” "Unitree stock surged 629% on debut: is China's robot boom already overvalued?"

  • Invezz β€” "Unitree stock crashes 45% after 460% debut as China's robot frenzy meets reality"

  • Bloomberg Technoz β€” "Debut IPO Rp16 Triliun yang Mengesankan dari Unitree: Lompat 629%"

  • Yahoo Finance/Futurism β€” "Investors Warn That Humanoid Robots Are the Next Financial Bubble" (kutipan Rodney Brooks)

  • Crunchbase News / Value Add VC β€” data pendanaan robotika global 2026 (US$18,8 miliar)

  • RBC Capital Markets β€” "The $9 Trillion Opportunity in Humanoid Robotics"

  • CNBC Indonesia β€” "Kabar Buruk Awal September: PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik"

  • Bisnis Indonesia β€” "Alarm PHK Sektor Manufaktur Belum Mereda"

  • Bisnis Indonesia / CNBC Indonesia β€” perbandingan PMI manufaktur ASEAN Agustus 2026

  • IDN Financials β€” "Indonesia manufacturing PMI falls to 46.9 in June 2026"

  • Media Indonesia β€” "Sebanyak 6.604 Pekerja di Jateng Terkena PHK, Industri Tekstil dan Garmen Dominan"

  • Republika β€” "BPS: Industri Manufaktur Ekspansif, tetapi Komponen Tenaga Kerja Terkontraksi"