Nvidia Bukukan Laba Fantastis, Saham Melonjak 8,7% — Reli Chip Global Menyala Lagi
Nvidia bukukan pendapatan $96,2 miliar dan proyeksi pertumbuhan 70%, saham melonjak 8,7%. Kenapa reli ini beda, dan apa efeknya ke IHSG serta ongkos GPU RI?
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Pada 26 Agustus 2026, Nvidia melaporkan pendapatan kuartalan $96,2 miliar — naik 106% dibanding periode sama tahun lalu — dan sahamnya melonjak 8,7% dalam semalam, menyeret Nasdaq naik 1,57% dan mengangkat saham semikonduktor dari Broadcom, SK Hynix, Intel, hingga TSMC.
Yang bikin pasar lebih heboh bukan cuma laba, tapi proyeksi baru: Nvidia memperkirakan pendapatannya tumbuh 70% pada tahun fiskal 2028 — jauh di atas ekspektasi analis yang cuma 44%. Ini kali pertama Nvidia berani kasih panduan setahun ke depan.
Tapi laporan ini datang di tengah kecurigaan soal "circular financing" — skema saling suntik dana antara Nvidia dan perusahaan AI yang jadi pelanggannya sekaligus — yang oleh Bank for International Settlements (BIS) disebut sebagai salah satu dari tiga risiko terbesar bagi stabilitas keuangan global tahun ini.
Di Indonesia, IHSG memang ikut menguat 1,81% ke 6.521 pada 27 Agustus, tapi data menunjukkan penggeraknya justru isu domestik — bukan sentimen Nvidia. Sementara itu, biaya sewa GPU untuk startup dan perusahaan digital lokal tetap mahal karena pasokan chip global masih jauh di bawah permintaan.
Di balik headline laba jumbo, ada detail yang jarang disorot: margin kotor Nvidia sendiri justru diperkirakan turun ke 71–72% pada kuartal berikutnya, gara-gara harga chip memori (HBM) yang melonjak — artinya pemasok Nvidia juga ikut menikmati kue AI ini, dan biayanya berpotensi diteruskan ke pembeli di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Angka yang Bikin Wall Street Terperangah
Nvidia menutup kuartal yang berakhir 26 Juli 2026 dengan pendapatan $96,2 miliar, naik 18% dari kuartal sebelumnya dan 106% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba per saham (GAAP) tercatat $2,46, melonjak 128% dari tahun lalu. Ini adalah kuartal ke-13 berturut-turut Nvidia melampaui panduannya sendiri — sebuah rekor konsistensi yang jarang dimiliki perusahaan seukuran ini.
Mesin utamanya jelas: divisi pusat data (data center — infrastruktur komputasi raksasa yang menjalankan model AI) menyumbang $89 miliar, tumbuh 117% dan kini menguasai 92% dari total pendapatan Nvidia. Untuk kuartal berjalan, perusahaan memandu penjualan $108 miliar, jauh di atas ekspektasi analis $104,2 miliar.
Yang membuat angka ini lebih mengejutkan: semua pencapaian itu dicetak tanpa kontribusi bisnis komputasi pusat data dari China. Awal tahun ini Nvidia sempat merugi $4,5 miliar akibat pembatasan ekspor chip H20 ke China, dan hingga laporan terbaru ini, perusahaan mengonfirmasi belum ada pendapatan komputasi pusat data dari China sama sekali — meski Jensen Huang sempat berharap ada titik terang usai ikut kunjungan kenegaraan ke China bersama Presiden Trump. Artinya, potensi upside dari pasar terbesar kedua dunia itu bahkan belum masuk hitungan.
Proyeksi 70% yang Meredam Ketakutan Bubble — Tanpa Benar-Benar Menghapusnya
Bagian paling mengguncang bukan hasil kuartal ini, melainkan proyeksi ke depan. CFO Nvidia Colette Kress mengumumkan pertumbuhan pendapatan fiskal 2028 diperkirakan mencapai 70%, jauh di atas konsensus analis 44% menurut survei LSEG. Berdasarkan estimasi pendapatan fiskal 2027 sekitar $396 miliar, itu berarti pendapatan Nvidia tahun depan bisa tembus $670–700 miliar — melampaui ekspektasi pasar sebelumnya di kisaran $570 miliar. Proyeksi ini akan menempatkan Nvidia sebagai perusahaan teknologi AS dengan pertumbuhan tercepat kedua setelah Amazon, mengalahkan Apple dan Alphabet.
Jensen Huang menegaskan di panggilan investor: "Permintaan kami jauh lebih besar dari 70%. Pasokan kami memungkinkan kami memberikan 70% dengan percaya diri, dan kami akan terus bekerja sama dengan rantai pasok kami untuk meningkatkan itu." Ini pertama kalinya Nvidia berani memberi panduan setahun penuh ke depan — sebuah sinyal kepercayaan diri yang jarang ditunjukkan perusahaan chip mana pun.
Inilah kenapa reli kali ini terasa beda dari kekhawatiran bubble sebelumnya. Bulan Februari 2026, Nvidia sebenarnya juga mengalahkan ekspektasi analis — tapi sahamnya malah anjlok, penurunan terburuk dalam 10 bulan, karena investor tetap curiga pertumbuhan itu semu. Kali ini panduan datang dengan angka konkret, jangka waktu lebih panjang, dan alasan yang bisa diverifikasi lewat mitra rantai pasok (lahan, listrik, kapasitas pengemasan chip) — bukan sekadar optimisme di atas panggung.
Tapi kecurigaan lama belum sepenuhnya hilang. Kritikus menyoroti pola "circular financing" — istilah untuk skema di mana Nvidia menyuntik dana ke lab AI seperti Anthropic dan operator pusat data, yang kemudian memakai dana itu untuk membeli chip Nvidia sendiri. Perusahaan mengungkap eksposur jaminan kredit hingga $108,5 miliar, dan sebelumnya pasar sempat memangkas $250 miliar nilai saham Nvidia begitu terungkap negosiasi jaminan kapasitas senilai $250 miliar untuk OpenAI. Seorang analis Bernstein menyebutnya "kekhawatiran yang sah", karena ketika investor dan pelanggan adalah entitas yang sama, laporan keuangan kedua pihak jadi sulit dibaca apa adanya. BIS bahkan memasukkan pola ini — bersama potensi ambruknya belanja modal AI dan kerapuhan utang negara — sebagai satu dari tiga risiko terbesar bagi stabilitas keuangan global tahun ini.
Nvidia membela diri: CFO Kress bilang investasi itu peluang "risiko rendah, imbalan tinggi", dan permintaan dari lab AI cuma menyumbang sekitar seperempat bisnis Nvidia — separuh pertumbuhan lainnya datang dari pelanggan non-hyperscaler (perusahaan besar penyedia cloud) dengan laju yang sama kuatnya. Jadi laporan 26 Agustus ini meredam kekhawatiran bubble untuk saat ini, tapi tidak menghapus struktur risiko yang mendasarinya — hanya menunda pertanyaannya ke kuartal berikutnya.
Reli Menjalar ke Asia — dan Titik Baliknya di Sini Justru di Memori
Efek berantainya cepat terasa. Nasdaq ditutup naik 1,57% ke 26.541, S&P 500 naik 0,72% — hari terbaik kedua indeks itu sejak awal Agustus. Broadcom naik 4,5%, SK Hynix dan Intel masing-masing 2% dan 4%. Sehari kemudian di sesi Asia, Kospi Korea Selatan melonjak 2,66% mendekati level 7.000 ditopang SK Hynix dan Samsung, Nikkei Jepang naik 0,44%, dan TSMC di Taiwan naik 2,1%.
Menariknya, sebagian penggerak reli ini bukan cuma soal chip Nvidia itu sendiri, tapi soal chip memori berkecepatan tinggi (HBM) yang jadi pendamping wajib setiap GPU AI. Nvidia sendiri memandu margin kotornya (persentase laba dari penjualan sebelum biaya operasional) bakal turun dari 75% ke 71–72% pada akhir tahun fiskal ini, karena harga HBM melonjak lebih tinggi dari perkiraan — dan menurut manajemen, masih akan naik lagi tahun depan. Artinya, sebagian keuntungan besar era AI ini justru mengalir ke produsen memori seperti SK Hynix dan Samsung, bukan cuma ke Nvidia. Bagi pembeli di ujung rantai — termasuk operator pusat data di Indonesia — ini pertanda biaya komputasi AI belum akan turun dalam waktu dekat.
IHSG Naik, Tapi Jangan Buru-buru Kaitkan dengan Nvidia
Di sinilah bagian yang gampang disalahpahami. IHSG memang ditutup naik 1,81% ke 6.521 pada 27 Agustus 2026, level tertinggi dalam hampir 3,5 bulan, dengan nilai transaksi Rp13,5 triliun. Tapi laporan pasar dari CNBC Indonesia mencatat saham-saham penggerak terbesar hari itu adalah SRAJ, BRMS, DSSA, VKTR, dan BBCA — bukan nama-nama yang berkaitan langsung dengan tema AI atau data center. Sektor teknologi di BEI hanya naik tipis 1,33%, jauh dari lonjakan dua digit yang terjadi di Kospi atau Nikkei.
Kenaikan IHSG hari itu justru terjadi di tengah tekanan berlapis dari dalam negeri: demonstrasi 27–28 Agustus, ketidakpastian kepemimpinan Bank Indonesia, dan rebalancing MSCI (penyesuaian komposisi indeks acuan yang dipakai dana investasi pasif global) yang membuat GOTO dicoret dari MSCI Global Standard efektif 31 Agustus. Bahwa IHSG tetap mampu menguat di tengah tekanan sebanyak itu memang mencerminkan sentimen risk-on global yang salah satunya dipicu Nvidia — tapi mengklaim laporan Nvidia sebagai penggerak utama IHSG hari itu jelas berlebihan.
Chief Economist BCA David Sumual punya catatan yang lebih tajam soal ini: valuasi saham AI di Amerika Serikat sudah menyerupai gelembung dot-com awal 2000-an, dengan tujuh saham raksasa teknologi ("Magnificent Seven") menguasai lebih dari 30% kapitalisasi pasar AS. Ia mengingatkan, dana global saat ini lebih memilih "North Asia AI trade" — Korea Selatan dan Taiwan yang punya rantai pasok chip nyata — ketimbang ASEAN dan Indonesia, yang bukan bagian inti dari rantai pasok AI global. Sinyal ini konsisten dengan apa yang terjadi di pasar: Kospi dan TSMC melonjak tajam, IHSG cuma ikut arus umum tanpa lonjakan spesifik di sektor teknologi.
Meski begitu, bukan berarti Indonesia sama sekali di luar radar. Indonesia tengah menggarap pipeline investasi pusat data senilai hingga $20 miliar, termasuk hub AI di Batam yang didukung Firmus Technologies dan Nvidia, proyek Zankore milik Indosat berkapasitas hingga 1 gigawatt memakai GPU Blackwell Nvidia, serta ekspansi Telkom. Pasar data center Indonesia diproyeksikan tumbuh 57% per tahun — jadi saham-saham seperti DCII, TLKM, dan ISAT punya eksposur pada tema ini, meski manfaatnya baru terasa dalam horizon lebih panjang, bukan reli sehari.
Harga GPU Tetap Mahal, Terlepas dari Laba Jumbo Nvidia
Bagi perusahaan digital dan startup Indonesia yang mengandalkan komputasi AI, laba fantastis Nvidia justru jadi pengingat pahit: harga tetap tinggi karena permintaan melampaui pasokan, bukan karena keduanya seimbang. Chip Blackwell generasi terbaru (GB300) punya waktu tunggu pemesanan 8–12 minggu, sementara generasi sebelumnya (B200/GB200) sudah habis terjual hingga pertengahan 2026. Kapasitas pengemasan chip canggih di TSMC (CoWoS) bahkan sudah penuh dengan waktu tunggu 52–78 minggu untuk sepanjang 2026.
Di Indonesia, biaya sewa GPU kelas data center bisa mencapai sekitar Rp160.000 per jam — dengan estimasi biaya tahunan sekitar Rp320 juta untuk pemakaian 2.000 jam per tahun, ditambah biaya penyimpanan dan transfer data yang bisa menambah 15–20% lagi. Secara global, harga sewa GPU H100 berkisar $2–10 per jam tergantung penyedia. Dengan margin kotor Nvidia sendiri tertekan biaya memori dan permintaan yang menurut Huang "jauh lebih besar" dari pasokan yang tersedia, tidak ada alasan kuat untuk berharap harga ini turun dalam satu-dua tahun ke depan.
Sementara itu, di sisi lain rantai nilai yang sama, adopsi AI justru menekan lapangan kerja. Sektor startup Indonesia mencatat lonjakan PHK 32,19% pada semester pertama 2026 dibanding periode sama tahun lalu, dengan lebih dari 24.000 kasus PHK hingga April 2026 — Tokopedia, Mekari, Xendit, dan Shopee di antara yang melakukan restrukturisasi seiring adopsi AI untuk efisiensi. Jadi sementara Nvidia dan pemegang sahamnya merayakan laba jumbo, sebagian pekerja di industri digital Indonesia justru menghadapi kenyataan sebaliknya: biaya komputasi tetap mahal, tapi otomatisasi tetap jalan.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan bangun rencana bisnis dengan asumsi biaya komputasi AI akan murah dalam waktu dekat — data di atas menunjukkan sebaliknya. Kalau produkmu bergantung pada AI generatif, mulai dengan model yang lebih kecil dan efisien serta skema bayar-sesuai-pakai (pay-as-you-go) ke penyedia API, bukan menyewa atau membeli GPU sendiri di awal. Kalau kamu berencana masuk ke ranah data entry, penulisan konten dasar, atau customer service — sadari bahwa ini termasuk area yang paling rentan digantikan otomatisasi dalam 2–3 tahun ke depan; pertimbangkan reskilling ke arah analisis data atau operasional model AI yang justru makin dicari.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Jika bisnismu bergantung pada komputasi cloud atau GPU, ini saat yang tepat untuk mengunci kontrak harga jangka menengah sebelum biaya naik lebih jauh — mengingat manajemen Nvidia sendiri memperkirakan biaya komponen (memori) masih akan naik tahun depan. Pertimbangkan diversifikasi ke penyedia lokal seperti Biznet Gio di samping cloud global, untuk fleksibilitas biaya dan latensi. Kalau kamu sedang mempertimbangkan efisiensi lewat AI, hitung betul dampaknya ke retensi talenta dan reputasi — gelombang PHK terkait AI di Indonesia sudah naik tajam tahun ini, dan itu bukan langkah tanpa ongkos jangka panjang.
Kalau kamu punya reksadana atau investasi di pasar modal
Sadari bahwa lonjakan saham Nvidia dan chip Asia tidak otomatis berarti IHSG akan ikut menguat proporsional — hari ini saja buktinya. Kalau portofoliomu punya eksposur ke reksadana saham global atau teknologi, cek berapa besar konsentrasinya di segelintir nama raksasa teknologi AS; David Sumual dari BCA sudah mengingatkan valuasinya sudah menyerupai fase akhir gelembung dot-com. Untuk eksposur domestik, saham-saham yang benar-benar punya kaitan langsung ke tema data center (seperti DCII, TLKM, ISAT) lebih relevan dipantau ketimbang berharap IHSG bergerak searah Nasdaq.
Yang Perlu Dipantau
Laporan kuartal berikutnya Nvidia (Q3 fiskal 2027), diperkirakan dirilis sekitar pertengahan-akhir November 2026 sesuai pola historis perusahaan — akan jadi ujian pertama apakah panduan 70% itu realistis.
Perkembangan penjualan chip H200 ke China: Huang berharap ada terobosan usai kunjungan kenegaraan ke China, tapi hingga kini pengiriman nyaris nol meski izin sudah dikantongi untuk sekitar 10 perusahaan China.
Pencoretan GOTO dari indeks MSCI Global Standard efektif 31 Agustus 2026 dan potensi arus keluar dana pasif — akan jadi ujian nyata bagi ketahanan IHSG minggu berikutnya, terlepas dari sentimen global.
Data PHK sektor teknologi Indonesia dari Kemnaker atau asosiasi startup untuk kuartal berikutnya — untuk melihat apakah tren kenaikan 32% berlanjut atau mereda.
Progres proyek pusat data $20 miliar di Indonesia, termasuk milestone konstruksi hub AI Batam dan Zankore milik Indosat, sebagai indikator apakah investasi ini benar-benar terealisasi atau baru sebatas pengumuman.
Penutup
Laporan Nvidia pada 26 Agustus ini nyata: permintaan chip AI memang sebesar yang diklaim, dan angkanya bisa diverifikasi lewat backlog produksi yang penuh sampai pertengahan 2026. Tapi jangan keliru mengira euforia itu otomatis menetes ke dompetmu di Indonesia — pasar modal kita hari itu bergerak karena alasan domestiknya sendiri, dan harga sewa GPU tidak akan turun hanya karena produsennya untung besar. Justru sebaliknya: makin besar labanya, makin jelas permintaan melebihi pasokan, dan itu berarti kamu — sebagai pembeli komputasi AI di ujung rantai — tetap yang menanggung selisihnya.
Sumber
CNBC — "Nvidia earnings takeaways: Huang forecasts 70% fiscal 2028 revenue growth, far above estimates"
CNBC — "Nvidia's 70% growth forecast puts it on track to become tech's No. 2 company by revenue"
CNBC — "S&P 500, Nasdaq Composite close higher Thursday as Nvidia rallies on revenue guidance"
Fortune — "Nvidia gave its first-ever year-ahead forecast—a 70% growth bombshell meant to silence AI bubble critics and 'circular financing' doomsayers"
Bloomberg — "AI Circular Deals: How Microsoft, OpenAI and Nvidia Keep Paying Each Other"
BigGo Finance — "NVIDIA Q2 2027 Earnings Call: Record $96B Revenue, 70% FY2028 Growth Guide as Gross Margins Slump on Memory Costs"
TradingKey — "Nvidia Earnings Beat Ignites Semiconductors; Kospi Surges Toward 7,000 as SK Hynix and Kioxia Soar"
CNBC Indonesia — "IHSG Naik Nyaris 2%, Ditutup di Level Tertinggi Harian"
Rikopedia Research — "IHSG Anjlok 1.48% & Demo Besar! Morgan Stanley Borong GOTO" dan "Ledakan Data Center RI: dari 580MW..."
Republika — "Bubble AI Menguat di Pasar Modal AS, Ekonom Ingatkan Risiko Valuasi" (wawancara David Sumual, BCA)
Jakarta Globe / Data Center Dynamics — laporan investasi pusat data AI Batam dan Zankore Indosat
Beritajejakfakta — "Gelombang PHK Startup Indonesia Capai 32 Persen Hingga April 2026"
Fusion Worldwide / GPUaaS — laporan ketersediaan dan lead time GPU Blackwell 2026