Lewati ke konten
blabak.

Fed Sempat 82% Bakal Naikkan Bunga September Ini — Kenapa RI Tetap Waswas Meski Peluangnya Sudah Menyusut

Peluang Fed naikkan bunga sempat melonjak 82% gara-gara Iran, lalu anjlok usai data kerja AS ambruk. RI tetap kena getahnya lewat rupiah dan utang.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Sepanjang tahun ini pasar yakin The Fed (bank sentral AS) bakal memangkas atau menahan bunga. Itu berbalik total akhir Juli: peluang kenaikan bunga di pertemuan 16 September sempat melonjak sampai 82%, dipicu guncangan harga minyak akibat perang Iran yang menutup Selat Hormuz — jalur seperlima pasokan minyak dunia.

  • Tapi angka itu sendiri sudah berubah tiga kali dalam sebulan: data pekerjaan AS yang ambruk awal Agustus memangkas peluang hike ke bawah 45%, dan per akhir Agustus bertengger di kisaran 30–40%. Ketidakstabilan proyeksinya sendiri adalah sinyal — pasar bingung, dan itu jarang terjadi ke The Fed.

  • Bank Indonesia sebenarnya sudah lebih dulu menaikkan BI Rate 100 basis poin sepanjang 2026 (dari 4,75% ke 5,75%), sebelum drama Fed ini ramai — dan kini harus memutuskan lanjut naik atau bertahan, di tengah pergantian pucuk pimpinan BI.

  • Rupiah bergerak liar: sempat tembus rekor terlemah di atas Rp18.000/dolar Agustus ini, menguat ke Rp17.670 pekan lalu, lalu melemah lagi ke kisaran Rp17.700–17.900 — jauh dari kisaran normalnya di 2024–2025 yang ada di Rp15.800–16.200.

  • Di RAPBN 2027, pemerintah sudah menyiapkan Rp650,3 triliun cuma untuk bayar bunga utang — hampir Rp16 dari tiap Rp100 belanja negara — dan itu dihitung sebelum mempertimbangkan skenario Fed benar-benar naik bunga.

Perang di Selat Hormuz, Guncangan yang Sampai ke Wall Street

Untuk paham kenapa The Fed tiba-tiba dibicarakan bakal menaikkan bunga — bukan memangkas seperti yang diramal hampir semua orang di awal tahun — kamu harus mulai dari Timur Tengah, bukan dari Washington.

Sejak konflik Iran meletus akhir Februari 2026, Selat Hormuz — jalur sempit yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia — praktis lumpuh. Kapal tanker berulang kali diserang dan dipaksa putar balik. Harga minyak yang sempat menembus di atas US$100 per barel dengan ancaman naik ke US$150–200 kalau blokade memburuk, kini bergerak di kisaran Brent US$94 dan WTI US$87 per barel akhir Agustus — turun dari puncaknya, tapi tetap jauh di atas level normal sebelum perang yang biasanya di kisaran US$70-an.

Minyak mahal berarti ongkos transportasi dan produksi ikut naik, dan itu langsung nempel ke inflasi AS. Inflasi konsumen (CPI) AS Juni tercatat 3,5% dibanding periode sama tahun lalu — memang turun dari 4,2% di Mei, tapi masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Inflasi inti (di luar makanan dan energi yang harganya lebih fluktuatif) 2,6%, juga masih di atas target.

Di rapat FOMC 29 Juli, The Fed memilih menahan bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Tapi voting-nya 9 lawan 3 — tiga pejabat yang menolak justru ingin menaikkan bunga saat itu juga. Perpecahan seterbuka ini jarang terjadi, dan pasar membacanya sebagai sinyal: kesabaran The Fed hampir habis. Yield obligasi AS tenor 10 tahun (acuan biaya pinjaman jangka panjang di seluruh dunia) melompat dari di bawah 4,4% akhir Juni ke hampir 4,7% Agustus ini, sementara yield tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Investor obligasi pada dasarnya bilang: "kami curiga The Fed akan terpaksa mengejar ketertinggalan dengan menaikkan bunga."

Data Kerja yang Membuat Semua Orang Berbalik Arah — Lagi

Di sinilah bagian yang jarang muncul di headline: angka peluang kenaikan bunga itu sendiri sangat labil, dan itu justru cerita yang lebih penting daripada angka tunggalnya.

Di akhir Juli, seiring harga minyak meroket, alat pelacak CME FedWatch — yang menghitung ekspektasi pasar dari kontrak futures suku bunga — sempat menunjukkan peluang kenaikan bunga September mencapai 82%. JPMorgan Wealth Management bahkan mengubah proyeksinya dari "tahan sepanjang 2026" menjadi memperkirakan kenaikan 25 basis poin, menyebutnya sebagai langkah "terukur" untuk menjaga kredibilitas The Fed di mata pasar, bukan awal dari siklus pengetatan agresif.

Lalu datang laporan ketenagakerjaan Juli, dirilis awal Agustus, dan semuanya berubah dalam semalam. Alih-alih menambah 85.000 lapangan kerja seperti perkiraan, ekonomi AS justru kehilangan 23.000 pekerjaan — penurunan bulanan terbesar ketiga sejak pandemi Covid-19. Data Mei dan Juni pun direvisi turun 103.000 posisi. Peluang hike di CME FedWatch anjlok dari 67% (31 Juli) menjadi 44,4% hanya dalam sepekan, dan terus melandai ke kisaran 30–41% di pertengahan hingga akhir Agustus.

Goldman Sachs bahkan menyebut kenaikan bunga September kini "sangat tidak mungkin" (very unlikely), memperkirakan The Fed akan menahan bunga sepanjang sisa 2026 dan baru memangkas di 2027 — pandangan yang bertolak belakang dengan JPMorgan. Perbedaan tajam antara dua bank besar ini sendiri menunjukkan betapa terbelahnya pembacaan pasar saat ini.

Tapi jangan buru-buru tenang: sebagian pelacak yang sama menunjukkan peluang hike untuk pertemuan Oktober naik ke 59% dan Desember ke 77%. Artinya, kalaupun September dilewati tanpa kenaikan, ancaman itu tidak hilang — cuma bergeser beberapa bulan. Dan yang membuat situasi ini genting untuk Fed adalah dilema klasik: inflasi masih tinggi karena guncangan energi, tapi pasar kerja justru melemah — kombinasi yang secara teori mendukung pemangkasan bunga, bukan kenaikan. The Fed harus memilih mana yang lebih berbahaya untuk didahulukan, dan konflik Iran belum menunjukkan tanda akan reda: negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz sempat terlihat menjanjikan awal Agustus, lalu buntu lagi setelah Iran menuntut AS mencabut blokade lebih dulu.

BI Sudah Naik Duluan — dan Sekarang Ganti Nakhoda di Tengah Jalan

Poin yang sering terlewat: Bank Indonesia sebetulnya tidak menunggu The Fed untuk bertindak. Sepanjang 2026, BI Rate sudah dinaikkan tiga kali — dari 4,75% di awal tahun menjadi 5,25% pada Mei, lalu 5,50% pada 9 Juni, dan 5,75% pada 17–18 Juni — total 100 basis poin dalam waktu kurang dari dua bulan. Semua itu terjadi sebelum drama kenaikan bunga Fed ini ramai dibicarakan, sebagai langkah pre-emptive (mendahului masalah sebelum terjadi) menjaga rupiah dan inflasi domestik di tengah ketidakpastian global yang sudah terasa sejak awal tahun.

Sejak Juni itu, BI menahan di 5,75% dua kali berturut-turut — Juli dan 19 Agustus. Yang membuat keputusan Agustus istimewa: itu adalah keputusan suku bunga pertama di bawah Destry Damayanti sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur, setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri Juli 2026. Destry kini juga sedang menjalani fit and proper test di DPR sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif.

Yang menarik, Destry secara terbuka menyatakan sikap yang agak berbeda dari refleks lama bank sentral: "rupiah tak selalu harus diselamatkan pakai BI Rate." Maksudnya, BI tidak akan otomatis menaikkan bunga setiap kali rupiah tertekan, karena itu juga akan menekan pertumbuhan ekonomi yang menurutnya masih di bawah potensi. Sebagai gantinya, BI memilih memperkuat pasar uang dan valas lewat instrumen seperti SRBI dan SBN, serta insentif hedging (mengunci nilai tukar di awal supaya tidak rugi kalau rupiah melemah) yang lebih murah, untuk menarik masuk dolar tanpa harus menaikkan bunga acuan.

Ini taruhan yang berisiko dua arah. Kalau Fed benar-benar naik bunga September atau Oktober, selisih suku bunga BI-Fed yang saat ini di kisaran 2 poin persentase (5,75% vs 3,50–3,75%) akan menyempit, membuat rupiah makin rentan ditinggal investor asing yang mengejar imbal hasil dolar. BI dengan gubernur baru yang belum genap sebulan menjabat harus membuktikan kredibilitasnya persis di momen paling genting tahun ini — kombinasi yang bisa membuat pasar makin gugup, bukan makin tenang.

Rupiah yang Naik-Turun Kayak Yoyo, dan Utang yang Makin Mahal

Volatilitas itu sudah terlihat di kurs. Rupiah sempat menembus rekor terlemah di atas Rp18.000 per dolar pada Agustus ini, didorong kombinasi outflow di pasar saham (termasuk rebalancing indeks MSCI yang memicu potensi outflow sekitar Rp3 triliun), kekhawatiran keberlanjutan fiskal, dan investor global yang lari ke aset aman di tengah ketegangan Iran-AS. Tapi arahnya tidak satu jalur lurus: 18–20 Agustus, investor asing justru membukukan net inflow Rp9,4 triliun ke aset rupiah — lebih dari dua kali lipat pekan sebelumnya — dan rupiah sempat menguat ke Rp17.670 menjelang uji kelayakan Destry di DPR pada 26 Agustus. Sehari setelahnya, rupiah melemah lagi ke kisaran Rp17.700–17.900, tertekan penguatan dolar global dan kenaikan yield obligasi AS.

Bandingkan dengan kisaran normal rupiah di 2024–2025 yang ada di Rp15.800–16.200: level hari ini, bahkan di titik terkuatnya bulan ini, masih sekitar 9–10% lebih lemah dari "normal" lama itu. Rupiah sekarang hidup di dunia yang berbeda, dan sensitivitasnya terhadap setiap kabar dari Washington jauh lebih tinggi dari dua tahun lalu.

Ongkos dari ketidakstabilan ini paling telak terasa di biaya utang pemerintah. Dalam RAPBN 2027, pemerintah menyiapkan Rp650,3 triliun untuk membayar bunga utang — terdiri dari Rp589,68 triliun bunga utang domestik dan Rp60,63 triliun bunga utang luar negeri — naik Rp68,08 triliun atau 11,69% dibanding outlook 2026 sebesar Rp582,23 triliun. Angka itu setara 15,87% dari total belanja negara Rp4.097,19 triliun: hampir Rp16 dari setiap Rp100 yang dibelanjakan pemerintah tahun depan habis cuma untuk bayar bunga, bukan untuk sekolah, jalan, atau kesehatan. DPR bahkan mencatat beban bunga utang ini sudah mencapai sekitar 19% dari total penerimaan negara — rasio yang mereka soroti sebagai warning fiskal.

Yang membuat ini lebih runyam: proyeksi itu dibuat dengan asumsi target yield SBN (Surat Berharga Negara, obligasi pemerintah) 10 tahun di 6,9% untuk 2027 — persis sama dengan target 2026. Padahal realisasi yield sepanjang 2026 justru sudah melampaui target itu, sempat menyentuh 7,47% pada Juni sebelum turun ke kisaran 7,0–7,3%, dan terakhir bertengger di sekitar 7,06%. Kalau Fed jadi menaikkan bunga dan yield AS terus naik, target 6,9% pemerintah untuk 2027 berisiko meleset lagi — dan pemerintah masih perlu menarik utang baru Rp876 triliun tahun depan, mayoritas lewat SBN, di tengah kondisi pasar yang lebih mahal dari yang direncanakan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu bergantung pada pinjaman bank — baik modal kerja rupiah maupun kredit dalam dolar untuk beli mesin atau bahan baku impor — hitung ulang proyeksi cashflow-mu dengan asumsi bunga kredit naik, bukan turun, setidaknya sampai akhir 2026. Efek kenaikan BI Rate ke bunga kredit biasanya baru terasa penuh 3–6 bulan kemudian, jadi kenaikan sejak Mei–Juni baru akan terasa penuh di kredit komersial sekitar September–November ini — tepat saat kamu mungkin butuh modal untuk ekspansi. Kalau usahamu berorientasi ekspor atau butuh bahan baku impor, mulai cari tahu soal hedging sederhana lewat bank, karena volatilitas rupiah Rp17.600–18.000 dalam sebulan terakhir bukan sesuatu yang bisa diabaikan dalam kontrak dagang.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Sektor yang paling langsung kena getahnya adalah properti dan otomotif, karena keduanya sangat bergantung pada kredit konsumen (KPR dan KKB) yang sensitif terhadap suku bunga. Kalau bisnismu ada di rantai pasok dua sektor ini — kontraktor, dealer, pemasok material, jasa pembiayaan — waktunya realistis soal proyeksi penjualan kuartal empat, bukan berharap permintaan pulih otomatis. Untuk yang punya utang bank dengan bunga mengambang (floating rate), ini saatnya evaluasi ulang: apakah lebih murah refinancing ke bunga tetap sekarang, sebelum kemungkinan kenaikan lanjutan dari BI benar-benar terjadi, ketimbang menunggu dan berharap bunga turun.

Kalau kamu punya cicilan KPR/KKB, atau berencana ambil

Kalau cicilanmu skema bunga mengambang, siapkan mental dan anggaran untuk kenaikan cicilan mulai September–November ini — itu jeda waktu tipikal antara kenaikan BI Rate dan penyesuaian bunga kredit bank. Kalau kamu berencana ambil KPR baru dalam waktu dekat, pertimbangkan skema bunga tetap (fixed) di masa promosi untuk menghindari kejutan kenaikan mendadak, dan jangan mepetkan rasio cicilan terhadap penghasilan — beri jarak lebih lebar dari biasanya, karena arah suku bunga jangka pendek ke depan lebih mungkin naik atau bertahan tinggi ketimbang turun cepat.

Yang Perlu Dipantau

  1. Rapat FOMC 15–16 September 2026 — keputusan resmi The Fed plus "dot plot" proyeksi bunga ke depan, penentu utama arah selisih bunga BI-Fed.

  2. Data non-farm payrolls AS Agustus, rilis awal September — kalau kembali lemah seperti Juli, peluang hike bisa runtuh lagi; kalau rebound, peluang hike bisa melonjak balik.

  3. Data inflasi CPI AS Agustus, rilis pertengahan September sebelum FOMC — swing factor terakhir sebelum keputusan.

  4. Hasil fit and proper test dan pelantikan Gubernur BI definitif — kejelasan kepemimpinan BI bisa memengaruhi kredibilitas kebijakan di mata pasar, terlepas dari keputusan bunganya sendiri.

  5. Perkembangan negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz — setiap kabar deal atau kebuntuan langsung memantul ke harga minyak, lalu ke ekspektasi inflasi dan bunga AS dalam hitungan hari.

Penutup

Yang bikin situasi ini berbeda dari drama suku bunga biasanya bukan soal apakah The Fed jadi naik atau tidak — itu soal betapa cepat keyakinan pasar sendiri berbalik arah tiga kali dalam sebulan, dari 82% jadi di bawah 40%, gara-gara satu laporan ketenagakerjaan. Kalau lembaga sebesar The Fed dan pasar keuangan global saja bisa segoyah itu, jangan berharap arah rupiah dan bunga kredit di rumahmu akan lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan. Sikap paling realistis sekarang bukan menebak angka pastinya, tapi menyiapkan rencana keuangan yang tetap masuk akal baik kalau bunga jadi naik, maupun kalau ternyata tidak.

Sumber

  • Forbes — Markets Anticipate September Rate Hike

  • Chase — September 2026 Rate Hike Now Expected Amid Energy Shocks

  • Cambridge Currencies — Next Federal Reserve Interest Rate Decision

  • CNBC — Odds the Fed Will Hike in September Tumble Following Big July Jobs Miss

  • CNBC — Fed Rate Decision: Odds Surge for Hike as Oil Rips Higher

  • Yahoo Finance — Odds of Fed Rate Hike This Year Fall as Goldman Sachs Warns Against Hawkish Bets

  • CBS News — The Fed Was Expected to Hike Interest Rates in September. Don't Bet on That Now, Economists Say

  • The Motley Fool — The Odds of a September Rate Hike Have Plunged

  • Al Jazeera — Oil Prices Rise as Attacks Dent Hopes for Strait of Hormuz Reopening

  • CNBC Indonesia — Breaking News! BI Rate Tetap 5,75% Agustus 2026

  • Bisnis Indonesia — Di Balik Keputusan Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75%

  • Kompas Money — BI Rate Kembali Naik 25 Basis Poin ke Level 5,75 Persen

  • CNBC Indonesia — Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate

  • Herald ID — Jelang Fit and Proper Test Destry Damayanti, Rupiah Menguat ke Rp17.670

  • Tirto — Rupiah dan IHSG Dibuka Melemah Hari Ini 27 Agustus 2026

  • Kompas Money — Bunga Utang Rp650 Triliun di RAPBN 2027, Mengapa Terus Membesar?

  • CNBC Indonesia — Pemerintah Siapkan Rp650,3 T Bayar Bunga Utang 2027

  • Bloomberg Technoz — Capai 19% Penerimaan, DPR Soroti Beban Bunga Utang di RAPBN 2027

  • Bisnis Indonesia — Prabowo Targetkan Yield SBN 6,9% di 2027, Cek Realisasinya Sepanjang 2026

  • Beritasatu — Kenaikan Bunga Kredit Diperkirakan Mulai Terasa pada Akhir 2026