Lewati ke konten
blabak.

RDG BI 22-23 September: Dilema Destry Damayanti Antara Rupiah Rp17.700 dan Bunga KPR Jutaan Orang

BI gelar RDG 22-23 September pasca The Fed naik ke 3,75-4%. Bertahan di 5,75% demi kredit, atau naik demi rupiah? Ini dampaknya ke KPR dan tabunganmu.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, tepat sepekan setelah The Fed (bank sentral Amerika Serikat) menaikkan suku bunga acuannya ke 3,75%-4,00% โ€” kenaikan pertama sejak Juli 2023, dan 16 dari 18 pejabat The Fed masih memberi sinyal minimal satu kenaikan lagi sebelum tahun ini berakhir.

  • BI Rate sudah bertahan di 5,75% selama tiga RDG beruntun sejak Agustus, level tertinggi dalam 16 bulan terakhir, sementara rupiah melemah ke kisaran Rp17.700-17.800 per dolar AS โ€” jauh dari Rp16.670 di akhir 2025, dan hanya sedikit membaik dari rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.033 pada Juni lalu.

  • Konsensus 24 ekonom nyaris bulat memperkirakan BI menahan suku bunga, tapi sebagian memproyeksikan kenaikan bisa berlanjut sampai 6,25% pada akhir tahun kalau tekanan rupiah tak kunjung reda.

  • Di balik pertumbuhan kredit perbankan 12,67% yang terlihat sehat, kredit modal kerja โ€” andalan pabrik dan UMKM โ€” justru menciut 4,3%, dan rasio penciptaan lapangan kerja di industri padat karya anjlok dari 7.823 pekerja per tahun (2025) jadi cuma 5.360 pekerja (semester I 2026).

  • Ini adalah RDG penuh pertama Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif, dan hasilnya langsung menjalar ke bunga KPR, cicilan kredit UMKM, dan bunga deposito jutaan orang โ€” meski efeknya baru terasa penuh 2-3 kuartal ke depan.

Satu Pekan yang Menentukan, dari Washington ke Thamrin

Sepekan lalu, pada 16 September, The Fed mengetuk palu: suku bunga acuan naik 25 basis poin (1 basis poin setara 0,01 persen) ke kisaran 3,75%-4,00%. Ini kenaikan pertama sejak Juli 2023, setelah dua tahun lebih The Fed justru menahan lalu memangkas bunganya. Yang bikin pasar tegang bukan cuma kenaikannya, tapi sinyal di baliknya: dari 18 pejabat yang memberi proyeksi (dikenal sebagai "dot plot"), 16 orang masih melihat setidaknya satu kali kenaikan lagi sebelum akhir 2026. Artinya ini bukan kejutan sekali jalan, melainkan awal dari siklus pengetatan yang mungkin berlanjut.

Bagi Indonesia, timing ini tidak bisa lebih buruk. Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September ini adalah RDG penuh pertama yang dipimpin Destry Damayanti sejak resmi disetujui DPR sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 pada 1 September lalu โ€” menjadikannya perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Dia sempat memimpin RDG Agustus sebagai Pelaksana Tugas dan memilih menahan bunga. Tapi kali ini dia menghadapi ujian yang jauh lebih sulit: menahan bunga di 5,75% demi menjaga kredit tetap mengalir ke dunia usaha, atau ikut menaikkannya demi menjaga jarak dengan Amerika supaya uang asing tidak makin deras kabur dari Indonesia.

Kenapa Selisih 1,75 Poin Ini Bukan Sekadar Angka

Logikanya sederhana meski efeknya rumit: investor global menaruh uang di negara yang memberi imbal hasil paling menarik dibanding risikonya. Selisih (dalam bahasa pasar disebut spread) antara BI Rate 5,75% dan Fed Funds Rate 3,75%-4,00% sekarang tinggal sekitar 1,75 poin persentase di batas atas โ€” menyempit dari sekitar 2 poin sebelum The Fed naik pekan lalu. Semakin tipis selisih ini, semakin kecil "kompensasi risiko" yang didapat investor asing untuk memegang aset rupiah dibanding memegang dolar yang jauh lebih aman.

Pola historisnya tidak selalu linier. Pada 2018, BI baru merespons lima bulan setelah The Fed mulai agresif, lalu terpaksa mengejar ketertinggalan dengan menaikkan bunga 175 basis poin sekaligus dalam setahun untuk menahan rupiah yang jeblok. Sebaliknya tahun ini BI justru sudah lebih dulu bergerak โ€” menaikkan BI Rate kumulatif 100 basis poin sejak Mei-Juni, dari 4,75% ke 5,75%, jauh sebelum The Fed benar-benar naik September ini. Para analis menyebutnya "front-loading": menaikkan bunga lebih awal dan lebih cepat sebagai antisipasi, bukan menunggu tekanan makin parah baru bereaksi. Pertanyaannya sekarang, apakah amunisi yang sudah ditembakkan lebih dulu itu cukup, atau BI harus menambah lagi.

Yang membuat kalkulasi makin sulit: inflasi domestik justru sedang naik, bukan turun. Inflasi tahunan Agustus tercatat 3,19%, naik dari 2,88% di Juli, dan mulai mendekati batas atas target BI di 1,5%-3,5%. Kombinasi rupiah lemah dan inflasi yang merambat naik ini secara teori sama-sama mengarah ke argumen menaikkan bunga โ€” bukan cuma soal mengejar The Fed.

Rupiah yang Paling Babak Belur di Asia

Rupiah sudah tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia sepanjang 2026, melemah sekitar 6-8% dibanding posisi akhir 2025 di Rp16.670 per dolar AS โ€” lebih dalam dari won Korea Selatan (-4,86%), rupee India (-4,96%), baht Thailand (-3,31%), yen Jepang (-2,30%), maupun peso Filipina (-2,45%). Titik terendahnya sepanjang sejarah tercatat Rp18.033 pada 5 Juni lalu. Posisi sekarang di Rp17.700-17.800 sebenarnya sudah membaik dari rekor terburuk itu, tapi tetap jauh di atas level "normal" rupiah setahun lalu.

Cadangan devisa โ€” simpanan dolar milik negara yang dipakai untuk menstabilkan rupiah dan membayar utang luar negeri โ€” tercatat US$145,3 miliar pada Juli, setara 5,5 bulan impor, masih di atas standar aman internasional (3 bulan impor). Tapi ada retakan di bawah permukaan: aset bersih luar negeri BI dilaporkan turun 13,8% hanya dalam enam bulan menjadi Rp1.873 triliun per Juli, tergerus pembayaran utang pemerintah dan intervensi BI di pasar untuk menahan rupiah agar tidak makin liar.

Ada satu data yang terlihat kontradiktif kalau dibaca sepotong: aliran modal asing ke Indonesia sepanjang 2026 justru positif, mencapai Rp141,6 triliun, dengan pasar Surat Berharga Negara (SBN, obligasi pemerintah) kebagian Rp40,8 triliun terutama sejak kuartal ketiga. Tapi di saat bersamaan, pasar saham malah kena jual bersih asing Rp70,7 triliun. Penjelasannya bukan kontradiksi, tapi pemilahan risiko: investor asing masih percaya pada imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang tinggi dan relatif aman, tapi menghindari saham karena ketidakpastian arah suku bunga global membuat mereka enggan menanggung risiko yang lebih fluktuatif. Efeknya kelihatan di lantai bursa โ€” Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun dua pekan beruntun, dari 6.441 pada pekan lalu menjadi 6.384 pada Senin, 21 September, dengan saham empat bank besar (BMRI, BBCA, BBNI, BBRI) kompak merah menjelang RDG karena investor gelisah menunggu arah bunga.

Kredit Tumbuh 12,67%, tapi yang Butuh Modal Kerja Malah Kena Rem

Di sinilah angka yang jarang muncul di headline justru paling penting. Secara agregat, kredit perbankan nasional tumbuh 12,67% secara tahunan per Juni 2026 โ€” melampaui target BI sendiri di kisaran 8-12%, dan didukung permodalan bank yang tebal (rasio kecukupan modal atau CAR di 23,74%, jauh di atas ambang aman). Kalau berhenti di angka ini, kesimpulannya sistem kredit terlihat sangat sehat.

Tapi pecah angka itu dan gambarannya berubah. Kredit modal kerja โ€” jenis pinjaman yang paling dipakai UMKM dan pabrik untuk membiayai operasional harian โ€” justru mengalami kontraksi 4,3% secara tahunan menjadi Rp1.008,5 triliun pada Juni. Artinya pertumbuhan kredit yang terlihat kuat itu ditopang segmen lain (kredit konsumer dan korporasi besar), bukan oleh pelaku usaha kecil-menengah yang justru makin menjauh dari perbankan karena bunga sudah dianggap mahal. Bunga kredit UMKM masih bertengger di 10,47% pada Mei, dan survei mencatat 18% pelaku usaha memilih tidak mengajukan kredit sama sekali karena alasan bunga tinggi.

Dampaknya sampai ke lapangan kerja. Rasio penciptaan lapangan kerja di sektor industri padat karya โ€” jumlah pekerja baru yang terserap dibanding investasi yang masuk โ€” anjlok dari 7.823 pekerja per tahun di 2025 menjadi hanya 5.360 pekerja di semester pertama 2026, meski investasi ke sektor tersebut tetap naik. Data BPJS Ketenagakerjaan mencatat 126.000 pekerja nonaktif akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga Mei 2026, dan lembaga riset CORE Indonesia memperkirakan lebih dari 15.000 pekerja tambahan berpotensi kena PHK, dengan manufaktur sebagai sektor paling rawan. Ini konteks yang membuat opsi menaikkan bunga lagi bukan keputusan gratis โ€” setiap kenaikan lanjutan berpotensi menekan lebih dalam segmen usaha yang justru sudah kesulitan.

Tiga Skenario di Meja RDG

Pasar sebenarnya cukup solid di satu titik: survei terhadap 24 ekonom menunjukkan mayoritas besar memperkirakan BI menahan bunga di 5,75% pada RDG kali ini. Ekonom seperti Enrico Tanuwidjaja dari UOB termasuk yang meyakini BI akan menahan, sementara Rahma Gafmi, Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, mengingatkan bahwa kenaikan The Fed "tidak selalu secara otomatis atau serta-merta instant pass-through" ke kebijakan BI โ€” bank sentral tetap mempertimbangkan kondisi domestik secara menyeluruh, bukan sekadar mengekor Amerika.

Tapi ada suara berbeda yang tidak bisa diabaikan. Hanya dua dari 24 ekonom yang disurvei โ€” Sanjay Mathur dari ANZ dan David Sumual dari BCA โ€” memperkirakan kenaikan ke 6,00%, namun keduanya bukan analis sembarangan mengingat rekam jejak membaca arah BI selama ini. Yang lebih agresif, Irman Faiz, Lead Economist Bank Danamon, memproyeksikan BI Rate berpotensi naik hingga 50 basis poin menjadi 6,25% sampai akhir tahun โ€” bukan berarti sekaligus pekan ini, tapi sebagai lintasan sampai Desember. Arfian Prasetya Aji dari Kisi Asset Management menilai sikap BI sudah terlihat hawkish (cenderung ketat) sehingga probabilitas kenaikan tetap terbuka. CORE Indonesia sendiri, lewat ekonomnya, sebelumnya menilai kenaikan bunga bertahap tetap diperlukan sebagai instrumen menjaga stabilitas โ€” pandangan yang menempatkan kredibilitas nilai tukar di atas pertimbangan pertumbuhan kredit jangka pendek.

Yang penting dipahami: apapun keputusan RDG kali ini, efeknya ke dompet masyarakat tidak instan. Bunga KPR mengambang (floating) di sebagian besar bank saat ini berada di kisaran 11%-14% setelah masa promo fixed berakhir, dan transmisi dari BI Rate ke bunga kredit riil biasanya butuh jeda 2-3 kuartal. Jadi keputusan 23 September ini bukan tentang cicilan bulan depan, tapi tentang arah cicilan dan bunga tabungan sampai pertengahan 2027.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu bergantung pada kredit modal kerja dari bank, ini bukan waktu ideal untuk berharap bunga pinjaman turun โ€” data menunjukkan bunga kredit UMKM sudah bertahan di atas 10% dan berpotensi tetap tinggi setidaknya sampai kuartal pertama 2027, apapun hasil RDG kali ini, karena transmisinya lambat. Kalau memungkinkan, mulai dengan modal sendiri atau kredit berbunga rendah seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat, bunga flat 6% dari pemerintah) yang jelas lebih murah dibanding kredit komersial biasa, dan tunda dulu ekspansi yang murni bergantung pada utang bank sampai arah bunga lebih jelas pada akhir tahun.

Sisi baiknya, tren PHK di sektor manufaktur berarti ada peluang di sektor yang justru menyerap tenaga kerja โ€” data menunjukkan sektor jasa sekarang jadi sumber utama penciptaan lapangan kerja baru, bukan lagi industri padat karya. Kalau kamu berpikir soal jenis usaha, layanan dan jasa punya angin yang lebih menguntungkan dibanding manufaktur dalam 6-12 bulan ke depan.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu punya pinjaman dengan bunga mengambang atau sedang butuh pembiayaan modal kerja baru, saatnya melakukan simulasi kasar untuk dua skenario: bunga tetap di kisaran sekarang, dan bunga naik 25-50 basis poin. Jangan menunggu sampai bank menaikkan suku bunga baru bereaksi โ€” hitung dulu berapa tambahan beban cicilan bulanan kalau skenario terburuk terjadi, dan siapkan buffer arus kas untuk itu. Kontraksi kredit modal kerja di level nasional (-4,3%) menunjukkan bank makin selektif, jadi kalau kamu butuh pembiayaan baru, ajukan lebih awal sebelum kondisi makin ketat, bukan menunggu situasi darurat.

Bagi bisnis yang berorientasi impor bahan baku atau punya utang dalam dolar, pelemahan rupiah ke Rp17.700-17.800 berarti biaya sudah naik signifikan dibanding tahun lalu โ€” pertimbangkan mengunci nilai tukar di awal transaksi (hedging) untuk kontrak besar ke depan, alih-alih membiarkan biayamu terekspos penuh pada fluktuasi rupiah yang masih volatil.

Kalau kamu sedang mencicil KPR atau menyimpan uang di bank

Kalau KPR-mu masih dalam masa bunga tetap (fixed), keputusan RDG kali ini belum langsung memengaruhimu โ€” tapi catat kapan masa fixed itu berakhir, karena bunga floating sesudahnya bisa mendarat di 11%-14%, jauh lebih tinggi dari rate promosi di awal. Kalau kamu berencana mengajukan KPR baru, pertimbangkan mempercepat pengajuan sebelum ada kenaikan lanjutan, karena begitu BI Rate naik, bank biasanya menyesuaikan suku bunga penawaran dalam hitungan minggu meski transmisi penuhnya lebih lama. Di sisi lain, kalau kamu punya tabungan atau deposito, level bunga acuan yang tinggi ini justru menguntungkan โ€” bunga deposito ikut naik, jadi ini momen yang relatif baik untuk menyimpan dana darurat dalam instrumen berbunga tetap.

Yang Perlu Dipantau

  • Hasil dan konferensi pers RDG BI pada 23 September 2026 โ€” biasanya diumumkan siang hari, dan yang paling penting dilihat bukan cuma angka BI Rate-nya tapi nada pernyataan Destry Damayanti soal arah kebijakan ke depan.

  • Data inflasi September 2026 dari BPS, rilis awal Oktober โ€” akan menunjukkan apakah tren naik dari Juli-Agustus (2,88% ke 3,19%) berlanjut atau mereda.

  • Pergerakan rupiah pasca-RDG dalam sepekan ke depan, khususnya apakah bertahan di bawah Rp17.800 atau tertekan kembali mendekati Rp18.000.

  • Data cadangan devisa akhir September, rilis awal Oktober, untuk melihat apakah tren penurunan aset bersih luar negeri berlanjut.

  • Sinyal lanjutan dari The Fed menjelang rapat berikutnya akhir Oktober-awal November, mengingat 16 dari 18 pejabatnya masih membuka opsi kenaikan lagi tahun ini.

Penutup

Apapun yang diputuskan Destry Damayanti pada 23 September, satu hal sudah pasti: tidak ada pilihan tanpa biaya di sini. Bertahan di 5,75% menyelamatkan kredit modal kerja yang sudah megap-megap, tapi mempertaruhkan rupiah yang sudah jadi mata uang paling babak belur di Asia. Naik ke 6,00% atau lebih menjaga rupiah dan kredibilitas BI di mata investor asing, tapi menambah beban di pundak UMKM dan pekerja manufaktur yang penciptaan lapangan kerjanya sudah anjlok separuh dalam setahun. Yang bisa kamu lakukan bukan menebak arah RDG, tapi menyiapkan rencana keuanganmu untuk kedua kemungkinan itu sekaligus โ€” karena siapa pun yang menang di meja rapat itu, biaya keputusannya akan sampai ke dompetmu, cepat atau lambat.

Sumber

  • Bank Indonesia โ€” Rilis kebijakan BI-Rate dan target pertumbuhan kredit 2026

  • Badan Pusat Statistik โ€” Rilis inflasi year-on-year Agustus 2026

  • CNBC Indonesia โ€” "The Fed Sudah Mengerek Suku Bunga, Apakah BI Rate Ikutan Naik?"

  • Kompas.com (Money) โ€” "Antisipasi The Fed, BI Rate Diprediksi Naik di September 2026" dan "Menanti Langkah BI Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan"

  • Bisnis.com โ€” "Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG, Senin 21 September 2026" dan "Alarm PHK Sektor Manufaktur Belum Mereda"

  • Buletin Finansial โ€” "Saham BMRI, BBCA, BBRI Kompak Turun Jelang RDG BI 22-23 September"

  • Pluang Akademi โ€” "Outlook BI Rate Pekan Depan September 2026" dan "BI-Rate 5,75%: Dampaknya ke Bunga KPR dan Kredit 2026"

  • Kontan โ€” "Rupiah Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terdalam, Terkoreksi Sepanjang 2026", "Suku Bunga Tinggi, Mampukah Kredit UMKM Melanjutkan Pertumbuhan?"

  • Bloomberg Technoz โ€” "Aliran Modal Asing Tembus Rp141 Triliun Sepanjang 2026, Mayoritas SRBI"

  • Fortune Indonesia โ€” "Cadangan Devisa Juli 2026 Menyusut karena Digerus Utang dan Intervensi Rupiah"

  • Selular.id โ€” "Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Sejumlah PR Ini Sudah Menanti"

  • CNBC โ€” Laporan keputusan FOMC September 2026 dan proyeksi dot plot