Ekspektasi Penjualan Ritel Ambruk ke 148,3, Sinyal Kelas Menengah-Bawah Mulai Mengerem Belanja
Ekspektasi penjualan ritel September anjlok, porsi belanja rumah tangga turun ke 72,1%. Ekonomi makin ditopang kelas atas—apa dampaknya buat ritel & UMKM?
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk September 2026 versi Bank Indonesia anjlok ke 148,3, jauh di bawah proyeksi sebelumnya di level 159,8 — penurunan revisi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi turun ke 72,1%, melanjutkan tren dari 72,7% pada rilis sebelumnya, sementara porsi yang disisihkan untuk tabungan justru naik — tanda rumah tangga menahan diri, bukan kehabisan uang.
Data BRI Danareksa menunjukkan ekonomi kelompok atas tumbuh 8% (dibanding periode sama tahun lalu) di kuartal I-2026, lebih dari dua kali lipat kelompok menengah-bawah yang hanya 3,5%-3,6%.
Penjualan barang mewah dan durable (mobil naik 12,6%, semen industri naik 10% dibanding tahun lalu) tetap kencang — kontras dengan penjualan barang kebutuhan pokok yang cuma tumbuh 3,65% dibanding periode sama tahun lalu, bukti nyata konsumsi nasional makin bertumpu pada segmen kaya.
Di sisi ketenagakerjaan, 43.805 pekerja tercatat kena PHK sepanjang Januari-Juli 2026, dan itu pun diyakini serikat pekerja sebagai angka yang jauh di bawah kondisi riil.
Angka yang Lebih Mengkhawatirkan dari Sekadar "Turun"
Setiap bulan, Bank Indonesia mensurvei ribuan rumah tangga di kota-kota besar untuk dua hal: seberapa yakin masyarakat pada kondisi ekonomi (lewat Survei Konsumen), dan seberapa optimis pelaku usaha ritel pada penjualan tiga bulan ke depan (lewat Survei Penjualan Eceran). Dari situ lahir Indeks Ekspektasi Penjualan atau IEP — semacam radar dini yang menangkap sinyal permintaan sebelum benar-benar terjadi di kasir toko.
Radar itu sekarang berkedip merah. Proyeksi IEP untuk September 2026 direvisi turun jadi 148,3, padahal sebelumnya diperkirakan bertahan di 159,8. Angka di atas 100 secara teknis masih berarti pelaku usaha optimis penjualan akan naik — tapi arah revisinya yang jadi soal: pelaku ritel sendiri, bulan demi bulan, semakin pesimis dengan proyeksi mereka sendiri. Bank Indonesia menyebut normalisasi aktivitas usai rangkaian perayaan HUT ke-81 RI sebagai salah satu pemicunya, hal yang wajar secara musiman. Tapi pola serupa juga mewarnai Indeks Ekspektasi Harga (IEH) yang turun dari 178,0 di Agustus ke 155,2 di September — pelaku usaha kini bahkan ragu bisa menaikkan harga, sinyal klasik permintaan yang melemah, bukan sekadar musiman.
Yang membuat gambaran ini lebih pekat: di saat yang sama, porsi pendapatan rumah tangga yang dialokasikan untuk konsumsi turun ke 72,1%, melanjutkan penurunan dari 72,7% pada rilis sebelumnya — dan tren menurun ini sudah berlangsung beberapa bulan, dari sempat menyentuh 73,0%. Sebaliknya, porsi yang disisihkan untuk tabungan bergerak naik. Sekilas ini terdengar seperti kabar baik — masyarakat menabung lebih banyak. Tapi dalam konteks IKK (Indeks Keyakinan Konsumen) yang juga terus melorot tiga bulan berturut-turut, dari 127 di Januari ke 116,8 di Juli, ini bukan tabungan karena optimisme. Ini tabungan karena kecemasan — pola yang oleh ekonom biasa disebut precautionary saving, menahan uang karena khawatir kondisi memburuk, bukan karena yakin bisa berinvestasi untuk masa depan.
Dua Indonesia yang Berbelanja dengan Kecepatan Berbeda
Di sinilah data dari riset BRI Danareksa jadi kunci untuk memahami kenapa headline pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlihat oke sementara pengalaman jalanan terasa berbeda. Pada kuartal I-2026, ekonomi kelompok berpendapatan atas tumbuh 8% dibanding periode sama tahun lalu. Kelompok menengah dan bawah? Hanya 3,5%-3,6% — kurang dari separuhnya.
Kesenjangan ini juga tampak di indeks daya beli riil: kelompok berpendapatan rendah anjlok ke -1,0 pada April 2026 (dari -0,6 setahun sebelumnya), kelompok menengah turun ke -0,9 (dari -0,6), sementara kelompok atas nyaris tidak bergeming di -0,1. Angka negatif berarti daya beli kelompok itu berada di bawah kondisi normalnya — dan yang jatuh paling dalam justru yang paling rentan.
Kontradiksi yang sering bikin bingung: kalau daya beli melemah, kenapa penjualan mobil masih tumbuh 12,6% (359.015 unit) sepanjang Januari-Mei 2026, dan semen industri naik 10% dibanding tahun lalu? Jawabannya ada di angka lain dari laporan yang sama: penjualan barang-barang diskresioner (barang yang dibeli kalau ada uang lebih, bukan kebutuhan pokok) melonjak 28,93% dibanding periode sama tahun lalu, sementara penjualan barang kebutuhan pokok atau staples cuma tumbuh 3,65%. Konsumsi nasional tidak melambat merata — ia sedang terbelah. Yang tumbuh adalah belanja kelompok atas untuk barang bernilai tinggi; yang tertahan adalah belanja mayoritas penduduk untuk kebutuhan sehari-hari. Ekonom menyebut pola ini "K-shaped" — dua garis yang start dari titik sama lalu bercabang berlawanan arah, satu naik satu turun, membentuk huruf K.
Kenapa Kelas Menengah-Bawah Menahan Diri
Tekanan pada kelompok ini bukan cuma soal harga naik. Ia berakar pada pasar kerja yang goyah. Sekitar 59,4% dari 87,7 juta pekerja Indonesia berstatus informal — tanpa kepastian pendapatan bulanan, tanpa jaminan sosial penuh — dan rata-rata hanya menerima sekitar 59% dari upah minimum regional. Pekerja sektor pertanian, salah satu kantong pekerja informal terbesar, rata-rata cuma mengantongi Rp1,835 juta per bulan, jumlah yang makin sulit menutup kebutuhan pokok di tengah inflasi yang bertahan di kisaran 3,3%-3,4% (dibanding periode sama tahun lalu) sepanjang paruh pertama 2026.
Di sisi pekerja formal pun tak banyak lebih baik. Data resmi mencatat 43.805 pekerja kena PHK sepanjang Januari-Juli 2026, dengan Jawa Barat menyumbang porsi terbesar (8.830 orang, atau 20,16% dari total). Tapi angka ini, menurut Ristadi dari Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), jauh dari gambaran utuh — data itu hanya menjaring peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), yang cuma mencakup sekitar 16 juta dari total 59,9 juta pekerja formal di Indonesia. "43 jutaan pekerja, dari 59 juta pekerja formal, tidak terinput data terjadi PHK," ujarnya — artinya potensi PHK yang tak tercatat bisa jauh lebih besar dari yang terlihat di statistik resmi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menyebut fenomena ini sebagai ekonomi "K-shape" dari sisi produksi: sektor komoditas tumbuh baik, sementara industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan manufaktur melemah akibat naiknya biaya produksi berbarengan dengan permintaan pasar yang lesu. Riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menambahkan satu lapis lagi: penyerapan tenaga kerja formal antara Agustus 2024 dan Agustus 2025 cuma tumbuh 0,15%, atau sekitar 1 juta orang — jauh dari cukup untuk menyerap angkatan kerja baru, apalagi mengimbangi gelombang PHK yang terus berjalan. Ekonom Celios Bhima Yudhistira menilai minimnya lapangan kerja formal inilah, bukan semata inflasi, yang jadi salah satu penekan utama daya beli sepanjang 2026.
Sudut Pandang Kritis: Pertumbuhan yang Terlihat Sehat dari Jauh
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sudah mewanti-wanti sejak pertengahan tahun bahwa konsumsi rumah tangga berisiko melemah di paruh kedua 2026, dan mendorong pemerintah menurunkan tarif PPN ke kisaran 8-9% untuk mendorong belanja. Kritik yang lebih tajam datang dari catatan gabungan lembaga riset yang menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5% pada kuartal I-2026 sebagai "pertumbuhan semu" — angka headline yang bagus di atas kertas, tapi tidak menyentuh persoalan struktural: lapangan kerja layak yang minim dan fiskal yang kian tertekan.
Ini bukan berarti pemerintah diam saja. Untuk semester II 2026, ada anggaran stimulus Rp26,34 triliun yang dialokasikan: Rp2,04 triliun untuk diskon transportasi, Rp6,26 triliun untuk program magang dan vokasi, serta porsi terbesar Rp18,04 triliun untuk bantuan pangan. Tapi bandingkan skalanya dengan gap yang harus ditutup: bila kelompok menengah-bawah yang menopang mayoritas konsumsi nasional (secara jumlah penduduk) tumbuh belanjanya cuma separuh dari kelompok atas, stimulus sebesar itu lebih berfungsi sebagai bantalan darurat, bukan pengungkit yang akan membalik tren dalam semalam.
Apa Artinya Buat Ritel dan UMKM Jelang Akhir Tahun
Kabar baiknya, Desember historisnya selalu jadi puncak ekspektasi penjualan — IEP Desember diproyeksikan 171,6, naik dari 153,8 di November, didorong momentum Natal dan Tahun Baru, dan IEH Desember pun diperkirakan naik ke 168,1. Tapi jangan terlena: lonjakan musiman ini kemungkinan besar juga akan lebih terkonsentrasi di segmen atas — mal premium, department store kelas menengah-atas, e-commerce untuk barang gaya hidup — dibanding warung, pasar tradisional, atau ritel kebutuhan pokok yang mengandalkan belanja harian kelompok menengah-bawah.
Bagi pelaku ritel skala menengah-besar, ini momen untuk membaca ulang portofolio produk: kalau target pasar mayoritas menengah-bawah, jangan berharap kenaikan penjualan besar dari kenaikan harga atau margin — volume dan bundling jadi kunci, bukan mark-up. Diskon lintas kategori, paket hemat, dan skema cicilan ringan (bekerja sama dengan paylater atau koperasi) punya peluang lebih besar menggerakkan transaksi dibanding promosi flash sale yang mengandalkan impulse buying kelas atas.
Bagi UMKM, sinyal dari angka-angka ini sebenarnya cukup jelas: pelanggan inti kalian — kelas menengah-bawah — sedang menahan diri, bukan hilang daya beli sepenuhnya. Artinya strategi bertahan bukan menaikkan harga untuk menutup biaya produksi yang naik, melainkan menjaga harga tetap terjangkau sambil memperkecil porsi/kemasan, atau menawarkan produk kombo yang tetap terasa hemat di mata pembeli. UMKM yang bergantung pada kredit mikro juga perlu waspada: riset menunjukkan setiap kenaikan 1 poin persentase inflasi berpotensi menekan penyaluran kredit mikro hingga 9,12 poin persentase dan menaikkan risiko gagal bayar 0,83 poin persentase — jadi kalau butuh modal tambahan untuk stok akhir tahun, ajukan lebih awal sebelum bank/koperasi memperketat pengetatan.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Ini bukan waktu ideal untuk membuka bisnis yang menyasar kelas menengah-bawah dengan margin tipis dan modal besar di muka — kompetisi harga akan sengit dan daya beli target pasar sedang tertahan. Tapi ada celah di sisi lain: kebutuhan pokok yang murah dan esensial (bantu masyarakat berhemat, bukan bergaya) tetap punya permintaan stabil, sementara di segmen atas, layanan atau produk yang membantu kelas atas "mengunci" kenyamanan mereka (jasa titip, personal shopper, produk premium niche) juga masih tumbuh. Jangan mulai usaha dengan asumsi ekonomi rata-rata sedang baik — cek dulu di kelas mana calon pelangganmu berada.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau basis pelangganmu mayoritas menengah-bawah, waktunya audit ulang struktur biaya sebelum akhir tahun. Jangan menunggu penjualan Desember menyelamatkan performa tahunan — data menunjukkan lonjakan musiman kemungkinan tak merata menyentuh semua segmen. Pertimbangkan diversifikasi kanal (misalnya masuk skema B2B atau korporat yang belanjanya lebih stabil) sebagai bantalan kalau penjualan ritel langsung ke konsumen melambat. Kalau kamu mempekerjakan tim, pertimbangkan opsi jam kerja fleksibel atau insentif berbasis performa dulu sebelum opsi PHK — biaya rekrutmen ulang saat permintaan pulih biasanya lebih mahal daripada mempertahankan tim inti dengan skema lebih ramping.
Kalau kamu pekerja atau konsumen biasa
Sinyal pelemahan ekonomi rumah tangga ini nyata dan bisa berujung pada pemangkasan jam kerja, bonus, atau insentif di sektor ritel dan jasa — sektor yang paling cepat merespons perubahan permintaan konsumen. Kalau kamu bekerja di sektor ini, ini waktu yang masuk akal untuk memperkuat dana darurat dan tidak buru-buru menambah cicilan baru, bahkan kalau ada diskon menggiurkan menjelang akhir tahun.
Yang Perlu Dipantau
Rilis Survei Konsumen Bank Indonesia periode Agustus, termasuk update Indeks Keyakinan Konsumen dan porsi konsumsi/tabungan terbaru — sekitar pekan kedua September 2026.
Rilis data penjualan eceran (Indeks Penjualan Riil) bulan Juli-Agustus untuk mengonfirmasi apakah realisasi penjualan benar-benar melambat sesuai ekspektasi, atau justru bertahan seperti pola beberapa bulan sebelumnya.
Data inflasi bulanan BPS — khususnya komponen pangan dan transportasi yang paling menekan kelompok menengah-bawah.
Perkembangan angka PHK dari Kementerian Ketenagakerjaan dan klaim JKP BPJS Ketenagakerjaan, mengingat data resmi diduga di bawah kondisi riil.
Realisasi IEP dan IEH Desember (171,6 dan 168,1) sebagai ukuran apakah momentum akhir tahun benar-benar terjadi dan segmen mana yang paling menikmatinya.
Penutup
Ekonomi Indonesia belum resesi, dan headline pertumbuhannya masih di atas 5% — tapi angka itu kini dibentuk oleh kelompok yang jumlahnya jauh lebih kecil dari mayoritas penduduk. Kalau kamu pelaku usaha yang bergantung pada belanja harian rakyat kebanyakan, jangan tertipu oleh data agregat yang terlihat baik-baik saja: yang perlu kamu percayai adalah perilaku pelangganmu sendiri, bukan rata-rata nasional yang ditarik naik oleh segelintir orang yang belanjanya makin kencang.
Sumber
CNBC Indonesia — "Kabar Baik! BI Ramal Tekanan Inflasi Mulai Mereda September"
CNBC Indonesia — "Waspada Akhir Tahun, Harga-Harga Diperkirakan Naik Lagi"
CNBC Indonesia — "Harga-Harga Naik, Begini Kondisi Daya Beli Warga RI Paruh Pertama 2026"
CNBC Indonesia — "43.805 Warga RI Kena PHK, Buruh dan Pengusaha Ungkap Hal Tak Terduga"
CNBC Indonesia Research — "Siap-Siap 8 Data Ini Bakal Goyang Pasar RI Pekan Depan"
Investor Trust — "Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan" (riset BRI Danareksa)
Kompas Money — "Survei BI: Cicilan Konsumen Naik, Porsi Konsumsi Masih 72,7 Persen"
Kompas Money — "Siap-Siap Konsumsi Rumah Tangga Melemah di Paruh Kedua 2026, Indef Soroti Tekanan Ini"
Antara News — "Celios Sebut Minimnya Pekerjaan Formal Tekan Daya Beli di 2026"