Gartner Buktikan: PHK Gara-Gara AI Ternyata Tak Bikin Perusahaan Lebih Untung
Studi Gartner: 80% perusahaan PHK karena AI, tapi labanya tak ikut naik. Fakta ini jadi bahan pikir buat perusahaan Indonesia yang latah PHK demi AI.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Gartner mensurvei 350 perusahaan besar dunia (pendapatan minimal US$1 miliar) yang sudah mengujicoba atau memakai AI β 80% di antaranya ikut memangkas karyawan, tapi PHK itu tidak berkorelasi dengan kenaikan laba atau imbal hasil investasi (ROI) mereka.
Di Amerika Serikat, dari 1,2 juta PHK yang diumumkan sepanjang 2025, cuma 55.000 (4,5%) yang benar-benar mencantumkan AI sebagai alasan resmi β jauh di bawah kesan yang dibentuk headline Amazon, Uber, Salesforce, dan deretan raksasa teknologi lain.
Perusahaan dengan ROI AI tertinggi justru mempertahankan karyawan dan memindahkan mereka ke pekerjaan yang lebih bernilai β bukan memecat lalu berharap AI mengisi kekosongan itu sendiri.
Klarna sudah membuktikan pola ini lebih dulu: PHK 700 staf layanan pelanggan demi AI pada 2024, lalu diam-diam merekrut ulang pada 2025 setelah kualitas layanan anjlok.
Di Indonesia, 88.519 pekerja kena PHK sepanjang 2025 menurut Kemnaker β penyebab utamanya tekanan ekspor-impor dan geopolitik, bukan otomatisasi AI yang di sini justru masih di tahap sangat awal.
Headline-nya PHK, Datanya Bilang Lain
Sepanjang 2026, kamu mungkin sudah bosan membaca judul yang mirip-mirip: perusahaan teknologi raksasa memecat ribuan orang, lalu menyebut AI sebagai biang keroknya. Cloudflare memangkas 1.100 posisi (20% dari total karyawan) dengan alasan sistem AI kini menangani pemrograman dan pemantauan keamanan. Meta melepas 8.000 orang karena AI dianggap setara 2β3 pekerja manusia untuk tugas moderasi konten. Oracle memangkas 30.000 posisi, Salesforce 6.200, Accenture 11.000, IBM sampai 7.800 β daftarnya panjang dan alasannya seragam: AI membuat pekerjaan manusia jadi berlebihan.
Yang jarang muncul di headline adalah pertanyaan paling penting: apakah PHK itu benar-benar mendongkrak kinerja keuangan perusahaan?
Gartner, lembaga riset teknologi yang laporannya jadi rujukan ribuan perusahaan dunia untuk keputusan investasi IT, baru saja menjawabnya lewat survei terhadap 350 eksekutif senior di perusahaan global berpendapatan minimal US$1 miliar per tahun β semuanya perusahaan yang sudah mengujicoba atau menerapkan sistem AI otonom (autonomous business, istilah untuk AI yang bisa mengambil keputusan dan menjalankan tugas tanpa campur tangan manusia terus-menerus). Survei ini dilakukan pada kuartal ketiga 2025, tepat di puncak gelombang PHK berbasis AI yang sekarang jadi berita hangat.
Hasilnya kontraintuitif. Sekitar 80% perusahaan yang disurvei memang memangkas tenaga kerja setelah menerapkan AI. Tapi ketika Gartner membandingkan skala PHK dengan pertumbuhan laba, tidak ada korelasi yang berarti. Perusahaan yang memotong banyak karyawan tidak lebih untung dibanding yang cuma memotong sedikit β bahkan tingkat pemangkasan hampir sama rata antara perusahaan yang melaporkan hasil AI bagus maupun yang biasa-biasa saja.
"Workforce reductions may create budget room, but they do not create return" β PHK memang bisa membebaskan anggaran, tapi tidak menciptakan imbal hasil, kata Helen Poitevin, Distinguished VP Analyst di Gartner, dalam rilis studi tersebut. Ia menambahkan bahwa fokus semata pada PHK itu jangka pendek: "That's not where the value is... that's not where the productivity gains are going to be" β di situ bukan tempat nilai dan kenaikan produktivitas sebenarnya berada.
Yang Membedakan Pemenang dari yang Cuma Ikut-Ikutan
Kalau PHK bukan sumber nilainya, lalu apa? Gartner menemukan perusahaan dengan ROI AI tertinggi punya satu kesamaan: mereka memakai AI untuk melipatgandakan hasil kerja karyawan yang ada (istilahnya "people amplification"), bukan menggantikan mereka. Karyawan yang tadinya mengerjakan tugas administratif dipindahkan ke peran yang lebih strategis β riset pasar, desain produk, negosiasi klien β sambil AI menangani bagian rutinnya. Perusahaan ini justru berinvestasi lebih banyak pada pelatihan keterampilan, peran baru, dan model operasi baru untuk mengelola sistem otonom itu.
Bandingkan dengan pola paling umum: PHK dulu, baru berharap AI-nya "nyusul" mengisi kekosongan produktivitas. Logika ini menggoda karena hasilnya kelihatan instan di laporan keuangan kuartal berikutnya β biaya gaji turun, margin naik sedikit di atas kertas. Tapi Gartner menegaskan itu ilusi jangka pendek: begitu kompleksitas kerja nyata muncul (klien yang marah, kasus yang tidak standar, keputusan yang butuh konteks), perusahaan itu kembali kekurangan orang, dan value AI yang dijanjikan tidak pernah terealisasi.
Klarna, perusahaan fintech Swedia, jadi studi kasus paling telanjang untuk pola ini β dan terjadi setahun sebelum studi Gartner keluar. Awal 2024, CEO Klarna mengumumkan chatbot AI buatannya (dibangun bersama OpenAI) sudah mengerjakan pekerjaan setara 700 agen manusia, memproses 2,3 juta percakapan, dan diproyeksikan menghemat US$40 juta pada 2024. Ceritanya terdengar sempurna sebagai studi kasus sukses AI. Tapi begitu kasus yang lebih rumit dan emosional masuk β komplain, sengketa pembayaran, masalah multi-langkah β skor kepuasan pelanggan anjlok. Mei 2025, CEO-nya mengakui langkahnya "kebablasan" dan mulai merekrut ulang staf manusia. Gartner sendiri, dalam riset terpisah, memprediksi separuh dari perusahaan yang memangkas staf layanan pelanggan karena AI akan merekrut ulang orang untuk pekerjaan serupa pada 2027 β hanya dengan jabatan yang berbeda.
Ketika "Karena AI" Cuma Alasan yang Kedengarannya Modern
Ada satu lapisan lagi yang bikin narasi "PHK demi AI" makin perlu dicurigai: banyak dari PHK itu sebenarnya bukan soal AI sama sekali. Data dari analisis PHK korporat Amerika Serikat menunjukkan dari 1,2 juta pemutusan kerja yang diumumkan sepanjang 2025, cuma 55.000 (4,5%) yang secara eksplisit mencantumkan AI sebagai alasan resmi. Sisanya β mayoritas besar β didorong oleh hal yang jauh lebih membosankan untuk dijadikan headline: kelebihan rekrutmen pasca-pandemi, tekanan margin, permintaan konsumen yang melambat, atau tekanan investor yang ingin pendapatan per karyawan naik cepat.
Praktik ini punya nama: AI-washing β menyebut AI sebagai alasan PHK padahal alasan sebenarnya adalah pemangkasan biaya biasa, karena "digantikan AI" jauh lebih sulit dibantah karyawan dan kedengaran lebih futuristik dibanding "kami salah kelola cash flow". Andy Jassy, CEO Amazon, sempat mengklarifikasi bahwa PHK 14.000 posisi manajer pada awal 2025 murni keputusan finansial, bukan karena AI β meski media ramai-ramai menautkannya ke narasi otomatisasi. Pola serupa terlihat di Uber: CEO Dara Khosrowshahi, saat mengumumkan PHK 3.300 karyawan pada awal September 2026, menyebut alasannya adalah memangkas lapisan manajemen dan menyederhanakan organisasi, bukan menyalahkan AI secara langsung β meski dana yang dihemat memang dialokasikan ke ambisi "masa depan otonom" Uber, termasuk investasi robotaxi (taksi tanpa sopir) senilai sekitar US$10 miliar.
Artinya, sebagian PHK yang selama ini kita baca sebagai "korban AI" sebenarnya lebih tepat dibaca sebagai perusahaan yang butuh memangkas biaya, lalu memilih narasi yang paling nyaman didengar publik dan investor. Sam Altman, CEO OpenAI sendiri, bahkan sudah memperingatkan soal maraknya AI-washing ini β sebuah pengakuan yang cukup ironis datang dari orang yang perusahaannya paling diuntungkan dari narasi "AI menggantikan manusia".
Indonesia: Ikut Latah Tanpa Fondasi yang Sama
Kalau perusahaan-perusahaan global dengan sistem AI paling matang saja gagal membuktikan PHK-nya menguntungkan, pertanyaannya jadi lebih tajam untuk perusahaan Indonesia: atas dasar apa ikut-ikutan?
Data Kemnaker mencatat 88.519 pekerja terkena PHK sepanjang 2025 β angkanya meningkat 32,19% pada semester pertama dibanding periode sama tahun sebelumnya (42.385 orang, naik dari 32.064). Tapi ketika Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Kemnaker, Indah Anggoro Putri, menjelaskan penyebabnya, yang disebut duluan bukan AI β melainkan "dinamika geopolitik global, ada perang dan sebagainya" yang menekan aktivitas ekspor-impor. Sektor manufaktur jadi yang paling terpukul, dengan Jawa Barat menyumbang 21,26% dari total kasus PHK nasional.
Sementara itu, adopsi AI di perusahaan Indonesia baru menyentuh 40% pada 2026 menurut studi AWS bersama Strand Partners β naik dari 25% tahun sebelumnya, tapi 56% dari perusahaan yang sudah "mengadopsi" itu masih di tahap eksplorasi awal tanpa strategi terukur, kesulitan mengukur ROI, dan belum punya roadmap bisnis yang jelas. Tingkat risiko otomatisasi kerja di Indonesia tercatat 14,1% β masih di kisaran menengah dibanding negara ASEAN lain, jauh dari level yang membuat PHK massal berbasis AI jadi masuk akal secara teknis.
Kasus Bukalapak jadi ilustrasi paling jujur soal ini. Sepanjang 2025, jumlah karyawannya menyusut drastis dari 1.018 orang (akhir 2024) menjadi hanya 424 orang (Desember 2025) β pemangkasan hampir 60%, ditambah PHK lanjutan 594 karyawan yang diumumkan pertengahan 2026. Tapi ini bukan cerita AI menggantikan manusia: Bukalapak menutup seluruh lini marketplace produk fisik dan merestrukturisasi bisnis karena tekanan profitabilitas, murni keputusan model bisnis. Ini konsisten dengan temuan global β kata "efisiensi" jadi payung generik untuk PHK apa pun, dengan atau tanpa AI di baliknya, karena kedengarannya lebih strategis daripada mengakui kesalahan kalkulasi bisnis.
Menariknya, secara nasional tingkat pengangguran terbuka Indonesia justru turun tipis ke 4,85% per Agustus 2025 (dari 4,91% setahun sebelumnya) menurut BPS, meski jumlah absolutnya masih 7,46 juta orang menganggur. Angka ini perlu dibaca hati-hati β ia mencakup seluruh angkatan kerja nasional, bukan cuma sektor yang kena gelombang PHK korporat, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan gelombang PHK "tidak berdampak". Yang bisa disimpulkan: belum ada bukti kuat bahwa PHK berbasis AI di Indonesia terjadi dalam skala yang sebanding dengan kegaduhan naratifnya.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan biarkan ketakutan akan PHK jadi satu-satunya alasan kamu buru-buru resign untuk membangun usaha sendiri. Data Gartner justru menunjukkan perusahaan yang benar mengelola AI tetap butuh manusia untuk peran yang lebih tinggi nilainya β jadi kalau kamu di posisi yang bisa dipindahkan ke pekerjaan bernilai lebih tinggi (bukan cuma tugas rutin yang gampang diotomatisasi), peluangmu bertahan justru lebih besar dari yang kamu kira. Kalau kamu memang berniat usaha, jadikan momentum ini sebagai kesiapan, bukan reaksi panik β pastikan kamu punya validasi pasar dan bukan sekadar lari dari ketidakpastian kerja.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Sebelum ikut memangkas tim dengan alasan "efisiensi AI", tanya dulu: apakah kamu benar-benar sudah mengukur ROI dari sistem AI yang dipakai, atau cuma mengikuti tren karena kompetitor melakukannya? Data Gartner jelas β PHK membebaskan anggaran jangka pendek, tapi tidak otomatis menciptakan nilai. Kalau AI di bisnismu benar-benar terbukti menggantikan sebagian pekerjaan rutin secara konsisten, langkah yang lebih menguntungkan justru memindahkan orang yang tergantikan itu ke tugas yang lebih strategis β bukan langsung memutus hubungan kerja. Ingat kasus Klarna: PHK yang terburu-buru bisa berakhir dengan biaya rekrutmen ulang plus reputasi yang rusak duluan.
Kalau kamu khawatir soal dampaknya ke ekonomi secara luas
PHK yang dilabeli "karena AI" tapi sebenarnya soal tekanan biaya biasa berisiko menciptakan ketakutan berlebihan di masyarakat tanpa solusi kebijakan yang tepat sasaran. Lebih dari 200 ekonom dunia, termasuk 16 peraih Nobel, sudah mendesak pemerintah dan perusahaan teknologi lewat surat terbuka Juli 2026 agar pengembangan AI diarahkan untuk melengkapi peran manusia, bukan menggantikannya sepenuhnya β sebuah peringatan yang relevan buat Indonesia yang jaring pengaman ketenagakerjaannya masih jauh dari memadai untuk menyerap gelombang transisi kerja skala besar.
Yang Perlu Dipantau
Rilis data PHK Kemnaker kuartal III 2026 β biasanya dipublikasikan awal Oktober, untuk melihat apakah tren PHK nasional masih didominasi tekanan ekspor-impor atau mulai bergeser ke alasan otomatisasi.
Data Sakernas BPS Agustus 2026 β diperkirakan rilis awal November 2026, jadi pembanding apakah tingkat pengangguran terbuka nasional bergerak naik seiring gelombang PHK korporat yang terus diberitakan.
Realisasi prediksi Gartner soal rehiring 2027 β apakah tren Klarna (PHK lalu rekrut ulang) benar-benar terjadi di separuh perusahaan yang memangkas layanan pelanggan karena AI.
Laporan Challenger, Gray & Christmas bulanan (AS) β untuk memantau apakah proporsi PHK yang benar-benar mencantumkan AI sebagai alasan resmi naik dari angka 4,5% atau tetap stagnan.
Survei lanjutan AWSβStrand Partners soal adopsi AI Indonesia β untuk melihat apakah persentase perusahaan yang keluar dari tahap "eksplorasi awal tanpa strategi" bertambah, sebagai indikator apakah PHK berbasis AI di Indonesia mulai punya dasar yang lebih kuat atau masih sekadar ikut tren.
Penutup
Studi Gartner ini bukan bukti bahwa AI tidak berguna β justru sebaliknya, ia menunjukkan AI baru memberi hasil kalau dipakai untuk melipatgandakan kerja manusia, bukan sebagai alasan memangkasnya. Yang perlu kamu bawa pulang dari angka-angka di atas sederhana: kalau sebuah perusahaan mengumumkan PHK dan menyebut AI, pertanyaan yang lebih penting bukan "berapa banyak yang di-PHK", tapi "apakah mereka benar-benar tahu cara mendapatkan nilai dari AI, atau cuma mencari alasan yang kedengarannya modern untuk keputusan yang sebenarnya soal uang". Sampai ada bukti sebaliknya, anggap saja setiap pengumuman "PHK demi efisiensi AI" sebagai klaim yang harus dibuktikan dulu labanya β bukan diterima begitu saja sebagai kepastian masa depan kerja.
Sumber
Gartner β "Gartner Says Autonomous Business and Artificial Intelligence Layoffs May Create Budget Room, but Do Not Deliver Returns"
Fortune β "AI isn't paying off in the way companies think"
CNBC β "AI-washing and the massive layoffs hitting the economy"
The Week β "Was AI really behind massive Uber layoffs of 3,300 employees?"
CNBC Indonesia β "Tren Karyawan Manusia Diganti AI, Ini Daftar Perusahaan PHK 2026"
CNBC Indonesia β "Kemnaker Tunjuk Penyebab 88.519 Orang Kena PHK, Bisnis Ini Terbanyak"
Kompas Tekno β "AI Diprediksi Picu PHK Makin Besar, 200 Ekonom Desak Dunia Bertindak"
Badan Pusat Statistik (BPS) β Siaran Pers Tingkat Pengangguran Terbuka Agustus 2025
Tempo β "Angka Pengangguran per Agustus 2025 Tembus 7,46 Juta Orang"
Suara.com / Babel Insight β laporan PHK dan restrukturisasi Bukalapak 2025β2026
Kompas Tekno β "Adopsi AI di Indonesia Tembus 40 Persen, AWS Ungkap Banyak Perusahaan Belum Siap"