Lewati ke konten
blabak.

Harbolnas 2026 Dibidik Rp40 Triliun, tapi Live Shopping yang Sebenarnya Menentukan Siapa Menang

Target Harbolnas 2026 naik jadi Rp40 triliun, tapi pertumbuhannya melambat. Video commerce melonjak 90% dan kini jadi penentu siapa yang menang jualan.

Yusuf FS8 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pemerintah menetapkan target transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2026, yang berlangsung 10–16 Desember, sebesar Rp40 triliun β€” naik 10% dari realisasi tahun lalu Rp36,4 triliun.

  • Tapi laju pertumbuhan Harbolnas justru melambat tiga tahun berturut-turut: +21,4% (2023β†’2024), +16,7% (2024β†’2025), dan kini ditarget cuma +10% (2025β†’2026).

  • Mesin yang justru menyala terang adalah video commerce (jualan lewat siaran langsung/live streaming dan konten video pendek): transaksinya melonjak hampir 90% jadi 2,6 miliar transaksi, dengan penjual aktif naik 75% jadi 800 ribu.

  • Tapi 800 ribu penjual video commerce itu cuma sekitar 3,6% dari 22 juta UMKM Indonesia yang sudah "go digital" β€” mayoritas pelaku usaha online masih berjualan dengan cara lama: foto produk dan deskripsi statis di marketplace.

  • Ekonom mengingatkan di balik histeria diskon dan siaran langsung jualan ada risiko predatory pricing (strategi jual rugi sengaja untuk mematikan pesaing lalu menaikkan harga setelah menang) dan ketergantungan pada algoritma platform yang bisa menggerus margin UMKM kecil.

Target Naik, tapi Semangatnya Melambat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkannya dengan nada optimistis: "Harbolnas tahun lalu itu bisa mencapai sekitar Rp36,4 triliun, dan tahun ini ditargetkan naik minimal 10%, jadi targetnya tahun ini Rp40 triliun." Angka itu dipatok untuk gelaran Harbolnas 2026 yang berlangsung tujuh hari, 10–16 Desember, dan tahun ini cakupannya diperluas β€” bukan cuma barang, tapi juga tiket perjalanan, akomodasi, ride-hailing, hingga social commerce.

Rp40 triliun memang angka yang besar untuk belanja tujuh hari. Tapi taruh angka itu di sebelah data historisnya, dan gambarnya berubah. Harbolnas 2023 mencatat Rp25,7 triliun. Setahun kemudian naik jadi Rp31,2 triliun β€” lompatan 21,4%. Tahun lalu, 2025, jadi Rp36,4 triliun β€” tumbuh 16,7%. Target tahun ini cuma menambah 10% lagi.

Jadi meski nominalnya terus membesar, kecepatan pertumbuhannya justru mengerem tiap tahun. Ini bukan berarti Harbolnas gagal β€” ini sinyal bahwa mesin lama belanja online (diskon musiman di marketplace, kupon, gratis ongkir) sudah mendekati titik jenuhnya. Kalau pemerintah dan pelaku usaha cuma mengandalkan formula lama, target Rp40 triliun itu berisiko meleset atau paling banter pas-pasan. Yang membuat pemerintah tetap percaya diri justru datang dari arah lain: layar HP yang menyala live.

Mesin Baru: Etalase yang Menyiarkan Diri Sendiri

Di sinilah angka yang sebenarnya lebih layak jadi headline. Sementara pertumbuhan Harbolnas secara keseluruhan melambat ke 10%, transaksi video commerce β€” pembelian yang terjadi lewat siaran langsung jualan (live shopping) dan video pendek berisi demo produk β€” melonjak hampir 90% secara tahunan, tembus 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual yang aktif berjualan lewat format ini naik 75% menjadi 800 ribu.

Airlangga menjelaskannya sebagai pergeseran ke "dual channel" alias omnichannel: konsumen kini belanja lewat dua jalur sekaligus, marketplace konvensional dan siaran langsung. "Kalau sekarang trennya tetap baik, terjadi tentu dual channel... video commerce itu berjalan dan trennya malah naik ke 800 ribu itu naik hampir 75 persen," katanya. Indonesia, menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company, kini menjadi pasar video commerce terbesar sekaligus paling cepat tumbuh di Asia Tenggara β€” bagian dari ekonomi digital nasional yang nilainya mendekati US$100 miliar (sekitar Rp1.630 triliun dengan kurs saat ini) di 2025, dengan GMV e-commerce sekitar US$71 miliar atau kira-kira 37% dari total nilai transaksi e-commerce se-Asia Tenggara.

Tapi ada satu angka yang jarang dikait-kaitkan dengan statistik 800 ribu penjual itu: dari total 66 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 22 juta yang sudah terhubung ke ekosistem digital sama sekali β€” punya toko online, pakai QRIS, atau aktif di marketplace, menurut catatan Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026. Artinya, 800 ribu penjual video commerce itu hanya sekitar 3,6% dari UMKM yang sudah digital, dan proporsi yang jauh lebih kecil lagi dari total 66 juta UMKM Indonesia. Mayoritas pelaku usaha online di Indonesia masih berjualan dengan cara lama: unggah foto produk, tulis deskripsi, tunggu pembeli klik "beli". Gelombang video commerce baru menyentuh sebagian kecil dari mereka β€” tapi sebagian kecil itu yang justru menyumbang pertumbuhan tercepat.

Kenapa Menonton Bisa Bikin Orang Belanja

Ada alasan konkret kenapa format ini menang, bukan sekadar tren yang dipaksakan. Riset industri mencatat tingkat konversi (persentase penonton yang benar-benar membeli) di live shopping bisa sampai tiga kali lebih tinggi dibanding belanja lewat katalog statis di marketplace biasa. Penjual bisa menjawab pertanyaan langsung, menunjukkan tekstur atau ukuran produk secara real-time, dan menciptakan rasa urgensi lewat promo yang hanya berlaku selama siaran berlangsung β€” sesuatu yang tidak bisa ditiru foto produk sebagus apa pun.

Tapi ada syarat yang sering luput dari cerita sukses: konsistensi. Sebagian besar volume transaksi live commerce terkonsentrasi pada penjual yang rutin siaran minimal tiga kali seminggu dengan durasi memadai β€” bukan pada mereka yang sesekali live tanpa persiapan lalu berharap hasil instan. Ini mengubah beban kerja UMKM: dari sekadar mengelola stok dan pengiriman, jadi juga harus jadi kreator konten, punya jadwal siaran tetap, dan membangun engagement layaknya media kecil sendiri.

Perubahan ini juga membuka lapangan kerja baru yang sebelumnya tidak ada. Data Kementerian Ketenagakerjaan lewat platform KarirHub mencatat lebih dari 10.000 lowongan host live streaming diposting sepanjang 2025, menempatkan profesi ini di peringkat tujuh pekerjaan paling dicari saat itu. Gajinya di kisaran Rp3–5 juta per bulan, plus insentif berbasis performa penjualan β€” angka yang masih di bawah standar profesi digital marketing senior, tapi cukup menarik untuk profesi yang belum ada sama sekali lima tahun lalu, dengan syarat masuk yang relatif rendah: minimal SMA, usia di bawah 30 tahun.

Sisi Gelap Diskon dan Ketergantungan Platform

Di balik narasi sukses ini, ada peringatan yang jarang muncul di rilis pers pemerintah. Peneliti Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Media Wahyudi Askar, pernah mengingatkan bahwa predatory pricing hanyalah salah satu dari sederet masalah e-commerce yang mengancam UMKM. Masalah yang lebih struktural, menurutnya, adalah ketika platform yang sama juga bertindak sebagai kompetitor di dalam platformnya sendiri β€” situasi yang berpotensi memunculkan konflik kepentingan dan perdagangan yang tidak adil. Strategi diskon ekstrem, cashback besar-besaran, dan subsidi ongkos kirim yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, kata sejumlah pengamat, punya ciri-ciri predatory pricing yang justru melemahkan daya saing UMKM dalam jangka panjang.

Ada juga risiko yang lebih diam-diam: ketergantungan pada satu platform. Ketika algoritma berubah, penjual kecil bisa kehilangan visibilitas dalam semalam tanpa peringatan. Ketika platform menaikkan biaya layanan atau komisi, margin UMKM yang sudah tipis makin tergerus β€” dan karena data pelanggan dikuasai platform, bukan penjual, keluar dari satu marketplace sering berarti membangun basis pelanggan dari nol lagi di tempat lain.

Pergeseran ini juga menekan sisi lain dari ekonomi ritel: tenaga kerja toko fisik konvensional. Sebagian peritel modern di Indonesia, termasuk jaringan minimarket besar, mulai menguji coba gerai tanpa kasir yang bisa buka 24 jam dengan kebutuhan staf yang jauh lebih sedikit β€” bagian dari efisiensi biaya tenaga kerja di tengah tekanan margin akibat pergeseran konsumen ke saluran digital. Bagi pekerja ritel konvensional, ini bukan ancaman abstrak; ini pertanyaan soal keterampilan apa yang perlu segera dipelajari sebelum posisi lama tergerus pelan-pelan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan mulai dengan modal besar untuk stok barang β€” mulai dengan modal kecil untuk kamera dan konsistensi. Data menunjukkan yang menang bukan penjual dengan stok terbanyak, tapi yang rutin siaran minimal tiga kali seminggu dan membangun kepercayaan lewat interaksi langsung. Kalau kamu belum siap jualan sendiri, pertimbangkan juga jalur lain yang sedang terbuka: jadi host live streaming atau pengelola konten untuk brand lain β€” permintaannya nyata (lebih dari 10 ribu lowongan dalam setahun), meski gajinya masih entry-level. Jangan buru-buru ikut perang diskon di Harbolnas sebagai modal awal; margin tipis di masa belajar bisa membuatmu rugi sebelum sempat konsisten.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Audit ketergantunganmu pada satu platform sekarang, bukan setelah kena masalah. Kalau 90% penjualanmu datang dari satu marketplace atau satu akun media sosial, kamu sedang menaruh nasib bisnismu di tangan algoritma yang bisa berubah kapan saja. Mulai bangun kanal yang kamu kendalikan sendiri β€” grup WhatsApp pelanggan, database kontak, komunitas β€” sebagai jaring pengaman. Investasikan waktu untuk belajar format video dan siaran langsung sekarang, sebelum musim belanja akhir tahun tiba, karena keterampilan ini butuh waktu untuk terasa natural di depan kamera. Dan yang tak kalah penting: hitung betul margin setelah dipotong komisi platform, biaya promosi, dan subsidi ongkir sebelum ikut arus diskon besar-besaran β€” jangan sampai omzet naik tapi keuntungan malah menipis atau minus.

Kalau kamu konsumen biasa

Momentum belanja akhir tahun ini sengaja didorong pemerintah untuk mengerek konsumsi rumah tangga menjelang target pertumbuhan ekonomi kuartal IV sebesar 6% β€” artinya ada kepentingan besar di balik gempuran promo yang akan kamu lihat mulai Oktober-November nanti. Diskon di siaran langsung sering dirancang untuk memicu keputusan impulsif dalam hitungan detik. Tidak ada salahnya menikmati promonya, tapi tetap tahan diri: cek dulu harga normal produk sebelum termakan hitungan mundur "diskon hanya 10 menit lagi" di layar.

Yang Perlu Dipantau

  • Realisasi transaksi Harbolnas 10–16 Desember 2026 β€” apakah benar-benar menyentuh Rp40 triliun atau justru meleset dari target 10% itu, sebagai tanda apakah momentum video commerce cukup kuat menutupi pelambatan belanja konvensional.

  • Data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2026 dari BPS, biasanya dirilis awal Februari 2027, untuk melihat apakah konsumsi rumah tangga benar terangkat sesuai target pemerintah 6%.

  • Perkembangan regulasi soal predatory pricing dan perlindungan UMKM di platform digital, mengingat kritik dari lembaga riset seperti INDEF soal konflik kepentingan platform yang juga jadi kompetitor.

  • Data ketenagakerjaan Kemnaker berikutnya soal lowongan digital (host live streaming, content creator, social commerce) dibanding penyerapan kerja di ritel konvensional, untuk melihat apakah pergeseran ini benar-benar net job creator atau sekadar memindahkan pekerjaan.

  • Laporan e-Conomy SEA edisi berikutnya (biasanya dirilis akhir tahun) untuk update resmi soal pangsa video commerce dalam total GMV e-commerce regional.

Penutup

Target Rp40 triliun itu bukan cerita tentang pemerintah yang makin ambisius setiap tahun β€” kalau kamu perhatikan baik-baik, itu justru cerita tentang mesin lama yang mulai kehabisan tenaga, dan mesin baru yang belum dinaiki kebanyakan orang. Selama musim belanja akhir tahun masih dianggap sekadar soal siapa yang kasih diskon terbesar, sebagian besar UMKM akan terus bersaing di kolam yang makin dangkal. Yang benar-benar menentukan siapa bertahan di Harbolnas tahun ini bukan lagi seberapa besar potongan harga yang kamu tawarkan, tapi seberapa berani kamu menyalakan kamera dan mulai bicara langsung ke pembelimu.

Sumber

  • CNBC Indonesia β€” "Jelang Harbolnas 2026: Warga RI Ditarget Jajan Rp40 T Selama 7 Hari"

  • CNBC Indonesia β€” "Target Harbolnas 2026 Rp 40 T Jadi Motor Ekonomi Akhir Tahun"

  • CNN Indonesia β€” "Airlangga Ungkap Jualan Live Laris hingga Tembus 2,6 M Transaksi"

  • ANTARA News β€” "Pemerintah Targetkan Transaksi Harbolnas 2026 Capai Rp40 Triliun"

  • Tirto β€” "Airlangga: Indonesia Pasar Video Commerce Terbesar di Asean"

  • Google, Temasek, Bain & Company β€” Laporan e-Conomy SEA 2025

  • Kementerian Koperasi dan UKM β€” data UMKM go digital (dikutip ulang media nasional)

  • Kementerian Ketenagakerjaan (KarirHub) β€” data lowongan host live streaming 2025 (dikutip Liputan6)

  • INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) β€” pandangan riset soal predatory pricing dan risiko platform e-commerce bagi UMKM