Lewati ke konten
blabak.

Demo 27 Agustus Bikin IHSG Ambruk 1,48%, Lalu Melejit 1,81% Keesokan Harinya — Ini yang Sebenarnya Terjadi

Demo empat aliansi di DPR bikin IHSG anjlok 1,48% dan rupiah tertekan, sebelum rebound 1,81% sehari kemudian. Ini yang sebenarnya digoyang di pasar.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • IHSG anjlok 1,48% (95,98 poin) ke 6.405,69 pada Rabu 26 Agustus 2026 — sehari sebelum demo besar di DPR — lalu melejit 1,81% (116,06 poin) ke 6.521,75 sehari setelah demo berlangsung tertib.

  • Empat kelompok — AMPB, AMDB, GERAM, dan RMP4 — turun ke jalan di depan Gedung DPR/MPR, dan salah satu tuntutan yang paling sering diulang persis menyasar dompet rakyat: turunkan harga kebutuhan pokok, naikkan upah buruh.

  • Rupiah ikut goyah, sempat dibuka melemah ke Rp17.775 per dolar AS sebelum ditutup di Rp17.744 — bagian kecil dari pelemahan rupiah yang sudah mencapai sekitar 8% sepanjang 2026.

  • Investor asing justru net buy (belanja saham lebih banyak daripada menjual) Rp1,37 triliun tepat saat IHSG ambruk, lalu net sell Rp264,31 miliar saat indeks melejit — pola klasik "beli saat panik, ambil untung saat euforia".

  • Semua ini terjadi persis saat DPR sedang membahas RAPBN 2027, dan hampir tepat setahun setelah kematian pengemudi ojol Affan Kurniawan dalam demo Agustus 2025 yang juga menggoyang pasar.

Dua Hari yang Membongkar Kegugupan Pasar

Rabu, 26 Agustus 2026, jadi hari yang gelisah di Bursa Efek Indonesia. IHSG ditutup terkoreksi 1,48% atau 95,98 poin ke level 6.405,69, dengan 599 saham melemah berbanding hanya 136 yang menguat. Bukan koreksi biasa — ini H-1 dari rencana demo besar empat aliansi masyarakat di depan DPR, dan pasar sudah bersikap wait and see (menunggu dan mengamati dulu sebelum mengambil posisi) sejak sore itu.

Esoknya, Kamis 27 Agustus, kekhawatiran itu terbukti sebagian: IHSG dibuka melemah lagi 0,24% ke 6.390. Tapi begitu demo berlangsung tertib — sejumlah anggota DPR bahkan turun langsung menemui massa — arah pasar berbalik drastis. Menjelang siang indeks sudah naik 1,39% ke 6.494,55, dan saat penutupan, IHSG melonjak 1,81% (116,06 poin) ke 6.521,75, level tertinggi dalam hampir 3,5 bulan terakhir.

Penguatan itu bukan cuma di permukaan. Sebanyak 578 saham menguat, hanya 103 yang melemah, dan semua sektor bergerak hijau — dipimpin sektor kesehatan yang melonjak 6,26%, disusul konsumer non-primer 3,53% dan utilitas 3,03%. Tapi ada satu detail yang gampang terlewat: volume transaksi hari itu justru tergolong sepi, 35,18 miliar lembar saham senilai Rp13,51 triliun. Rebound-nya nyata, tapi tidak ditopang antusiasme beli yang besar — lebih terasa seperti pasar menghela napas lega ketimbang benar-benar yakin.

Rupiah bergerak dengan pola serupa, meski tidak sedramatis IHSG. Setelah ditutup melemah tipis 0,01% ke Rp17.725 pada 26 Agustus, rupiah dibuka lebih lemah lagi keesokan harinya ke Rp17.775 — turun 50 poin atau 0,28%. Di tengah hari sempat menguat 75 poin mengekor optimisme di bursa saham, tapi akhirnya ditutup melemah tipis di Rp17.744 dibanding penutupan sehari sebelumnya. Analis menyebut penyebab utamanya bukan cuma demo, tapi juga penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS — sentimen dari luar negeri yang kebetulan datang bersamaan dengan kegelisahan dalam negeri.

Empat Suara, Satu Titik Kumpul

Yang membuat demo 27 Agustus berbeda dari aksi-aksi sebelumnya adalah siapa saja yang datang, dan betapa berbedanya kepentingan mereka. Setidaknya empat aliansi tercatat turun ke depan Gedung DPR/MPR di Senayan hari itu.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB) membawa tiga tuntutan inti: pengesahan RUU Perampasan Aset, hukuman mati bagi koruptor, dan desakan agar harga kebutuhan pokok diturunkan. Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) — koalisi mahasiswa dan masyarakat sipil — datang dengan sepuluh tuntutan yang lebih luas, mulai dari mengendalikan harga kebutuhan pokok dan menaikkan upah buruh, menetapkan bencana di Sumatra dan NTT sebagai bencana nasional, menjamin hak pekerja rumah tangga, hingga menghentikan kriminalisasi aktivis. Sementara itu Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) justru datang dengan sikap berbeda: mendukung program Makan Bergizi Gratis, tapi meminta evaluasi pelaksanaannya.

Kombinasi ini penting untuk dipahami investor: ini bukan gerakan tunggal dengan satu tuntutan politik, melainkan gabungan kekecewaan ekonomi sehari-hari — harga beras, minyak goreng, dan upah yang tak sebanding dengan biaya hidup — dengan isu-isu struktural seperti korupsi dan penegakan hukum. Tuntutan soal upah buruh sendiri bukan hal baru: sepanjang 2026 serikat pekerja sudah berulang kali menuntut kenaikan upah minimum di kisaran 8,5–10,5%, sementara realisasi kenaikan UMP 2026 yang ditetapkan pemerintah akhir 2025 hanya berkisar 5–8% secara nasional. Jarak antara tuntutan dan realisasi itulah yang terus menumpuk jadi bahan bakar aksi-aksi berikutnya.

Saat Semua Panik, Ada yang Belanja

Bagian paling menarik dari cerita ini justru bukan soal IHSG naik-turun, tapi soal siapa yang membeli dan siapa yang menjual di baliknya. Pada 26 Agustus, tepat saat IHSG ambruk 1,48% dan investor domestik terlihat panik, investor asing justru mencatatkan net buy jumbo Rp1,37 triliun di seluruh pasar. Mereka memborong saham-saham blue chip: Bank Mandiri (BMRI) Rp255,24 miliar, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Rp102,68 miliar, Bank Central Asia (BBCA) Rp80,82 miliar, Merdeka Copper Gold (MDKA) Rp66,14 miliar, dan Indofood CBP (ICBP) Rp30,20 miliar.

Sehari kemudian, saat IHSG melejit 1,81% dan optimisme domestik kembali, pola itu berbalik: investor asing mencatat net sell Rp264,31 miliar. Dengan kata lain, mereka mengambil untung dari saham murah yang baru dibeli sehari sebelumnya — sebuah aksi profit taking klasik (menjual untuk mengunci keuntungan setelah harga naik).

Pola ini menunjukkan sesuatu yang sering luput dari headline: penurunan 1,48% itu, di mata investor institusi besar, lebih terlihat sebagai diskon sementara ketimbang sinyal krisis. M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menegaskan bahwa investor tidak akan langsung menghukum pasar hanya karena ada demonstrasi. Yang mereka amati, katanya, adalah "apakah aksi tersebut hanya menjadi bentuk ekspresi demokrasi atau berkembang menjadi instabilitas politik dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi." Risiko capital outflow (arus modal asing kabur keluar dari Indonesia) baru menjadi ancaman serius, menurutnya, kalau demonstrasi benar-benar mendorong naik risk premium Indonesia — semacam "biaya tambahan" yang diminta investor global untuk menanggung risiko menaruh uang di sini.

Bayang-Bayang Affan Kurniawan

Ada alasan mengapa pasar Indonesia begitu gugup setiap kali mendengar kabar demo besar di depan DPR, dan alasan itu punya tanggal yang nyaris sama persis dengan hari ini. Pada 28 Agustus 2025 — hampir tepat setahun sebelum demo 27 Agustus 2026 — seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan tewas ditabrak kendaraan taktis Brimob saat demo buruh di Jakarta. Kabar itu memicu gelombang kemarahan publik yang jauh lebih besar dari demo itu sendiri, dan pasar bereaksi keras: IHSG anjlok 180,8 poin (-2,27%) ke 7.771,28, dan rupiah melemah 138 poin (-0,84%) ke Rp16.490 per dolar AS.

Trauma itu belum hilang. Bhima Yudhistira, ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini rapuh secara fundamental, dan risikonya bisa memburuk karena ketidakpuasan publik tidak direspons serius oleh pemerintah. Menurutnya, pasar pada 27 Agustus 2026 menghadapi tekanan berlapis — bukan cuma dari demo, tapi juga transisi kepemimpinan bank sentral, rebalancing indeks global (penyesuaian bobot saham dalam indeks acuan investor dunia seperti MSCI), dan lingkungan suku bunga global yang mengetat.

Jika ditarik ke data historis yang lebih panjang, pola ini sebenarnya konsisten. Demo Peringatan Darurat #KawalPutusanMK pada Agustus 2024 membuat IHSG turun 0,87% — angka yang, menurut catatan riset pasar, mendekati rekor pelemahan saat demo menjelang kejatuhan Soeharto 1998 (IHSG turun 0,94% dalam sehari). Demo penolakan RKUHP pada 23 September 2019 mendorong IHSG turun 0,41%, dan koreksinya berlanjut 1,11% keesokan harinya. Yang jarang disorot: dampak ini hampir selalu bersifat jangka pendek dan berbasis sentimen, bukan perubahan fundamental — kecuali situasinya berkembang jadi kekerasan atau krisis politik yang lebih struktural, seperti yang terjadi setahun lalu.

Waktu yang Ganjil: RAPBN 2027 Sedang Dibahas Persis Saat Ini

Ada satu lapisan konteks yang membuat momentum demo 27 Agustus makin sensitif: DPR sedang berada di tengah proses pembahasan RAPBN 2027. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 2027 dalam sidang paripurna DPR pada 14 Agustus 2026. Delapan fraksi menyepakati RUU APBN 2027 dilanjutkan ke tahap pembahasan pada 19 Agustus, dan pemerintah dijadwalkan menyampaikan tanggapan atas pandangan fraksi-fraksi dalam sidang paripurna — pada 27 Agustus 2026, hari yang sama dengan demo besar itu berlangsung.

Dalam rancangan tersebut, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara Rp3.426 triliun berbanding belanja negara Rp4.097 triliun, menghasilkan defisit Rp671,2 triliun atau 2,40% dari PDB. Target pertumbuhan ekonomi 6% dalam RAPBN 2027 sudah lebih dulu disorot sejumlah pengamat sebagai terlalu optimistis. Celios bahkan lebih tajam soal asumsi inflasi: Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menilai target inflasi 2,5% pada 2027 tidak realistis karena tidak memperhitungkan risiko kenaikan harga pangan ke depan. Ia memperkirakan inflasi bisa mencapai 5,74% jika El Nino dan tekanan inflasi impor (imported inflation, kenaikan harga barang-barang yang Indonesia impor dari luar negeri) benar-benar terjadi.

Artinya, tuntutan buruh dan warga soal harga pokok dan upah yang diteriakkan di depan DPR pada hari itu bukan isu yang terpisah dari APBN — ia justru berbenturan langsung dengan asumsi-asumsi yang sedang dirundingkan di dalam gedung yang sama.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan menunda rencana usaha hanya karena satu hari IHSG merah — tapi juga jangan mengabaikan sinyal bahwa rupiah sedang dalam tren pelemahan struktural, bukan cuma gejolak sehari. Rupiah sudah melemah sekitar 8% sejak awal 2026, dari kisaran Rp16.600–16.900 di Januari ke atas Rp17.700 di Agustus. Kalau rencana usahamu bergantung pada bahan baku impor — elektronik, tekstil, bahan kimia, bahkan kemasan — hitung ulang proyeksi biaya dengan asumsi kurs yang lebih lemah dari hari ini, bukan kurs saat ini. Modal awal yang mepet akan lebih cepat tergerus kalau kurs terus bergerak melawanmu.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau kamu mengimpor bahan baku atau punya kewajiban dalam dolar, pertimbangkan hedging (mengunci nilai tukar di awal transaksi supaya biaya tidak melonjak kalau rupiah tiba-tiba melemah lagi) untuk kontrak-kontrak besar ke depan — jangan menunggu sampai kurs terasa "sudah kelewat mahal" baru bertindak. Kalau bisnismu menyasar konsumen kelas menengah-bawah, ambil serius tuntutan soal harga kebutuhan pokok dan upah buruh yang terus berulang di jalanan sepanjang 2026: itu sinyal langsung bahwa daya beli sedang tertekan, dan strategi harga premium mungkin butuh penyesuaian jangka pendek.

Kalau kamu bukan pengusaha, tapi ikut merasakan efeknya

Volatilitas pasar modal terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, tapi jalurnya nyata: kalau capital outflow benar-benar terjadi dan rupiah tertekan lebih dalam, Bank Indonesia biasanya merespons dengan menahan atau menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga rupiah tetap menarik bagi investor asing. Suku bunga tinggi berarti bunga kredit rumah, kendaraan, dan modal usaha ikut mahal. Rantai ini yang membuat demo soal harga pokok dan upah buruh, meski terlihat sebagai isu jalanan, sebenarnya berkelindan langsung dengan keputusan-keputusan di lantai bursa dan meja kebijakan moneter.

Yang Perlu Dipantau

  • Kelanjutan pembahasan RAPBN 2027 di DPR — terutama apakah target inflasi 2,5% dan pertumbuhan 6% direvisi menjelang pengesahan yang biasanya jatuh sekitar akhir September–Oktober.

  • Rilis data inflasi Agustus 2026 dari BPS awal September — indikator paling langsung untuk mengecek apakah kekhawatiran soal harga kebutuhan pokok punya dasar statistik yang kuat.

  • Arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia di tengah transisi kepemimpinan bank sentral yang disebut ekonom Celios sebagai salah satu sumber tekanan pasar.

  • Rencana aksi buruh lanjutan yang sudah disebut-sebut akan digelar dalam skala besar tak lama setelah 27 Agustus — jika gelombang aksi berlanjut dan meluas, pola "sehari turun sehari rebound" bisa berhenti berulang.

  • Arus dana asing (net buy/net sell) di bursa saham dan pasar surat utang negara dalam beberapa pekan ke depan, sebagai indikator paling tajam apakah investor global mulai menaikkan penilaian risiko Indonesia atau tidak.

Penutup

Yang paling jujur bisa dikatakan tentang 26–27 Agustus 2026 adalah ini: pasar tidak takut pada demo itu sendiri, ia takut pada apa yang bisa terjadi sesudahnya — dan ingatan tentang Affan Kurniawan setahun lalu membuktikan ketakutan itu bukan tanpa alasan. Begitu jelas bahwa aksi berjalan tertib dan negosiasi tetap terbuka, uang kembali masuk secepat ia keluar. Itu bukan tanda semuanya baik-baik saja — itu tanda bahwa fondasi ekonomi kita masih cukup rapuh untuk digoyang oleh satu hari ketidakpastian, dan cukup mudah ditenangkan oleh satu hari kepastian. Kalau kamu menunggu sinyal untuk mulai peduli pada isu upah dan harga pokok bukan sebagai berita, tapi sebagai variabel dalam keputusan finansialmu sendiri, ini saatnya.

Sumber

  • Suara.com — "Demo Besar Hari Ini, Awas Rupiah dan IHSG Bisa Keok"

  • Katadata — "Besok 27 Agustus 2026 Demo Apa? Ini Daftar Kelompok dan Tuntutannya"

  • Liputan6 — "Ada Demo 27 Agustus, IHSG Mampu Melambung 1,81% ke 6.521"

  • IDX Times — "IHSG Ambruk H-1 Demo 27 Agustus 2026, Merosot ke 6.400-an"

  • CNBC Indonesia — "IHSG Naik Nyaris 2%, Ditutup di Level Tertinggi Harian"

  • CNBC Indonesia — "Asing Net Buy Rp1,37 T, Serok 10 Saham Ini Kala IHSG Ambruk"

  • Vibiznews — "IHSG Kamis Ditutup Rebound 1,8% ke Level 6.522"

  • Kontan — "Rupiah Diprediksi Sideways, Demo 27 Agustus Jadi Sorotan Pasar"

  • Kontan — "Rupiah Anjlok Hampir 8% Sejak Awal Tahun 2026, Cermati Prospeknya"

  • IDX Channel — "Menakar Dampak Aksi Demo terhadap IHSG, Gejolak Sesaat atau Risiko Pasar?"

  • Wartaekonomi — "Jelang Demo 27 Agustus, IHSG Berpotensi Tertekan Aksi Profit Taking"

  • Investortrust.id — "Pasar Saham dan Rupiah Terdampak Demonstrasi, Tragedi Affan"

  • CNBC Indonesia — "Begini Kondisi IHSG Saat Demo Besar-Besaran RI dari 1998–2025"

  • CNBC Indonesia — "Sah! Rancangan Awal APBN 2027 Disetujui Paripurna DPR"

  • Tribunnews — "Anggaran BGN Terbesar di RAPBN 2027, CELIOS Sebut Ada Potensi Bertambah"

  • Bisnis.com — "6 Poin Tuntutan Hari Buruh 2026, KSPI Soroti UU Ketenagakerjaan hingga Kenaikan Upah Minimum"